Shaf Terdepan Adalah yang Terbaik…
October 11, 2007
Jika grafik keimanan sedang dalam puncaknya, saya bisa jadi sangat alim. Sedari kecil biasanya saya hobby sekali sholat berjamaah di masjid. Karena memang lagi semangat-semangatnya, biasanya saya selalu mencari-cari cara agar selalu bisa mendapat shaf yang terdepan…
Belakangan ini tampaknya roda keimanan pun masih tetap ada di atas… Yah, mau gimana lagi… toh saya tinggal di komplek masjid kampus. Mau tak mau, pastilah saya jadi anak sholeh juga. Seperti ketika masih kecil, sekarang pun saya masih berburu shaf sholat terdepan. Tempat favorit saya biasanya pada shaf terdepan tepat di belakang imam atau setidaknya masih di sekitar mimbar…
Dua tahun lalu ketika saya masih TPB*, Masjid Salman* adalah tempat favorit saya untuk melaksanakan ibadah sholat berjamaah meskipun harus sedikit jauh berjalan dari kosan yang waktu itu masih di Pelesiran 19. Yang ada dalam benak saya waktu itu adalah rasa kekaguman… kekaguman terhadap mahasiswa-mahasiswa yang ada di ITB*, yang muslim, khususnya yang sering memenuhi Salman, khususnya yang sering menjadi imam sholat. Saya yang memang sangat cetek ilmunya hanya bisa ternganga melihat setiap ada yang jadi imam… “Surat apa sih yang mereka baca…??” batin saya setiap mendengar mereka membacakan surat-surat yang waktu itu masih terdengar asing. Setiap saya berada tepat di belakang imam, saya merasa seperti orang bodoh. Orang-orang yang ada di sebelah saya tampaknya mengerti surat yang imam bacakan, kalau imam salah pun mereka biasanya berlomba untuk membetulkan. Saya pun bertanya-tanya: Apakah shaf terdepan memang shaf yang terbaik? Pasti disebut terbaik karena memang isinya orang-orang yang terbaik, yang antusias mencari posisi terbaik, yang memiliki ilmu untuk mem-back up imam. Pertanyaan selanjutnya pun muncul: Apakah saya memang pantas menempati shaf terbaik ini…??
Waktu berlalu, ilmu saya mulai bertambah biar sedikit demi sedikit. Saya masih tetap sering memosisikan diri di tempat yang terbaik ketika sholat berjamaah. Saya masih tetap mengagumi orang-orang yang menjadi imam, orang-orang yang selalu ada tepat di depan posisi saya. Saya selalu memperhatikan punggung-punggung orang-orang hebat itu, “Jadi begini toh, tampak belakang orang-orang hebat itu..” Biarpun saya sering menjadi imam kalau cuma untuk sholat di mushola kecil TPB FSRD, tapi rasanya beda, level saya dengan orang-orang ini terlalu jauh berbeda…
Ketika ilmu mulai bertambah, timbul kegelisahan di hati ini, ”Apakah nantinya saya bisa seperti orang-orang hebat itu???” Kesempatan untuk menempa diri tampaknya mulai muncul, setidaknya di SR*, jurusan sendiri, saya sering sekali diminta untuk menjadi imam… tampaknya memang teman-teman SR menganggap saya terlalu tinggi, saya dikira orang alim atau semacamnya hanya gara-gara saya sering mimpin sholat Zhuhur dan Ashr ketika TPB dulu… Oleh karena itu sedikit banyak jam terbang saya sebagai imam semakin bertambah (khususnya pada sholat-sholat yang dijahrankan). Kesempatan terus bermunculan, saya pernah beberapa kali jadi imam sholat di Salman untuk kloter-kloter kedua, yang jamaahnya telat untuk masuk ke jamaah sholat kloter awal.
Saya merasa peluang saya semakin besar ketika satu persatu saya mulai mengenal siapa-siapa mahasiswa yang sering menjadi imam itu. Berdasarkan induksi dari fakta-fakta yang saya kumpulkan, saya mendapat satu informasi penting: ternyata mayoritas mahasiswa yang sering menjadi imam itu sering terlihat di sekitar Salman karena mereka adalah anggota-anggota Asrama Salman…
Singkat cerita, gampang-gampang susah akhirnya saat ini saya pun termasuk anggota Asrama Salman sendiri. Kalau begitu apakah akhirnya saya juga jadi orang hebat?? Ternyata dengan yakin saya dapat mengatakan :Tidak! Level saya masih tergolong peringkat bawah dibanding anggota-anggota asrama yang lain. Setidaknya terlihat dari jumlah hapalan mereka, rata-rata di atas saya yang cuma hapal 1 juz.
Bagaimana pun juga, saya tetap setia menempati posisi favorit itu. Kali ini punggung yang saya perhatikan bukan punggung yang saya tidak kenal. Langganan imam sholat Shubuh, Maghrib, Isya’, tak lain adalah teman-teman asrama sendiri. Memang… meskipun ilmu saya sudah banyak bertambah, tetap saja belum mampu menandingi orang-orang yang memang sudah hebat bahkan sebelum masuk ITB…
Mungkin kebiasaan mencari posisi ini lah yang akhirnya sedikit mengubah garis hidup saya… Suatu ketika, ketika muadzin sudah beriqamah… di deret depan tak terlihat seorang pun anak asrama kecuali saya, oleh karena itu anak asrama yang ada di kejauhan mengisyaratkan saya untuk maju mengambil pengeras suara dan memimpin sholat berjamaah… dengan grogi pun saya baca Fatihah, surat pendek terkeren yang mampu saya baca… dan akhirnya saya dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi imam di masjid tercinta ini.
Cerita terus berlanjut, semakin seringlah saya menjadi imam sholat. Tak lain karena setiap sholat mau dimulai, saya selalu ada di tempat yang tepat… Saat ini rasa grogi yang menyelimuti ketika memimpin sholat sudah mulai dapat saya atasi. Namun kembali saya termenung… teringat kata-kata itu: shaf depan adalah shaf terbaik. Jika dipikir-pikir, orang yang paling depan ketika sholat kan imam? Jadi apakah sebenarnya shaf terbaik untuk setiap sholat itu hanya diperuntukkan satu orang saja?? Hehehe…penyimpulan yang bodoh, ya… Logika ini tidak terlalu benar jika saya berpikir lebih lanjut. Yang namanya shaf kan berarti barisan dan tentu saja untuk membentuk suatu barisan dibutuhkan setidaknya dua orang atau lebih ‘kan?
Saya jadi imam, dulu saya berpikir kalau imam itu pastilah hebat, namun saya tidak hebat, saya tahu sekali banyak orang-orang lain yang jauh lebih luar biasa dari saya…
Yah… sebenarnya tak perlu dipikirkan pusing-pusing. Saya memang jadi imam, tapi apakah saya hebat atau tidak saya tidak begitu peduli…terserah orang lain sajalah. Toh, saya hanya menjalankan tugas.
Namun kembali terlintas di benak saya… ketika saya jadi imam, rasanya tak ada punggung yang bisa saya lihat, deh… hehehe..
Memang shaf imam itu shaf yang spesial, dan
Memang shaf tedepan itu shaf yang terbaik…
7 Oktober 2007,setengah dua pagi dalam mihrab Masjid Salman