Islam dan Seni Rupa
October 28, 2007
–Ini saya copy-paste dari tulisan pak Agung Puspito di http:// art-ysri.or.id–
Islam dan Seni Rupa
Seberapa besarkah pengaruh Islam terhadap kesenian di Indonesia? Ada anggapan, kedatangan Islam di kepulauan Nusantara tak banyak mempengaruhi aspek-aspek kesenian yang ada di negeri ini, kecuali kaligrafi dan arsitektur mesjid.
Pada zaman Islam, saat mayoritas penduduk Indonesia telah memeluk Islam, negeri kepulauan ini seolah-olah tak punya hasil-hasil seni yang mengesankan seperti pada zaman megalitikum, di mana terdapat kebudayaan batu besar yang halus dan keahlian membuat perkakas upacara dari perunggu.
Kesenian juga mencapai reputasi yang mengesankan semasa Hindu-Buddha, ketika penduduk di Jawa dan Bali membangun candi-candi dengan arsitektur yang mengagumkan, yang salah satunya merupakan monumen dunia dan salah satu keajaiban dunia (Candi Borobudur). Lalu, semasa kolonialisme Eropa, orang Belandalah yang memperkenalkan arsitektur yang hingga kini tetap dikagumi, juga memperkenalkan seni lukis Barat yang hingga kini masih populer, yaitu cat minyak di atas kanvas.
Semua itu masih ditambah hambatan yang dialami para seniman Islam sendiri, yang membatasi diri untuk tidak menciptakan karya-karya yang “tak Islami”. Berlawanan dengan paham ekspresi kebebasan yang dianut kebanyakan aliran seni, kesenian yang dianggap Islami justru membatasi diri dalam hal kreasi maupun ekspresinya, misalnya, tak boleh melukiskan figur makhluk hidup, juga tak boleh melukiskan wujud Nabi Muhammad. Akibatnya, banyak orang beranggapan, Islam tak mendukung seni rupa. Mereka mengacu kepada hadis (hadith), salah satu rujukan mengenai sunnah atau prilaku Nabi Muhammad, yang menyebutkan larangan melukis binatang, membuat patung, memotret, dan lain-lain. Walhasil, kita nyaris tak melihat adanya kesenian yang disebut seni rupa Islam, selain kaligrafi arab dan arsitektur mesjid.
Tapi, apakah yang dimaksud dengan kesenian Islam? Apakah Islam itu mengajarkan kesenian, sebagaimana kita dapati dalam Hinduisme, Buddhisme, atau Katolik Roma?
Mari kita berupaya untuk memahami hubungan antara agama dan seni, dan mencoba mencairkan ketegangan yang ada di antara dua wilayah ini. Pertama, tinjauan seputar terminologi. Apakah yang dimaksud dengan seni rupa Islam?
Seni rupa dan Islam adalah dua kategori yang berbeda. Seni rupa, sejauh cakupan makna yang membatasinya, tentu tak akan melampaui wilayah yang lebih besar daripada budaya, karena seni adalah bagian dari kebudayaan manusia. Seni rupa adalah kreasi manusia, yang artinya berasal dari kebebasan manusia untuk berkarya. Islam, berbeda dengan seni, bukanlah kebudayaan yang merupakan hasil kreasi manusia. Islam adalah seperangkat aturan dari Allah yang diturunkan kepada manusia agar ia mencapai keselamatan di dunia dan akhirat. Karena Islam bukan kebudayaan, maka yang disebut “kesenian Islam” tentunya tidak mengacu kepada jenis budaya tertentu yang bersifat lokal atau etnik, seperti kesenian Bali (contohnya, lukisan Bali) atau kesenian Timur Tengah (semisal orkes gambus). Yang dinamakan kesenian Islam tentunya kesenian yang setidaknya tidak mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan akidah maupun akhlak Islam. Kesenian ini bisa berupa apa saja sesuai konteks geokultural tempat kesenian itu berasal, juga sesuai komunitas pendukungnya (tradisional, modern, atau kontemporer). Dia bisa berupa kesenian lokal seperti lukisan kaca khas Cirebon atau pun instalasi karya alumni perguruan tinggi seni.
Karena Islam bukanlah entitas budaya tertentu, akan lebih tepat bila menjelaskan kesenian yang dimaksud secara ajektifal yaitu sebagai “kesenian yang islami”. Kesenian yang dimaksud mengandung –atau setidaknya tak menyalahi– nilai-nilai Islam, meski tak berasal dari etnik atau komunitas yang berafiliasi dengan agama Islam. Tari perut, meski berasal dari daerah berpenduduk muslim di Timur Tengah, bukanlah kesenian yang islami karena bertentangan dengan nilai-nilai akhlak Islam.
Sebaliknya, ketika kita melihat karya-karya sketsa Romo Mudji Sutrisno (lahir 1955), seorang pastur yang selain menulis juga mulai menggeluti bidang seni rupa, mereka justru tampak islami sesuai penafsiran tertentu mengenai seni rupa Islam. Dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini menggelar pameran sketsanya pada pertengahan hingga akhir Januari 2007 dengan tema Dimensi Estetika Mudji Sutrisno. Digelar di Galeri Nasional Indonesia, pameran menampilkan sekitar 180-an sketsa tentang gereja-gereja di Eropa Selatan dan Rusia. Peraih gelar PhD dari Universitas Gregoriana, Roma (1986) ini banyak menampilkan bangunan-bangunan gereja dan lingkungan alam di sekelilingnya, tanpa menghadirkan figur manusia apalagi figur telanjang yang biasanya banyak menghiasi bangunan-bangunan ibadah bersejarah di Eropa. Dalam pandangannya tentang estetika, Mudji menyebutkan bahwa meskipun pada masa kekuasaan Islam (kekhalifahan di Suriah abad ke-7 M) masih ada sikap saling menerima antara umat Islam dan Kristen, di kalangan umat Kristiani berkembanglah perasaan malu dengan begitu banyak ikon dan gambar di gereja-gereja dan tempat-tempat umum lainnya. Selain itu, seperti termuat dalam buku Estetika, Filsafat Keindahan karya Dr Fx Mudji Sutrisno dan Prof Dr Christ Verhaak (Yogyakarta 1993), ada rasa curiga di kalangan tertentu dalam umat Kristen sendiri terhadap penghormatan ikon dan patung Kristus seakan-akan “keilahian-Nya kurang diakui”. Kelompok yang melawan ikon-ikon suatu saat didukung oleh kaisar, lalu terjadilah ikonoklasme atau penghancuran ikon besar-besaran.
Sejarah Kristen mengenal iconoclasm, ‘penghancuran ikon’ yaitu suatu doktrin tertentu pada abad ke-8 dan ke-9 yang melarang segala bentuk penggambaran material dalam agama Kristen. Asal mula gerakan yang menentang pemujaan terhadap imaji (images) disebut-sebut sebagai akibat pengaruh dari agama Islam yang pada masa itu memang melarang semua gambar maupun patung berbentuk manusia. Namun, sesungguhnya di kalangan Kristen sendiri telah muncul ketidaksukaan terhadap imaji orang-orang suci yang ditakutkan bakal dipuja sebagai berhala. Sekte Paulicians dalam doktrinnya mengatakan bahwa bentuk-bentuk agama secara eksternal, sakramen, ritus, benda keramat, harus dimusnahkan. Mereka juga melarang penghormatan kepada salib, karena (sebagaimana dipercaya umat Islam), Yesus tak pernah disalib (Lihat situs Catholic Encyclopedia di www. newadvent. org).
Tapi, benarkah Islam melarang penggambaran manusia? Pertanyaan ini mengantarkan kita kepada tinjauan seni berdasarkan syariat (hukum Islam). Kontroversi tentang larangan membuat gambar, patung, atau fotografi yang melanda hampir di seluruh dunia muslim, sebetulnya berpangkal dari penafsiran terhadap larangan yang dimaksud. Jika para ulama dan penulis muslim tampak sependapat dalam satu hal, yaitu tentang adanya beberapa hadis yang melarang penciptaan sesuatu (gambar atau patung), mereka tidak menyebutkan adanya larangan yang sama yang berasal dari ayat Al-Quran –kitab suci yang wajib diimani sebagi pegangan sekaligus pelajaran bagi orang beriman.
Hadith atau hadis adalah catatan para sahabat mengenai sunnah atau prilaku Nabi Muhammad Rasulullah –sebagai figur terbaik yang mencontohkan bagaimana keislaman itu sebaiknya dipraktikkan. Tapi, hadis sendiri bukan sunnah. Hadis adalah data-data tertulis yang perlu diperlakukan secara kritis sebagaimana kita memperlakukan data-data tekstual dalam buku-buku sejarah, yang berguna untuk mengetahui sunnah Nabi yang sesungguhnya. Bahkan, di kalangan ulama banyak yang berpendapat tentang tidak kafirnya seseorang yang mengingkari hadis (lihat Ezzedin Ibrahim, 2005, 40 Hadits Qudsi Pilihan, Diterjemahkan oleh M Quraish Shihab). Hadis dapat diterima sejauh itu sahih dan memiliki basisnya dalam Quran.
Di sini Quran, yang mengklaim kitab ini sebagai “batu ujian” atau koreksi bagi ajaran-ajaran wahyu sebelumnya dari penyimpangan akibat tangan-tangan tak bertanggung jawab, memang tak menyebut larangan mengenai penciptaan imaji makhluk hidup berupa potret atau karya lainnya. Kitab ini malah menuturkan bahwa Nabi Sulaiman, salah seorang pembawa risalah monoteistik, mencipta banyak patung dengan perantaraan pasukan jin di bawah kepemimpinannya (Quran Surah 34: 13).
Pandangan bahwa Islam melarang seni rupa adalah tafsiran sebagian orang Islam. Dan pandangan ini, menurut penulis Pakistan Sehzad Saleem justru tidak konsisten dengan Islam sendiri. Saleem mengingatkan, hanya kitab suci Al-Quran yang melarang segala sesuatu dalam Islam. Menurutnya, kebanyakan hadis mengenai larangan membuat patung atau gambar memiliki redaksi sebagai berikut, “Barang siapa membuat gambar seperti ini …, ” yang berarti mengacu kepada bentuk tertentu secara spesifik, dan tak menyebut semua jenis imaji (lihat Agung Puspito, 2005. “Nuditas, Seni Rupa, dan Agama, ” dalam Buletin Citta YSRI Edisi IX).
Sayangnya, di antara kebanyakan kitab hadis, seperti yang ada di Indonesia, kita tak punya catatan mengenai gambar atau imaji seperti apa yang dimaksud. Kebanyakan hadis tidak membedakan antara gambar yang dua dimensional dan patung yang tiga dimensi. Keduanya disebut shūroĥ (plural, shuwar). Bacalah hadis yang disahihkan oleh Bukhari di bawah ini, yang diriwayatkan oleh ‘Aiŝah istri Nabi,
Dari ‘Aiŝah ra, “Saya membeli sebuah bantal yang bergambar-gambar. Nabi saw berdiri saja di pintu, tidak mau masuk ke dalam. Lalu kata saya, ‘Saya bertobat kepada Allah seandainya saya salah. ’
Nabi berkata, ‘Untuk apa bantal itu?’
Jawab saya, ‘Supaya Anda duduk dan bersandar di situ. ’
Sabda beliau, ‘Sesungguhnya orang yang membuat gambar semacam ini akan disiksa pada hari kiamat, dikatakan kepadanya, hidupkanlah apa yang kau buat itu! Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di situ ada gambar (shūroĥ). ’”
Dalam hadis ini sebetulnya penerjemah (H Zainuddin Hamidy dkk, Terjemah Hadis Shahih Bukhari Jilid IV, Jakarta, 1982) mengartikan shūroĥ sebagai ‘gambar hewan’, tapi penulis Art-ysri menggunakan arti yang lebih umum, ‘gambar’ saja. Pasalnya, pencatat hadis tak mencandra secara detil gambar apa yang terdapat pada bantal ‘Aiŝah. Beberapa hadis memang tak menyertakan unsur penting berupa deskripsi menyangkut gambar yang dimaksud.
Adapun shūroĥ dalam bahasa arab modern tampaknya memiliki makna yang luas, sehingga mencakup patung dan fotografi. Istilah ini sepadan dengan bahasa Inggris image, yang salah satu artinya adalah ‘imitasi dari bentuk eksternal suatu objek, misalnya, objek pemujaan’ (lihat edisi paperback The Pocket Oxford Dictionary, 1984).
Maka, menurut Sehzad Saleem, dengan mengumpulkan hadis-hadis mengenai pencitraan makhluk hidup didapatkan gambaran bahwa larangan itu mengacu kepada pencitraan dalam kategori tertentu yang memperoleh status berhala (idols) dan dipuja sebagai berhala. Praktik pemujaan seperti ini merajalela pada awal berkembangnya Islam. Bahkan, interior kaabah pada zaman Nabi pernah diisi berbagai patung yang disembah penduduk di Semenanjung Arabia. Di antaranya, terdapat gambar para nabi dan orang suci seperti Ibrahim, Isa, dan ibunda Isa Maria.
Saleem menyimpulkan, larangan pembuatan imaji yang dimaksud bukan lantaran kejahatan intrinsik yang ada padanya, melainkan karena sumbangsihnya terhadap praktik politeistik (muŝrik) masyarakat pada awal kehadiran Islam, dan karena hal itu bisa membangkitkan sentimen-sentimen dasar (termasuk nafsu syahwat) dalam diri seseorang.
Senada dengan Saleem, penulis Sejarah Kesenian Islam C Israr (Jakarta, 1978) menyebutkan terjadinya kontroversi dalam soal seni rupa juga disebabkan oleh tiadanya batasan yang tegas tentang boleh tidaknya kesenian itu. Ia berpendapat bahwa boleh tidaknya melukis dan mematung perlu dilihat dari semangat larangan tersebut. Menurutnya, larangan melukiskan bentuk makhluk bernyawa, pada awal lahirnya agama Islam, memang perlu jika dipandang dari segi tauhid. Sebab, ketika Nabi masih hidup, di Mekah masih bertaburan puing-puing bekas reruntuhan arca sesembahan nenek moyang bangsa Arab. Jika semua berhala itu tidak dihancurkan, jika seni patung itu dibiarkan berkembang, akan tumbuh tunas baru dari kepercayaan lama yang akan menggoyahkan sendi-sendi tauhid mereka yang baru memeluk Islam. Tapi, lanjut Israr, “Ketika hakikat tauhid telah mendarah daging dalam tubuh umat Islam dan mereka tahu patung-patung itu tak sanggup berbuat apa pun, maka tidak ada alasan bahwa kepercayaan yang telah terkubur itu akan hidup kembali di tengah-tengah keyakinan umat Islam yang telah maju. ”
Sebetulnya kontroversi seputar masalah itu telah dituntaskan di Indonesia, setidaknya sejak periode ketika Buya Hamka menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia. Seperti disebutkan cendekiawan (alm) Nurcholish Madjid, dalam ceramahnya mengenai Estetika di Yayasan Paramadina (1996), Hamka telah mengeluarkan fatwa tentang dibolehkannya pembuatan patung.
“Kecuali, di Yogyakarta, ” tambah Nurcholish, menyebutkan bahwa suatu saat Hamka melihat orang melakukan praktik pemujaan berhala terhadap patung Jenderal Sudirman di Yogyakarta. Rupanya, patung pahlawan nasional yang juga seorang mujahid itu masih dikultuskan orang dengan memberi sesajen dan rangkaian bunga di tubuhnya.
Di sinilah kita menemukan divergensi antara seni dan berhala. Penulis akan terlebih dulu memusatkan perhatian pada persoalan berhala.
Idols atau berhala adalah sosok ciptaan manusia yang dipuja sebagaimana manusia memuja Tuhan. Para penyembah berhala (dalam bahasa Inggris disebut pagan) membuat patung berhala yang mereka puja secara rutin, sambil memberinya persembahan berupa sesajian atau pun korban. Praktik inilah yang dilarang agama, yang di dalam Quran disebut al-anshob,
Hai orang-orang beriman, sesungguhnya (minum) khamar (minuman keras), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji di antara amal-amal syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu supaya kamu memperoleh keberuntungan {QS 5: 90}.
Berhala pada masa awal kehadiran Islam di Tanah Arab mengacu pada patung-patung (kebanyakan berujud wanita) dengan nama-nama seperti Latta, Manna, Uza, dan lain-lain. Orang Arab jahiliyah memuja mereka dan menyisihkan sebagian rezeki hasil usaha mereka untuk berhala-berhala ini. Mereka dapat dikenali lewat penampilan fisik mereka yang ciri-cirinya (ikonografinya) tidak kita ketahui sejauh tak ada hadis atau data sejarah yang mendeskripsikannya.
Yang jelas, imaji berupa patung maupun gambar berhala-berhala itu telah popular di kalangan Arab jahiliyah, sehingga penulis Sehzad Saleem menyebutkan larangan pembuatan imaji yang dimaksud seperti yang terdapat dalam beberapa hadis adalah yang terkait dengan wujud fisik berhala-berhala ini. Persoalannya, ayat-ayat Quran tak berlaku hanya untuk masa lalu. Quran diturunkan untuk menjawab semua persoalan dan mengabarkan hal-hal penting semasa Nabi hidup, pada zaman sekarang ketika Nabi telah wafat, dan untuk masa yang akan datang yang belum tentu kita masih hidup. Yang dimaksud dengan berhala (al-anshob) tentunya bukanlah imaji atau patung yang memiliki karakteristik fisik seperti dimiliki Latta, Uza, dan lain-lain, melainkan pada hakikatnya sesuatu (atau seseorang) yang dipuja manusia sebagaimana ia memuja Tuhan.
Berhala adalah sesuatu atau seseorang yang berpotensi membuat Anda memuja atau menyembahnya sebagaimana orang beriman menyembah Tuhan (misalnya dengan melakukan ritual-ritual tertentu). Berhala adalah sesuatu atau seseorang yang membuat Anda rela mengorbankan sebagian atau seluruh hidup Anda demi dia, sesuatu atau seseorang yang membuat Anda rela mati demi dia; termasuk, berperang demi dia.
Adapun praktik pemujaan atau pengorbanan yang dimaksud menjadi bermakna ŝirk (menduakan Tuhan) apabila dilakukan oleh seseorang yang telah beriman kepada Tuhan; suatu dosa yang tak terampuni kecuali kita bertobat sebelum maut menjemput.
Padahal, Allah adalah Pribadi yang posesif dan kepemilikan-Nya itu mutlak. Di tangan-Nya tergenggam hidup dan mati setiap creatures (padanan Inggris untuk makhluk, ciptaan) di alam semesta. Karenanya, jika orang melakukan sesuatu tidak demi Dia, ia telah berbuat sia-sia. Dan, jika perbuatan demi berhala itu dilakukan oleh orang yang beriman, Allah jelas akan murka kepadanya.
Adapun pandangan Islam terhadap seni sama seperti pandangannya terhadap aktivitas kebudayaan manusia lainnya. Setiap muslim menerima ajaran bahwa manusia tidak diciptakan kecuali untuk beribadah (mengabdi) kepada Allah (QS 51: 56). Namun, ilmu fiqh (kodifikasi hukum Islam hasil ijtihad manusia) mengenal upaya penafsiran terhadap hal-hal yang tidak dirinci dalam Al-Quran. Para fuqoha (ahli fikih), misalnya, telah berijtihad untuk membedakan antara ibadah ‘ubudiyah dan ibadah muamalah.
Yang pertama, ibadah ubudiyah, mengacu pada ibadah yang telah pasti dalilnya dalam Quran, sehingga tidak memerlukan penyesuaian atau perubahan sesuai kondisi zaman. Ibadah ubudiyah contohnya berupa kewajiban ritual seperti salat, zakat, puasa, berkurban pada hari ‘Idul Adha, dan pergi haji; dalam bentuk larangan, ubudiyah mencakup larangan mengabdi berhala, membunuh orang tanpa alasan yang haq (benar), berjudi, mengundi nasib dengan panah, makan babi dan lain-lain. Bobot aktivitas ibadah ini adalah wajib, yang berarti semua hal di luar aturan ibadah adalah haram atau terlarang, kecuali bila ada dalil atau nash (aturan tekstual) yang menghalalkannya.
Salat, puasa bukanlah aktivitas kebudayaan yang berasal dari kebebasan berkreasi manusia. Karenanya, ibadah-ibadah itu tak memerlukan pembaruan atau modifikasi. Setiap usaha modifikasi dinilai sebagai bid-ah, dan hal itu terlarang.
Adapun ibadah muamalah merujuk pada nash yang termaktub secara garis besar dalam Al-Quran yang tidak dirinci lebih jauh, sehingga membuka peluang penafsiran yang luas bagi para fuqoha. Di sini berlakulah prinsip umum bahwa segala bentuk muamalah dibolehkan (halal), sepanjang tidak dijumpai dalil yang mengharamkannya. Umumnya, muamalah mencakup hubungan antara sesama manusia sehingga cenderung bersifat sosial-kemasyarakatan. Di sinilah ibadah kepada Allah berkonvergensi dengan kebudayaan manusia yang berbeda-beda sesuai wilayah kultural.
Perdagangan, misalnya, merupakan muamalah yang halal dan bernilai ibadah sesuai motivasi pelakunya. Artinya, pelaku perdagangan dengan motif lillahi ta’ala (demi Allah semata-mata) dijanjikan menerima reward berupa pahala. Allah hanya melarang praktik riba yang merupakan suatu dalil yang mengharamkan praktik jual-beli tersebut. Jadi, bagaimana dengan praktik seni?
Seni, tak terkecuali, merupakan bagian dari aktivitas muamalah, dengan segala konsekuensi hukum yang menyertainya (seni itu boleh sepanjang tak ada dalil yang melarang). Ia bukan ibadah ubudiyah yang dirumuskan dalam dalil, semua haram kecuali bila ada nash yang membolehkannya. Seni bukanlah semacam ritual seperti salat dengan aturan-aturan yang telah pasti.
Hal ini diakui pula oleh Zaenuddin Ramli, akademisi seni rupa asal Bandung, saat menyampaikan makalahnya dalam sebuah acara seminar yang digelar Galeri Nasional Indonesia, 11—12 Juli lalu. Baginya, seni dalam Islam itu “muamalah, dan (dengan demikian) berubah, transformatif. ”
Zaenuddin mengangkat makalahnya mengenai Festival Istiqlal I (1991) dan Festival Istiqlal II (1995) yang mencoba mengingatkan orang tentang adanya gagasan baru mengenai “seni Islam” yang bukan cuma berupa arabesk (dekorasi dan kaligrafi arab) atau lukisan abstrak, tapi pun karya-karya bermuatan sosial-politik.
Beberapa tahun terakhir ini muncul pula arus pemikiran seni di Indonesia yang berupaya untuk mendobrak dominasi pemikiran Eropa dan Amerika (Barat). Alih-alih mengakui kemajemukan yang menjiwai semangat zaman abad ini, Barat dinilai hanya mengakui satu penafsiran tentang seni (yaitu seni menurut kaca mata Barat). Salah seorang tokoh yang menonjol dalam pemikiran ini adalah kritikus seni Jim Supangkat, yang juga menyebut dirinya “kurator independen”.
Jim berpendapat, penyusunan sejarah seni rupa di Asia, yaitu gejala yang muncul pada awal dekade 1990, merupakan kelanjutan arus besar pemikiran yang bertumpu pada pluralisme dan kesadaran tentang kebedaan. Arus besar ini, yang menjadi dasar berkembangnya seni rupa kontemporer, menentang ketunggalan sejarah seni rupa modern –sebuah sejarah yang didominasi susunan sejarah Eropa dan Amerika.
Menurut Jim, penyusunan sejarah seni rupa lebih mengandalkan pencatatan peristiwa-peristiwa terutama yang terjadi pada abad ke-20. Kecenderungan ini membuat persoalan seni rupa, pada sejarah seni rupa yang disusun, menjadi berjarak dari nilai-nilai budaya.
“Pendekatan sejarah ini tidak (belum) mengikutkan pendekatan lain. Setelah pendekatan sejarah berlangsung selama 10 tahun lebih, belum ada tanda-tanda upaya untuk mengangkat pertanyaan ‘apakah seni rupa’ melalui sejarah seni rupa yang disusun berdasarkan tanda-tanda lokal, ” demikian Jim memaparkan dalam “Pertanyaan Apakah Seni Rupa, ” Visual Arts, # 11, Februari/Maret 2006.
Betapa pun, kita tak dapat menghilangkan unsur agama, sesuatu yang dipercaya sebagai hal yang universal, ketika mempelajari aspek-aspek kebudayaan lokal. Ini sebagaimana disitir Quran mengenai universalitas manusia, antara lain melalui seruan-seruannya, “Wahai anak-anak Adam” (manusia). Bahkan antropologi, seperti yang diperkenalkan antropolog (juga politisi) S Budhisantoso, mengenal “tujuh unsur budaya universal”, yaitu bahasa, organisasi sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, dan religi.
Contoh mengenai tak terpisahkannya aspek-aspek lokal sebagai bagian dari keseluruhan yang bersifat universal dapat dilihat lewat profil Hanafi (lahir 1960). Ia adalah seorang perupa Indonesia yang, seperti diungkapkan kurator Jim Supangkat, mempertegas perbedaan antara lukisan abstrak Barat (Eropa dan Amerika) dan abstrakisme khas Indonesia. Hanafi punya kecenderungan untuk menampilkan gambaran pada lukisan-lukisannya, sesuatu yang coba dihilangkan dalam lukisan-lukisan abstrak Barat.
Ciri abstrakisme Hanafi, yang tak berbeda dengan abstrak Barat, adalah spontanitasnya dalam berkarya. Tapi, perupa kelahiran Purworejo ini merupakan salah satu dari sedikit perupa Indonesia yang melukis menggunakan perangkat ketaksadarannya. “Kalau dihitung-hitung, saat melukis lebih banyak menggunakan ketaksadaran daripada kesadaran, ” tutur Hanafi menjelaskan proses kreasinya.
“Tentu saja saya dengan sadar mengambil cat. Tapi, kebanyakan karya saya boleh dibilang berasal dari alam bawah sadar. Sebab, melukis bagi saya tak ada tujuan. ”
Apa sebetulnya yang ia maksud dengan “ketaksadaran”? Tampaknya kita memang memerlukan pendekatan psikologis untuk membaca Hanafi. Jim Supangkat menunjukkan bahwa Hanafi lebih mengandalkan energi yang muncul tiba-tiba saat ia menghadapi kanvas. Menurutnya, cara kerja Hanafi muncul dari ketaksadaran yang lebih mencerminkan sifat kerja id dalam konsep Sigmund Freud mengenai karakteristik metode berpikir proses primer dan sekunder.
Jim melihat id sebagai bagian dari psike yang memiliki kemampuan untuk melahirkan tingkah laku kreatif. “Id yang produktif ini merupakan hasil proses kreatif, proses yang memunculkan orde tersembunyi dari bawah sadar manusia, ” papar Jim selaku kurator Pameran Tunggal Hanafi bertajuk Id yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia (2006).
“Saya lebih percaya kepada apa yang terjadi dengan sendirinya ketimbang apa yang dijadikan oleh seorang arsitek atau seniman. Kesenian tak mengenal hukum-hukum konstruksi, ” kata Hanafi sambil menunjuk ke lukisan air brush-nya berjudul Neon Yang Tak Bisa Tidur (2006). “Dalam lukisan saya bisa menempatkan neon tanpa alat bantu konstruksi, ini karena saya lebih didominasi alam bawah sadar. ”
Bagaimana menjelaskan hal ini lewat pendekatan Freudian? Id menurut Freud merupakan salah satu dari tiga sistem dalam hidup psikis, bersama-sama ego, dan superego. Dr K Bertens dalam Memperkenalkan Psikoanalisa Sigmund Freud mengulas id sebagai lapisan psikis paling mendasar, tempat bersemayamnya naluri-naluri seksual, agresivitas, dan keinginan-keinginan yang direpresi. Disebutkan bahwa id tak terpengaruh oleh kontrol pihak ego dan prinsip realitas. Id tak mengenal waktu maupun hukum-hukum logika.
Tapi, kreasi seni di tangan Hanafi tampaknya bukanlah sekadar pengalihan naluri-naluri profan dalam bentuk –menurut istilah Freud– sublimasi. Lulusan Sekolah Seni Rupa Indonesia ini punya keinginan kuat akan kejelasan makna, tepatnya, makna yang positif, yang ditunjukkan antara lain lewat kecenderungannya menampilkan angka-angka dan tanda baca tertentu dalam lukisannya.
“Saya sedang berusaha mencari ketepatan dalam sebuah komposisi yang sangat matematik karena angka bukan sesuatu yang asing. Angka ada di mana-mana, di meteran tarif taksi, di ponsel, ” kata Hanafi yang pernah mengadakan pameran tunggal di Barcelona, Spanyol (2003).
“Sedangkan tanda (+) berarti positive thinking. Ia merupakan harapan, suatu energi positif yang dibangun dari prasangka baik kepada setiap apa yang tejadi pada kita. Membuat kita tak gamang, tak mencurigai segala sesuatu, ” lanjutnya menerangkan tanda-tanda (+) yang banyak dijumpai pada karya lukisnya.
Seperti diuraikan Jim, Hanafi berusaha menyelesaikan masalah secara struktural. Ia mengatasi persoalan secara keseluruhan bukan secara parsial. “Ada usaha untuk memunculkan sebuah tatanan baru, walaupun ia tidak merasa mengarahkan karyanya untuk membentuk sebuah tatanan yang pre-ordained (bertujuan), ” Jim menambahkan.
Sebuah tatanan (orde) niscaya menunjukkan prinsip keseimbangan, yang secara sadar atau tak sadar sesungguhnya diidamkan oleh manusia. Menurut kosmologi yang islami, yang menyertakan campur tangan Tuhan, alam semesta dicipta menurut prinsip keseimbangan, meski untuk menjaga hal itu ia perlu melalui proses penghancuran (kematian) dan pemulihan.
Bintang dan planet-planet beredar menurut orbitnya dan tak pernah saling menabrak, tapi sebagian benda alam itu harus menemui ajalnya, hancur menjadi debu kosmik. Alam dicipta menurut hukum keseimbangan tertentu sehingga manusia mungkin untuk mempelajarinya.
Manusia mengandung unsur-unsur bumi yang menjadikannya bagian dari alam dan tak kebal terhadap hukum-hukum alam. Psikolog analitis asal Swiss yang pernah belajar kepada (tapi kemudian berseberangan dengan) Freud, Karl Gustav Jung (1875–1961), mengajukan ketunggalan seluruh umat manusia, bahwa mereka adalah genus yang satu dan mewarisi apa yang ia sebut sebagai “alam tak sadar kolektif”.
Seperti diungkapkan dalam Memperkenalkan Psikologi Analitis, pendekatan terhadap Ketaksadaran (Jakarta, Gramedia, 1986), Jung menunjukkan adanya suatu alam tak-sadar yang lebih dalam dari ketaksadaran pribadi, yang bersifat kolektif, sebab dimiliki oleh seluruh bangsa manusia dan terdapat pada segala kebudayaan di dunia ini. Jung mengajukan arketipe sebagai inti atom psikis dari alam tak sadar. Arketipe merupakan pola-pola apriori yang memberi ketentuan terhadap isi material yang bersifat instinktif atau genetik. Arketipe bersifat universal dan selalu terdapat pada manusia secara potensial.
Tapi, para perupa tidak akan menjelaskan hal ini lewat kata-kata. Untuk menunjukkan universalitas manusia, mereka cenderung melukis figur berkepala gundul yang tak berasosiasi dengan kebudayaan mana pun. Perupa kontemporer asal Cina yang pernah berpameran di Indonesia, Xue Jiye, melukiskan orang-orang berkepala plontos terlibat dalam perkelahian massal.
Menjuduli karya itu Bodyfight, Xue seakan mengamini konsep arketipe Jung, yaitu tentang keberadaan potensi-potensi bawah sadar yang dapat disamakan dengan naluri-naluri purba yang dimiliki manusia secara kolektif. Salah satunya, naluri untuk berkelahi atau berperang. “Yang namanya perang itu kan bisa terjadi kapan pun dan di mana pun, ” ujar Xue suatu ketika.
Hanafi, tak terkecuali, punya kecenderungan untuk mengidentifikasi diri sebagai bagian dari keseluruhan, sedangkan keseluruhan itu tunggal (universal). Meskipun berkarya “tanpa tujuan”, ia berusaha mencipta tatanan baru, bergerak ke arah keseimbangan yang khas alam semesta dan telah mewarnai ketaksadarannya.
Hanafi tak membiarkan id-nya bergerak liar tanpa menyertakan kerja ego-nya. Justru di bawah ego –atau psike yang sadar menurut definisi Jung– seorang individu menemukan ketaksadaran yang sebenarnya, yang telah melalui pertemuan atau dialog dengan realitas spiritual. Ketaksadaran ini lebih lengkap ketimbang sekadar naluri-naluri seksual yang mendasari id Freudian.
Dalam kasus Hanafi, ketaksadaran ini mencakup kebutuhan akan makna, akurasi angka dan data, penghormatan kepada orang tua (terutama ibu), optimisme, kerinduan akan harmoni dan perbaikan (sebagai lawan dari kerusakan), dan sikap pasrah terhadap ketentuan ilahiah.
Mungkin Jung benar ketika menyebutkan tubuh manusia merupakan museum ogan-organ tubuh dengan sejarah evolusi yang panjang, dengan psike (jiwa) masih erat dengan psike binatang. Namun, manusia tak melulu terdiri dari sekumpulan bahan asal planet biru ini. Kitab suci –salah satu rujukan penting yang patut dijadikan hipotesis seperti klaim-klaim ilmiah lainnya– menyebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dari tanah liat, lalu meniupkan ruh-Nya ke dalam diri manusia (Quran Surah 15: 28-29).
Demikianlah, psikologi yang islami akan membedakan manusia dengan makhluk lain di dunia dalam segi ruhani. Hanya manusia yang memiliki unsur ruh yang bersifat kekal. Jasad manusia boleh hancur bersama tanah, tapi ruhnya akan tetap abadi dan berkelanjutan di kehidupan akhirat. Di sini, hanya individu yang telah mengalami pencerahan belaka yang mampu mengarahkan naluri-naluri purba sejalan dengan nilai-nilai spiritual yang menunjukkan keberadaan Sang Pencipta. Sebagai seorang muslim, Hanafi akan menyebut pencerahan sebagai hidayah, suatu petunjuk untuk mengaktifkan unsur spiritual yang telah menyertai kehadirannya di dunia agar sesuai dengan kehendak Tuhan.
Unsur spirituallah yang berkembang bersama intelijensia seseorang, suatu bentuk kesadaran yang bahkan dipergunakan dalam proses kreasi seorang perupa ketika mencipta karya abstrak sekalipun. Diakui atau tidak, intelijensialah yang menundukkan naluri-naluri purba Hanafi sehingga ia mampu menghadirkan kejelasan makna dalam karya-karyanya.
Sementara itu, perkembangan seni rupa kontemporer semakin memperlihatkan adanya keberagaman tema maupun media. Keberagaman karya itu dinilai menggembirakan, sehinga kurator Galeri Lontar Asikin Hasan pun memujinya. “Cakupan seni rupa makin melebar, bukan cuma lukisan, tapi ada instalasi, video, dan lain-lain, ” ujar kurator yang banyak mengkurasi seni rupa kontemporer ini.
Asikin bicara soal New Media Art (Seni Media Baru), sebuah diskursus sosial di Barat yang kemudian populer menjadi gerakan seni dengan karakternya yaitu menggabungkan elemen-elemen teknologi dan unsur-unsur seni. Di sini teknologi media, termasuk teknologi informasi, merupakan lahan subur tempat berseminya benih-benih gerakan ini. Munculnya televisi, video, komputer, internet, games, dan telepon seluler beserta fasilitas teks dan image-nya membawa perubahan sosiokultural masyarakat.
Betapa tidak. Teve semula dianggap sebagai alat propaganda di mana para penguasa berbicara satu arah. Ketika muncul teve-teve swasta, giliran pengusaha mencekoki konsumen dengan produk-produknya (yang juga menentukan eksistensi siaran edukatif-intelektualnya). Lalu, penyanyi dangdut berjoget erotis ditonton para pemuda tanggung.
Teknologi informasi juga membawa perubahan yang tidak kecil. Internet, misalnya, memudahkan orang mengakses berbagai informasi pengetahuan ketimbang mencarinya di perpustakaan pusat kota dengan waktu berkunjung yang terbatas (ditambah dengan kemacetan di jalan). Tapi, sisi negatifnya, media yang sama menyediakan jutaan images yang seakan tak menyisakan ruang lagi bagi fantasi seseorang (termasuk fantasi seksual), yang bisa membuatnya ketagihan mengarungi jagat maya (surfing).
Demikianlah, seni media baru mengemuka dengan ciri-cirinya seperti terbuka, interaktif, permisif, dan terkadang tampak main-main sebagai suatu diversi atau hobi. Perupa Krisna Murti menyebutkan, karena teknologi mutakhir dimanfaatkan oleh siapa pun, pekerja media baru ini datang dari wilayah yang beragam: seni rupa, sinematografi, ilmu komunikasi, antropologi, arsitektur, seni pertunjukan, teknologi, multimedia, hingga otodidak. Kelihatannya, mereka merasa berhak menciptakan karya seni sesuai pengenalan mereka terhadap medium yang mereka akrabi sehari-hari.
Sebagaimana layaknya studi wilayah yang merupakan kajian antardisiplin ilmu (sejarah, sosial, budaya, bahasa, sastra, dan lain-lain yang terdapat di wilayah atau negara tertentu), cakupan seni rupa kini mencakup bidang-bidang beragam seperti multimedia (termasuk video dan internet), crafts (kriya), fotografi, arsitektur, billboards iklan di jalan-jalan, grafiti di dinding-dinding ruang kota, daur ulang barang-barang bekas, display dan interior di pusat-pusat perbelanjaan, serta –seperti ditambahkan dosen seni rupa ITB Mamannoor– seni rupa fiber dan hologram. Toh, bidang-bidang (atau disiplin ilmu) yang partikular itu tak dapat dipisahkan dari yang universal.
Di sini, para praktisi seni media baru Indonesia terbukti mampu menunjukkan prestasi yang prestisius, setidaknya di tingkat regional dalam Asean New Media Art Competition (Februari 2007). Seperti diumumkan ketua Dewan Juri Prof Edward Cabagnot dari Filipina, dari enam Pemenang Pertama Kompetisi Seni Media Baru Asean, tiga orang berasal dari Indonesia. Mereka adalah Maulana Muhammad Pasha, dengan karyanya berjudul, Endless Road; Ari Satria Darma, dengan karya film pendeknya berjudul Iqra’ (2005); dan Muhammad Akbar, dengan karyanya Young Tourist from the Near Countries (2006), juga dalam kategori Moving Image.
Karya Maulana yang alumnus Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) dalam kategori Moving Image ini menampilkan film berdurasi enam menit 10 detik tentang penelusuran gang-gang sempit di ibu kota untuk mencari sebuah taman kanak-kanak. Film pendek ini terbukti pantas menyandang gelar juara dalam kompetisi seni media baru tingkat Asean yang diikuti para seniman, praktisi media, pelajar dan mahasiswa, peneliti muda teknologi, dan komunitas seni dari seluruh kawasan Asia Tenggara.
Sedangkan Ari Satria Darma melontarkan ide menggelitik dalam karyanya Iqra’, bagaimana seandainya huruf-huruf menghilang dari peradaban manusia? Dengan cermat alumnus Institut Kesenian Jakarta ini melenyapkan secara berangsur huruf-huruf yang semula tedapat di tempat-tempat umum, marka-marka jalan, dan toko-toko.
Adapun Muhammad Akbar, alumnus IISIP, menampilkan ekspresi para remaja –tampaknya remaja Indonesia– yang secara bergantian diberi label “negara asal” mereka masing-masing, yaitu negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Akbar tampak ingin menyampaikan pentingnya komunikasi dan mekanisme saling mengenal. Lihat saja, profil wajah penduduk di negara-negara di kawasan Asia Tenggara nyaris tak ada bedanya satu sama lain. Hanya dengan saling menyapa –berbicara satu sama lain– kita dapat mengetahui identitas masing-masing. Dan bukankah manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya saling mengenal (Quran S 49: 13)?
Maka, jika ketunggalan sejarah seni yang didominasi Barat itu sulit diterima, kesamaan makna hakiki seni seperti yang dipersepsi seluruh manusia dari berbagai wilayah budaya akan lebih masuk akal. Pada hakikatnya, seni mengaktualisasikan potensi seni yang secara universal dimiliki seluruh manusia. Potensi yang dimaksud cenderung akan keindahan, yaitu hal-hal yang bila dipersepsi secara indrawi dapat memberikan kenikmatan psikis maupun spiritual. Di sini, penulis menilai bahwa keindahan adalah salah satu aspek penting dari akhlak (moral).
Wilayah akhlak tak hanya berbicara soal baik dan buruk. Akhlak bahkan dicanderakan mengandung semua nilai yang diperlukan manusia untuk keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat (lihat Rachmat Taufiq Hidayat 1990, Khazanah Istilah Al-Quran, Bandung, 1990).
Akhlak mencakup unsur-unsur seperti keberanian, ketekunan, ketelitian, kedisiplinan, kesabaran, ketegasan, kehalusan (subtlety), kelembutan, semangat dan gairah, empati, kasih sayang, kecenderungan akan perubahan yang lebih baik, Kecenderungan akan keindahan, kecenderungan akan keseimbangan, kecenderungan akan kejelasan makna, kecenderungan akan perdamaian; pendeknya, hal-hal yang amat berharga dalam suatu pencapaian karya seni. Akhlak memperkuat landasan seni, bagaikan fondasi mengokohkan bangunan. Akhlak adalah acuan bagi seluruh aktivitas manusia, termasuk aktivitas seni.
Candi Borobudur tak akan berdiri dengan megah dan menjadi salah satu ikon kebudayaan dunia jika para senimannya tak punya moral yang kuat buat menyelesaikan proyek religius tersebut. Lalu, Taj Mahal di India menjadi tanda akan salah satu ungkapan kasih teragung pada masanya (1631 M), ketika penguasa muslim Sultan Syeh Yehan membangun karya yang megah itu dilambari suatu energi cinta yang tak pernah pudar terhadap permaisurinya yang amat ia kasihi, yang telah meninggal dunia lebih dahulu, Mumtaz Mahal.
Salah satu unsur akhlak yang penting dalam seni adalah, bersih. Kebersihan adalah sebagian dari iman, demikian hadis Nabi yang popular. Kebersihan bahkan merupakan syarat minimal dari keindahan, karenanya, bersih itu indah. Kritikus Agus Dermawan T, misalnya, tak setuju adanya penggunaan barang najis untuk karya seni, apalagi untuk membuat patung orang suci (yang bahkan dapat digolongkan sebagai tindakan penistaan agama). Dalam bukunya, Bukit Bukit Perhatian (Jakarta 2004), alumnus ASRI (kini ISI) Yogyakarta ini berpendapat bahwa kegundahan publik atas perkembangan moral seni juga terjadi di Inggris sekalipun, yang jauh lebih liberal ketimbang Indonesia.
Di sini, masyarakat mengecam pemilihan hasil kompetisi Turner Prize yang diadakan Tate Gallery’s Patrons of New Art. Pasalnya, pada 1999 kompetisi yang kontroversial ini memenangkan karya Chris Ofili, The Holy Virgin Mary, yaitu patung Bunda Maria yang dibuat dan diseraki kotoran gajah, dengan disertai cuplikan foto-foto yang diambil dari majalah porno.
Akhirnya, sebagaimana kita saksikan dalam perkembangan mutakhir yang melanda jagat seni, seni rupa tidak dapat berdiri sendiri. Seni juga bersifat fungsional, dan menjadi komoditi perdagangan. Mengapa tidak? Yang penting halal, melibatkan interaksi (dan transaksi) yang suka sama suka serta tak mengandung unsur penipuan. Seni menjadi bagian dari aktivitas muamalat. Di sini, selain publik penikmat seni, ada pula pengayom, penguasa, dan pemodal yang ikut berperan dalam menentukan eksistensi seni rupa.
Produksi karya kriya sebagai komoditas ekonomi bukanlah sesuatu yang tabu. Bahkan, hal yang sama berlaku bagi karya-karya “murni” seni rupa lainnya. Almarhum Prof Dr Sudjoko yang guru besar ITB (meninggal tahun 2006) menyebutkan, citra bahwa seniman harus membuat lukisan untuk ekspresi pribadi melulu tanpa ambil pusing kemauan orang lain, sebetulnya adalah citra baru. Sudjoko menyebutkan hal ini saat mengantar katalog pameran koleksi Dewan Kesenian Jakartan (DKJ), Seni: Pesanan (Jakarta, Komite DKJ, 2006). Seperti diketahui, DKJ pernah menggelar pameran “pesanan” tersebut pada 1974 yang disponsori perusahaan negara Pertamina.
Menurutnya, sesungguhnya sangat banyak seniman besar yang bekerja untuk macam-macam “Pertamina”, baik itu yang namanya Rembrandt, Raden Saleh, atau Picasso. Bahkan, “sang Pertamina” ini bisa juga rakyat jelata, asal berduit banyak. Pada 1641 seorang pelancong Inggris, John Evelyn, melaporkan bahwa pelukis-pelukis Belanda disokong oleh petani, penjagal, tukang sepatu, pandai besi, dan pembakar roti. Para petani lebih berani beli satu lukisan dengan harga 2000 sampai 3000 florin (100 florin setara dengan 100 ribu rupiah). Kata Evelyn, lukisan-lukisan ini bergantungan di bengkel besi dan di kandang sapi. Para pelukis besar seperti Renoir, Monet, Gauguin juga punya pemodal tersendiri, yang sering menanggung hidup mereka, sungguh pun karya-karya mereka tidak laku. Mereka adalah pedagang-pedagang seni.
Sudjoko akhirnya mengajak kita untuk menarik pelajaran, bahwa, mutu seni tidak ditentukan oleh siapa yang memulai kerja seni. Begitu pun kreativitas, bisa mulai dari seniman sendiri, bisa pemesan –yang mengatur bentuk dan isi seni, “Bisa masyarakat, bisa adat, bisa ideologi, bisa politik, bisa agama”.
Bicara soal pemilahan antara seni dan kerajinan (craft), Sudjoko mengingatkan bahwa jagat seni rupa punya pabrik lukisan raksasa yang dimiliki oleh Peter Paul Rubens (1577–1640), seorang seniman besar. Pegawainya banyak sekali, di antaranya terdapat pelukis-pelukis seperti Anthonie van Dyck dan Jacob Jordaens.
“Kerjaan Rubens adalah cari order, lantas ia membuat sketsa-sketsa kecil, lalu sketsa-sketsa ini diberikan kepada para pegawainya, yang kemudian membesarkan sketsa Rubens pada kanvas-kanvas besar dan memulasnya dengan warna-warna. Sementara itu Rubens duduk di kursi dan memberi macam-macam komando (instruksi), lantas ia pergi berdiplomasi (dia itu duta besar!) dan cari pesanan, dan sekembalinya di pabriknya ia masih sempat ambil kuas, membubuhi finishing touches kepada barang 10 lukisan, dan tentunya plus tanda tangannya. ”
Sudjoko juga menyebut contoh dari dunia Timur. Di Jepang, sejak 728 terdapat pabrik-pabrik lukisan yang semula bernama Edakumi-ryo (di Nara) dan kelak terkenal dengan nama Edokoro. Bisa diinterpretasikan sebagai ‘biro pelukis’, setiap lukisan di sana dikerjakan sejumlah orang: ahli desain, ahli pewarnaan, ahli tinta, “dan macam-macam kacung ikut campur. ”
“Tahukah Anda, ” ujar Sudjoko, “Leonardo da Vinci pernah jadi kacungnya Andrea Verrochio? Kerjaan dia misalnya mencampur-campur cat, mencuci kuas, dan beli makanan. ”
Akhirnya, Sudjoko menyimpulkan, “buat apa malu mengaku sebagai industri dan sebagai bisnis? Seni selamanya begitu, dari zaman Mesir sampai sekarang. ”
Sampai di sini setidaknya kita bisa menyimpulkan, yang disebut seni bukan hanya ekspresi invidual tentang keindahan, melainkan juga dapat menjadi bagian dari karya kolaboratif yang bersifat fungsional. Seni melengkapi hasil budaya lainnya, seperti bangunan, kerajinan, perabotan, dan buku ilmiah (misalnya berupa ilustrasi).
Lalu, Islam bukanlah aliran atau genre kesenian tertentu. Yang disebut kesenian Islam adalah istilah yang tak punya batasan ketat tentangnya. Seni dapat digolongkan ke dalam ibadah muamalat dengan “aturan main” bahwa semua boleh kecuali bila ada nash yang melarangnya.
Bahkan, semua karya seni, sepanjang tak melanggar akhlak yang islami, adalah seni Islam. Sebuah definisi yang longgar, yang justru memberi peluang yang luas bagi para seniman untuk berkarya.
(agung puspito)
Akhirnya beres juga itu UTS…
October 22, 2007
Duh,
ini merupakan pengalaman baru buat saya… meskipun saya suka buat komik, tapi kerja rodi buat 24 halaman komik dalam 24 jam?? Hehehe…ini pengalaman baru buat saya…(kok diulang?)
Ceritanya bermula hari Sabtu kemarin… event ini sedianya berlangsung 20 Oktober jam 10 pagi sampai 21 Oktober jam 10 pagi juga…
Saya nyesel deh karena semalam sebelum hari H sendiri saya malah mainan PS2 di rental, begadang… alhasil, kelupaan deh nyiap-nyiapin peraboyan buat bikin komik. Untungnya setelah shubuh, meskipun ada usrah Asrama dulu, saya sempat tidur sebentar… tidur sebentar… sekali lagi tidur sebentar (rencananya)…
Tapi, meskipun niatnya saya ingin bangun jam 8 teng, samapi jam 9 pun saya masih terlelap… Alhamdulillah karena saya tinggal asrama, ada saudara-saudara yang berkenan mengingatkan…
Entah berapa kali mereka mengingatkan,
“Heru… heru… Bangun, euy! Katanya ada UTS! Udah jam setengah sembilan, lho!”
“…..”
“Ka Heru, ayo bangun… udah siap belum bikin komik 24jam…” (karena saya ikutan PAS, jadinya sebagian teman asrama ada yang manggil saya ‘kak’)
“……”
“Her…Hersuw! Bangun, dong…! Ini udah jam Sembilan, UTSnya jam Sepuluh, kan? Mau bawa kopi, nda?”
“………”
Saya pun bangun, pindah dari kasur yang ada di ruang umum, masuk ke kamar saya, lalu tidur lagi…(JREEENG!!)
Walhasil, jam 10 kurang saya baru bangun, lalu dengan tergesa-gesa mandi, beres-beres… dan jam 10 lebih dikit baru berangkat.
Sampai di Space59 Gallery sekitar 10.30, sudah banyak orang… banyak anak SR, tapi banyak juga komikus-komikus yang udah profesional (biarpun nda terkenal^^)… Saya dipersilahkan memulai keraj oleh Pak Alva …,“Silahkan isi absen dulu, lalu di sana masih ada tempat kosong. Sibuat nyaman aja, terus kalau mau browsing untuk referensi bisa pakai 2 komputer di sana. Kalau mau ambil snack di depan…”
Setelah mengambil beberapa helai kertas A4, saya duduk, mengeluarkan kotak pensil saya… dan.. lho, kok pensilnya mana, ya? Ternyata isi kotak pensil saya cuma ada bebereapa drawing pen saja, pensilnya ketinggalan….
Karena saya merasa belum menyentuh kotak pensil ini selama di Bandung, PASTIlah kalau pensil kesayangan saya itu tertinggal di BEKASI….
Duh, dipikir-pikir ternyata selama ini saya cuma punya satu pensil… memalukan. Semenjak kuliah gambar udah nda ada, saya tak pernah lagi menggunakan pensil kayu dan selalu menggambar menggunakan satu pensil mekanik saja, dan pensil itu sekarang berada di tempat nun jauh di sana….
Terpaksalah saya keluar dari ruang Gallery dan mencari-cari stasioneri… Duh, ternyata disekitar C59 nda ada tempat jualan pensil nih, di Gasibu pun nihil… akhirnya saya mencari di sekitar UNPAD dan dapatlah… Setelah itu saya berlali kembali menuju Art Space Gallery C59. Sudah jam sebelas, TIDAAAK…..!! Tinggal 23 jam lagi!!!
Kembali ke tempat duduk saya di ruang rapat itu. Sekarang meja yang tadinya masih sepi itu sudah penuh, untungnya saya meninggalkan tas di kursi saya jadinya kursi itu tak ada yang menempati. Saya pun mulai berkarya….
Tengok kiri-kanan, melihat ke luar ruangan, dan memperhatikan orang-orang yang lain… saya pun kembali berteriak dalam hati, “Tidaaaak…!!! Gambar saya paling jelek…!!!” Orang di sebelah saya adalah SR 2006 yang dulu waktu SMA komiknya diterbitkan MIZAN… Waktu itu, menurut saya, gambarnya masih nda begitu keren… tapi sekarang.. GYAAAA, semua yang mondar-mandir di ruangan saya pasyilah singgah dulu di tempat beliau untuk melihat komiknya. Teknik tinta cinanya Oke, sayang karyanya tidak sempat dikumpulkan…
Pokoknya saya bener-bener minder, lah… Belum lagi ada teh Mariam , yang dari MIZAN juga, terus ada Alam , ada Bhima DKV , ada Adimboy , ada… pokoknya ada banyaklah…
Sejam lebih saya habiskan untuk membuat storyboard….. saya baru mulai menggambar sekitar setelah Zhuhur..
Rencananya saya cuma pakai teknik pensil doang aja, dan ternyata ini membawa hasil buruk. Jari manis kanan saya bengkak karena semalaman menjadi tempat bertumpu pensil yang saya tekan keras-keras… Bloking hitam pun menghabiskan waktu (dan tenaga) yang besar, kotor lagi… Beberapa kali tangan saya kesemutan dan saat itu biasanya saya gunakan untuk istirahat sebentar, minum kopi susu, makan snack…
…
Tak terasa sudah tengah malam, saya baru beres tujuh halaman…. pokoknya sampai detik akhirlah saya baru membereskan komik saya. Sekitar 7jam terakhir saya menggunakan kecepatan 2halaman/jam…
Kacaunya, gara-gara ngantuk… (tidak tidur lho selama 24 jam) saya salah ngasih nomor halaman. Habis halaman 13 langsung 15, jadinya halaman 14nya nda ada…
Tidak… jadinya saya gagal, dong? Cuma bikin 23 halaman doang, sih.. itupun 2 halamannya cover depan dan belakang…
Yah, enak nda enak, asik nada asik… akhirnya event yang sekalian dijadikan UTS untuk kuliah komik 2sks oleh pak Alva itu selesai…
Sayangnya karena yang untuk UTS ditemakan “Bandung”… jadinya ide saya rada mentok. Kalau tahun depan ada acara gini lagi, saya juga pengin ikutan, ah… kali itu bebas sesuka hati saya mu bikin komik apa… atau nda juga??
yah bagi yang ingin melihat hasil-hasil komik itu silahkan kinjungi:
http://space59bandung.multiply.com
Terinspirasi oleh…
October 11, 2007
Waktu kecil dulu…
jamannya belum populer acara-acara lawak nda jelas seperti sekarang,
Ramadhan di TV masih terasa nuansa spiritualnya.
Selain ada tayangan siaran langsung sholat tarawih dari Arab (yang bacaan tiap malem katanya 1jz), ada juga acara yang monoton tapi bagi saya mengasikkan, yaitu acara pembacaan Al-Qur’an oleh ustadz-ustadz dengan irama tartil…
Tampak di layar TV, mushaf Al-Qur’an yang ditunjuk dengan lidi ayat per ayat bersamaan dengan dibacakannya ayat-ayat tersebut dengan OK oleh para ustadz tadi. Ustadz satu membacakan beberapa halaman, kemudian ustadz lainnya membacakan lanjutannya, bergantian. Memang terkesan acara yang tidak terlalu menarik, tapi bagi saya yang saat itu lagi hot-hotnya belajar Iqra’, beliau-beliau itu tampak ‘Luar Biasa’. Saat itu benak saya dipenuhi pemikiran,”Kapan saya bisa membaca Al-Qur’an sebagus itu, yah…?”
Hehehe… memang saat itu, pemikiran semacam itu hanyalah angan-angan sesaat.
Namun saat ini, saya merasa begitu dekat dengan impian itu…
ü Saya sudah ikut tahsin…
ü Saya tinggal … dan memiliki banyak kenalan orang-orang hebat…
ü Saya pun kadang-kadang kebagian giliran untuk jadi imam sholat di Masjid Salman…
ü Saya punya banyak murattal dari syaikh-syaikh terkenal yng merdu-merdu…
Akankah saya mampu mengubah angan-angan masa lalu menjadi kenyataan masa kini?
Wallahu a’lamu bishshowab…
Shaf Terdepan Adalah yang Terbaik…
October 11, 2007
Jika grafik keimanan sedang dalam puncaknya, saya bisa jadi sangat alim. Sedari kecil biasanya saya hobby sekali sholat berjamaah di masjid. Karena memang lagi semangat-semangatnya, biasanya saya selalu mencari-cari cara agar selalu bisa mendapat shaf yang terdepan…
Belakangan ini tampaknya roda keimanan pun masih tetap ada di atas… Yah, mau gimana lagi… toh saya tinggal di komplek masjid kampus. Mau tak mau, pastilah saya jadi anak sholeh juga. Seperti ketika masih kecil, sekarang pun saya masih berburu shaf sholat terdepan. Tempat favorit saya biasanya pada shaf terdepan tepat di belakang imam atau setidaknya masih di sekitar mimbar…
Dua tahun lalu ketika saya masih TPB*, Masjid Salman* adalah tempat favorit saya untuk melaksanakan ibadah sholat berjamaah meskipun harus sedikit jauh berjalan dari kosan yang waktu itu masih di Pelesiran 19. Yang ada dalam benak saya waktu itu adalah rasa kekaguman… kekaguman terhadap mahasiswa-mahasiswa yang ada di ITB*, yang muslim, khususnya yang sering memenuhi Salman, khususnya yang sering menjadi imam sholat. Saya yang memang sangat cetek ilmunya hanya bisa ternganga melihat setiap ada yang jadi imam… “Surat apa sih yang mereka baca…??” batin saya setiap mendengar mereka membacakan surat-surat yang waktu itu masih terdengar asing. Setiap saya berada tepat di belakang imam, saya merasa seperti orang bodoh. Orang-orang yang ada di sebelah saya tampaknya mengerti surat yang imam bacakan, kalau imam salah pun mereka biasanya berlomba untuk membetulkan. Saya pun bertanya-tanya: Apakah shaf terdepan memang shaf yang terbaik? Pasti disebut terbaik karena memang isinya orang-orang yang terbaik, yang antusias mencari posisi terbaik, yang memiliki ilmu untuk mem-back up imam. Pertanyaan selanjutnya pun muncul: Apakah saya memang pantas menempati shaf terbaik ini…??
Waktu berlalu, ilmu saya mulai bertambah biar sedikit demi sedikit. Saya masih tetap sering memosisikan diri di tempat yang terbaik ketika sholat berjamaah. Saya masih tetap mengagumi orang-orang yang menjadi imam, orang-orang yang selalu ada tepat di depan posisi saya. Saya selalu memperhatikan punggung-punggung orang-orang hebat itu, “Jadi begini toh, tampak belakang orang-orang hebat itu..” Biarpun saya sering menjadi imam kalau cuma untuk sholat di mushola kecil TPB FSRD, tapi rasanya beda, level saya dengan orang-orang ini terlalu jauh berbeda…
Ketika ilmu mulai bertambah, timbul kegelisahan di hati ini, ”Apakah nantinya saya bisa seperti orang-orang hebat itu???” Kesempatan untuk menempa diri tampaknya mulai muncul, setidaknya di SR*, jurusan sendiri, saya sering sekali diminta untuk menjadi imam… tampaknya memang teman-teman SR menganggap saya terlalu tinggi, saya dikira orang alim atau semacamnya hanya gara-gara saya sering mimpin sholat Zhuhur dan Ashr ketika TPB dulu… Oleh karena itu sedikit banyak jam terbang saya sebagai imam semakin bertambah (khususnya pada sholat-sholat yang dijahrankan). Kesempatan terus bermunculan, saya pernah beberapa kali jadi imam sholat di Salman untuk kloter-kloter kedua, yang jamaahnya telat untuk masuk ke jamaah sholat kloter awal.
Saya merasa peluang saya semakin besar ketika satu persatu saya mulai mengenal siapa-siapa mahasiswa yang sering menjadi imam itu. Berdasarkan induksi dari fakta-fakta yang saya kumpulkan, saya mendapat satu informasi penting: ternyata mayoritas mahasiswa yang sering menjadi imam itu sering terlihat di sekitar Salman karena mereka adalah anggota-anggota Asrama Salman…
Singkat cerita, gampang-gampang susah akhirnya saat ini saya pun termasuk anggota Asrama Salman sendiri. Kalau begitu apakah akhirnya saya juga jadi orang hebat?? Ternyata dengan yakin saya dapat mengatakan :Tidak! Level saya masih tergolong peringkat bawah dibanding anggota-anggota asrama yang lain. Setidaknya terlihat dari jumlah hapalan mereka, rata-rata di atas saya yang cuma hapal 1 juz.
Bagaimana pun juga, saya tetap setia menempati posisi favorit itu. Kali ini punggung yang saya perhatikan bukan punggung yang saya tidak kenal. Langganan imam sholat Shubuh, Maghrib, Isya’, tak lain adalah teman-teman asrama sendiri. Memang… meskipun ilmu saya sudah banyak bertambah, tetap saja belum mampu menandingi orang-orang yang memang sudah hebat bahkan sebelum masuk ITB…
Mungkin kebiasaan mencari posisi ini lah yang akhirnya sedikit mengubah garis hidup saya… Suatu ketika, ketika muadzin sudah beriqamah… di deret depan tak terlihat seorang pun anak asrama kecuali saya, oleh karena itu anak asrama yang ada di kejauhan mengisyaratkan saya untuk maju mengambil pengeras suara dan memimpin sholat berjamaah… dengan grogi pun saya baca Fatihah, surat pendek terkeren yang mampu saya baca… dan akhirnya saya dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi imam di masjid tercinta ini.
Cerita terus berlanjut, semakin seringlah saya menjadi imam sholat. Tak lain karena setiap sholat mau dimulai, saya selalu ada di tempat yang tepat… Saat ini rasa grogi yang menyelimuti ketika memimpin sholat sudah mulai dapat saya atasi. Namun kembali saya termenung… teringat kata-kata itu: shaf depan adalah shaf terbaik. Jika dipikir-pikir, orang yang paling depan ketika sholat kan imam? Jadi apakah sebenarnya shaf terbaik untuk setiap sholat itu hanya diperuntukkan satu orang saja?? Hehehe…penyimpulan yang bodoh, ya… Logika ini tidak terlalu benar jika saya berpikir lebih lanjut. Yang namanya shaf kan berarti barisan dan tentu saja untuk membentuk suatu barisan dibutuhkan setidaknya dua orang atau lebih ‘kan?
Saya jadi imam, dulu saya berpikir kalau imam itu pastilah hebat, namun saya tidak hebat, saya tahu sekali banyak orang-orang lain yang jauh lebih luar biasa dari saya…
Yah… sebenarnya tak perlu dipikirkan pusing-pusing. Saya memang jadi imam, tapi apakah saya hebat atau tidak saya tidak begitu peduli…terserah orang lain sajalah. Toh, saya hanya menjalankan tugas.
Namun kembali terlintas di benak saya… ketika saya jadi imam, rasanya tak ada punggung yang bisa saya lihat, deh… hehehe..
Memang shaf imam itu shaf yang spesial, dan
Memang shaf tedepan itu shaf yang terbaik…
7 Oktober 2007,setengah dua pagi dalam mihrab Masjid Salman
Anak, Antara Amanah, Beban, dan Harapan…
October 3, 2007
Seminggu lalu saya dan teman-teman se-Asrama berkunjung ke rumah salah seorang pengurus YPM Salman, namanya…ng, namanya saya lupa^^ Pokoknya ada -sono2nya…
Beliau tinggal di dekat… atau tepatnya persis di samping Masjid Daarud-Da’wah (tempat saya sholat berjamaah dulu sewaktu masih tinggal di Pelesiran). Kunjungan ini sendiri dalam rangka pembinaan, yang Insya Allah akan dirutinkan. Manfaat dari kunjungan ini selain menjalin silaturahim juga diharap terjafinya pertukaran ilmu dan pengalaman…
Menuju ke inti cerita, ada hal menarik yang saya tangkap dari obrolan kami. Beliau menceritakan tentang perbedaan-perbedaan pandangan perihal mengasuh anak.
Cerita bermula dari negeri Jepang… Katanya saat ini mayoritas wanita Jepang takut menikah lantaran tidak mau/ suka mengurus anak. Wanita-wanita yang menikah pun takut punya anak. Hmmm… Mungkin bisa dimengerti bahwa di negeri industri seperti Jepang di mana sudah seperti keharusan mutlak untuk bekerja, mengurus anak akan menjadi penghambat untuk perkembangan karir. Weleh… jadi bagi mereka karir lebih penting daripada regenerasi?? Kalau soal masa depan, bukankah justru terletak di pundak anak-anak mereka sendiri… ? Untuk apa memperoleh segala kekayaan kalau pada akhirnya justru tidak ada keturunan yang dapat meneruskannya…? Begitulah. Kalau saya tidak salah info, saat ini piramida popukasi Jepang justru bebebentuk piramida terbalik… mortalitas lebih banyak daripada natalitas…
Beralih ke negeri sebelah barat Jepang, yaitu Cina. Yang terjadi di negeri ini justru kebalikannya. Kita tahu bahwa saking banyaknya populasi negeri Kung-Fu ini, pemerintah pun memberlakukan peraturan yang mengerikan kalau boleh saya bilang, yaitu: setiap keluarga hanya boleh punya anak satu!! Jika ada keluarga yang mempunyai anak kedua, maka niscaya anak itu akan ‘disita’ negara, dijadikan ‘anak negara’–entah apa maksudnya (/.\)… Berbeda dengan Jepang yang ketakutan untuk memiliki anak, penduduk Cina justru harus rela dibatasi jumlah keturunan… meskipun misalnya mereka tidak takut untuk memiliki banyak anak. Situasi dan kondisi tak memungkinkan mereka untuk melawan kebijakan pemerintah. Yah, itulah resiko hidup di negeri dengan penduduk milyaran…
Bagaimana dengan Indonesia? Dari penuturan beliau, ada dua paradigma yang aneh… Pertama kalangan terpelajarm sebut saja para lulusan Perguruan Tinggi. Biasanya golongan ini (jika menikah) takut punya anak banyak-banyak, maksimal dua lah… Sebaliknya golongan kedua adalah keluarga-keluarga di pedalaman desa. Dengan kompetensi intelegensi yang cenderung rendah, mereka tanpa ragu memiliki banyak keturunan, minimal 9-lah…
Kebayang bukan, masa depan negeri ini justru generasi yang dilahirkan dari keluarga bependidikan tinggi kalah jauh jumlahnya dengan generasi yang dilahirkan dari keluarga yang, maaf, kurang berpendidikan.
Bukankah selama ini kita bermimpi untuk menjadi negeri yang besar?
Bagaimana bisa jika orang-orang berpendidikan yang menjadi harapan bangsa justru berpikiran kecil…
Bukan masalah jumlah anak, namun perbandingan yang setara antara kapasitas orang tua dengan jumlah anak yang mampu dibesarkan dengan maksimal.
Peribahasa,”Banyak anak banyak rejeki” hendaknya kita tanggapi secara bijaksana.
Ingat, aset terbesar dari seorang manusia adalah anak-anak mereka
Aku menginginkan istri seperti…
October 3, 2007
Hei..hei…
Ini bukan tulisan yang penting, kok.
Jadi, rugi deh Anda buang-buang waktu buat baca ini tulisan, OK?
Lho, kok masih diterusin???
Mendingan langsung kembali aja ke halaman sebelumnya daripada Anda capek sendiri… ya,ndak?
Tapi kalau Anda memang kepingin baca, ya saya ndak bisa ngelarang…
Toh, itu hak asasi Anda.
Jadi, kembali ke topik utama yaitu kriteria istri yang saya cari.
Ada beberapa hal mendasar yang saya inginkan dari seseorang yang akan menjadi istri saya. Antara lain:
1. Perempuan
Ya iyalah…! Saya kan manusia normal. Saya tak mau sama sekali menikahi laki-laki biar secantik dan seluar biasa apapun dia.
2. Muslimah
Hmm.. yang ini standard lah. Semua muslim laki-laki (yang normal) pasti kepingin pendamping hidupnya muslim juga. Lagipula gawat kalau seandainya muslim laki-laki justru mencari istri non-muslim, kasihan atuh muslimah-muslimah yang menanti di waiting list… Bukankah perbandingan laki-laki dan perempuan itu 1:3?? Singkatnya jika ada lelaki muslim yang menikah dengan perempuan non-muslim, kira-kira bakalan ada 3 muslimah yang ter-Dzolimi, ya nda?? Hehehe…
3. Sholihah
Kalau yang ini kriteria yang lumayan krusial. Gimana, nda? Bukankah perempuan merupakan tiang negara? Jadai kalau kepingin punya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, wa rabbun ghofur..ya mau nda mau harus punya ibu rumah tangga (baca: istri) yang memenuhi kriteria-kriteria perempuan sholih sepert… ya,Anda tahu sendiri lah kira-kira begimana…^^
4. Menyejukkan Pandangan
Yah, untuk kriteria ini sebenarnya demi kepentingan estetika. Coba bayangkan seandainya seseorang yang menjadi pendamping kehidupan kita justru tidak sedap dipandang?? Bisa-bisa setiap hari kita stress karena hidup dipenuhi energi-energi negatif dari pendamping kita sendiri…
5. Berakhlaqul Karimah
Yup, inilah yang bakal menjadi brand keluarga Anda nantinya. Istri yang berakhlaq mulia merepresentasikan keluarga yang mulia pula…hehehe
Begitulah kiranya… secara umum kriteria yang saya cari.
Namun seperti yang sering saya tulis sebelumnya, kembali berlaku “Prinsip Pertukaran Setara”. Yaitu: untuk mendapatkan sesuatu yang besar, diperlukan pengorbanan yang besar pula. Jadi jika ingin mendapatkan istri dengan kriteria idaman, terbayang pengorbanan yang dibutuhkan seperti apa, bukan…
Membina Anak-Anak?
October 3, 2007
Apakah selama ini Anda beranggapan bahwa PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) adalah tempat mahasiswa-mahasiswa hebat berkumpul untuk membina adik-adik agar jadi hebat juga??
Apakah Anda juga beranggapan bahwa PAS adalah tempat kk mengajari adik-adik mengaji dan baca Qur’an??
Jika Anda berpikir seperti itu, saya ingin sedikit merubah paradigma sesat itu…
Coba pikir, pertemuan adik-adik dengan kk-kk hanya sekali seminggu dalam waktu tak lebih dari 4-5 jam saja… Bisa apa kami (kk-kk PAS) dalam waktu sesingkat itu untuk melakukan perubahan hebat terhadap adik-adik?? Kalau mereka ingin jago ngaji, masih banyak TPA-TPA yang bagus dengan waktu belajar yang jauh lebih banyak dan efisien, bukan??
Memang brand kami adalah “Pembinaan Anak-Anak”… namun hal yang paling mendasar justru sebaliknya. Bukan adik-adik yang lebih banyak terbina di sini, melainkan kk-kk PAS itu sendiri yang terbina dan menjadi lebih baik dengan membina adik-adik sebagai sarana utamanya…
Sedikit paham bukan?
Mahasiswa-mahasiswa yang mendedikasikan diri mereka untuk menjadi pembina PAS, sebagian besar pada awalnya juga tidak berniat sesederhana seperti: “Saya ingin mengajar adik-adik baca Quran…”
Hehehe… jangan salah, ya. Adik-adik PAS itu banyak berasal dari keluarga yang hebat. Bahkan ada beberapa dari mereka yang justru jumlah hapalannya lebih banyak dari kk-kk PAS sendiri^^
Kalau soal hebat-hebatan, terkadang kami kalah oleh mereka.
Satu niat saja yang ada dalam benak kk-kk PAS: “Kami ingin belajar dari anak-anak…”
Sekali lagi saya katakan, yang terjadi di PAS bukanlah seperti adegan “Guru memberi materi, murid mencatat, besok ulangan, lalu yang ulangan jelek berarti bodoh, harus tinggal kelas…”
Bukan, bukan seperti itu!
Adik-adik PAS sendiri sudah cukup lelah dengan rutinitas sekolahan mereka full dari Senin-Sabtu. Apakah kami harus membebani mereka lebih jauh lagi?? Tentu tidak, bukan???
Yang kami berikan adalah wahana rekreasi,
Yang kami berikan adalah rasa kekeluargaan yang hangat,
Yang kami berikan adalah cerita-cerita yang menyenangkan,
Yang kami berikan adalah sebuah kenyamanan,
Semua itu bukan semata-mata untuk perkembangan adik-adik PAS sendiri, malainkan sebagai sarana pembinaan untuk kk-kk PAS juga.
Saya garis bawahi, maksud pembinaan untuk kk adalah:
dengan berorganisasi, kk-kk menjadi terbina
dengan bermain dengan adik-adik, kk-kk menjadi terbina
dengan bertemu orang tua-orang tua adik, kk-kk menjadi terbina
dengan menyiapkan mentoring Ahad, kk menjadi terbina
dengan bersilaturahmi antar kk, kk menjadi terbina
dengan mengikuti kegiatan-kegiatan intern PAS, kk menjadi terbina…
Jadi, sebenarnya PAS adalah “Pembinaan kAkak-kakak Salman”
hehehe, barangkali boleh dibilang begitu…
Asrama tanpa asmara…
October 3, 2007

Tinggal setahun lagi di asrama…
Dengan kata lain, mesti nyari tempat berteduh yang baru dong… tapi lumayanlah, bisa ngirit ongkos kosan buat setidaknya setahun ini.
Asrama Salman ITB sebutannya…
Nama resminya Program Pembinaan Kader Inti Salman.
Letaknya di GSS Salman lt.4 untuk asrama putra dan di samping jalan…apa itu namanya…pokonya deket gerbang ITB kawasan SR…ada asrama putri.
Ikut Asrama Salman berarti:
- telah terbukti aktif di unit-unit Salman atau LDF
- setidaknya IP lebih dari 3.00 ketika masuk dan harus lebih dari 2.75 kalau ingin bertahan…
- harus nurut kalau disuruh-suruh sama YPM buat ngapa-ngapain
- harus ikut segala tetek bengek pembinaan mulai dari perwalian, kajian tafsir, bahasa asing, dialog tokoh, sampai acara-acara khusus mulai National Leadership Youth Camp sampai Muktamar KALAM Salman…dll
- harus rela bangun awal buat sholat malam, dan siap-siap ngurus adzan, kulsub buat asrama putra
- harus siap berbagi, mulai dari makanan, tempat tidur, komputer, waktu, cerita, tenaga, untuk saudara-saudara seasrama
- harus rido kalau waktu pagi dihabisin buat rapat, nyapu halaman komplek Salman, tahsin Qur’an, atau nempel-nempel poster SBT,dll
- harus lulus tahsin, bisa ceramah biar dikit-dikit, hapalan minimal 1 juz, yang laki-laki kudu bisa jadi imam sholat
- harus rela nda nikah selama masa pembinaan di asrama
Begitulah, asik nda asik pokoknya saya masih anak Asrama Putra Salman ITB
Beginilah adanya…
rela nda rela harus rela…
Mencari-cari Masalah…
October 3, 2007
Masalah adalah inti dari kehidupan…katanya
Mencari masalah…? Nda dicari-cari masalah pun akan tetap ada…
Bosen dengan masalah-masalah? Ingin hidup tak ada masalah??
Hehehe…mungkinkah? Toh, keinginan sendiri adalah sebuah masalah…
Ada apa dengan masalah sebenarnya…
Masalah adalah sebuah keniscayaan, mengiringi kehidupan makhluk hidup… Semua hal adalah masalah, semua masalah adalah hal-hal…
Masalah-masalah terkadang membuat orang stressssss…
Penyebabnya adalah bahwa setiap manusia memiliki kemampuan berbeda-beda, memiliki resistensi berbeda-beda dalam mengatasi masalah. Jika manusia merasa masalah yang sedang dihadapinya melebihi kapasitas kemampuannya, stress-lah dia..
Namun kita semua mengerti, segala urusan bersumber pada Dzat Yang Satu…
Dalam firman-Nya:
Allah tidak membebani seseorang (permasalahan) melainkan sesuai dengan kesanggupannya… (QS 2:286)
Jadi, atas dasar apa manusia mengatakan, “Aku tak sanggup lagi!”
Atas dasar apa manusia mengatakan, “Tuhan tidak adil!”
Atas dasar apa manusia mengatakan, “Aku mau mati saja..!!”
Apakah mereka meragukan ke-Maha Bijaksana-an Allah???
Berlaku prinsip kesetimbangan:
semakin banyak dan berat permasalahan yang kita hadapi, semakin besar “reward” yang akan diperoleh jika kita berhasil mengatasinya…
Jadi,
apakah tulisan bermasalah ini membuat Anda semakin bermasalah???
Duh, bingung ya?
Sama, dong!… saya juga^^
