Kisah Hidup Komikus (1) “Kepuasan Terbesar Bagi Seorang Komikus”
November 16, 2007
“Kepuasan Terbesar Bagi Seorang Komikus…”
Sekilas terbayang saat-saat pertama saya membuat komik. SMA kelas 2, seorang teman sekelas saya mengenalkan saya tentang dunia komikus. Beliau adalah orang yang saya hormati sampai sekarang dan menginspirasi saya untuk menjadi seorang komikus juga. Melihatnya membuat komik, saya jadi tertarik untuk ikut-ikutan, “Sebenarnya bagaimana sih rasanya membuat komik…”
Sepertinya teman saya ini sudah terbiasa membuat komik, sejak SMP sudah berkarya. Maka tidak sulit baginya untuk membuat suatu tema untuk komik dan mengembangkan ceritanya. Sedangkan bagi saya yang masih amat pemula tentu saja bingung ingin membuat komik seperti apa. Karena saya senang membaca komik-komik petualangan fantasi dan senang pula memainkan game-game rpg, maka saya juga ingin membuat komik seperti itu. Namun cerita yang saya buat rasanya garing dan biasa. Oleh karena itu saya merasa harus mencari tema yang menarik.
Entah dari mana ilhamnya, akhirnya saya memutuskan untuk membuat komik cerita fantasi dengan tokoh-tokohnya adalah teman-teman sekelas sendiri. Kemudian dimulailah pembuatan komik sederhana dengan kualitas gambar yang seadanya (baca: jelek) dengan hanya memakai pensil saja di lembar-lembar A4. Inti cerita komik itu adalah pertarungan dengan genre humor dari tokoh-tokoh yang ajaib:
- ada raja culun namun sangat kuat
- ada penyihir super sakti yang jadi pemimpin pemberontak
- ada agamawati yang sangat pintar da menguasai white magic
- ada tukang pos super yang bisa terbang seperti superman
- ada petani fungky yang irrasionably strong
- ada manusia hewan yang menjaga hutan (ini tokoh saya^^)
- ada pemusik yang menguasai ilmu-ilmu tendangan seperti Sanji
- ada summoner yang menyegel bermacam monster langka dalam tube-nya
- ada valkyrie utusan langit yang mengendarai kecoak raksasa yang selalu gagal menertibkan negeri semrawut itu
- dan banyak lagi karakter-karekter lainnya yang lucu-lucu, unik dan menarik (total 48 karakter sesuai jumlah murid di kelas)
Di luar dugaan ternyata komik saya ini cukup laris di kelas dalam arti banyak yang membacanya. Setiap hari bahkan ada teman yang selalu menanyakan “Mana halaman barunya?” Akhirnya dalam dua semester di kelas 2, saya berhasil merampungkan 2 seri komik fantasi.
- Final Fiesta
Fiesta terakhir… hehehe, nama kelas kami 2.3 adalah Fiesta dan merupakan kelas 2.3 terakhir sebelum berganti nama menjadi XI.3, jadinya cocok, deh^^
Komik ini menceritakan tentang pemberontakan di negeri Fiesta dan perang antara Rebellion Force melawan Raja yang (ceritanya) lalim.
- Tales of Fiesternia
Kisah penduduk Fiesta… merupakan cerita petualangan rakyat Fiesta untuk menyelamatkan gadis-gadis cantik Fiesta yang diculik Ratu Iblis
Saat itu saya menyadari, ternyata melihat orang-orang tersenyum membaca komik saya terasa begitu membahagiakan bagi saya. Saya rasakan kesulitan dan kelelahan untuk membuat gambar kemudian menatanya dalam panel hilang dalam sekejab dan tergantikan dengan senyum dan tawa tulus dari orang-orang yang membaca komik saya. Bahkan teman saya yang juga komikus itu pun memuji komik saya meskipun gambarnya jauh lebih bagus daripada gambar saya.
Oleh karena itu sempat terlintas di pikiran saya saat itu kalau saya ingin menjadi seorang komikus saja. Namun karena gambar saya masih jelek dan masih bersekolah, saya punya kewajiban untuk menuntaskan sekolah dulu dengan serius (meskipun pada akhirnya saya menghabiskan hari-hari saya dengan membuat komik)
Saat ini saya merenungkan,
Kepuasan terbesar seorang komikus adalah ketika komiknya dapat membuat orang yang membacanya puas. Komikus bertugas menghibur hati orang. Masa-masa SMA dulu, tidak sulit untuk merasakan hal ini mengingat konsumen saya adalah teman-teman saya sendiri.
Namun, ketika kelak nanti saya sudah menjadi seorang komikus profesonal yang karyanya diterbitkan dan memiliki pembaca di mana-mana. Akankah saya dapat meilhat wajah-wajah bahagia itu lagi dengan mudahnya? Ataukah saya akan tenggelam ke jurang ketamakan dan hanya memikirkan uang saja?
kata mutiara hari ini:
“Sepandai-pandainya tupai melompat kalau dia capek pasti akan jalan juga”
Sunsilk Hijau
November 12, 2007
Wait…wait… jangan salah sangka dulu! Saya bukan maniak atau semacamnya, saya hanya ingin me-review shampoo yang saya pakai.
Bermula dari obrolan dengan seorang teman, sebut saja Bhima 19 tahun. Sebagaimana umumnya mahasiswa seni rupa, Bhima memiliki rambut yang panjang. Bedanya rambut beliau rapi terawat. Begitu saya iseng-iseng bertanya,
“Wah, Bim… pakai shampoo apa?”
dengan bangganya beliau menjawab,
“Sunsilk Hijau, dong.”
Sejenak saya terhentak, bukankah Sunsilk hijau itu shampoo untuk wanita berjilbab? Tetapi langsung saja saya patahkan argumen itu, memangnya kita harus selalu menuruti apa kata iklan? Faktanya adalah dua hal:
teman saya memakai shampoo itu dan rambut teman saya rapi terawat…
Begini analisanya:
memang shampoo Sunsilk hijau ini diproduksi dengan sasaran perempuan berjilbab, namun esensinya adalah bagaimana sebuah shampoo dapat membuat rambut segar meskipun sehari-hari tertutup rapat oleh benda semacam jilbab. Oleh karena itu shampoo ini cocok bagi teman saya yang pengendara motor yang mengharuskannya untuk sering-sering memakai helm.
Mungkin sama halnya bagi penggemar topi. Memakai shampoo ini merupakan pemilihan yang tepat dimana rambut Anda akan tetap segar meskipun selalu mengenakan topi.
Karena waktu itu saya juga sedang hobi memakai topi, jadinya saya coba juga Sunsilk hijau itu. Memang saya rasakan rambut saya lebih enak dan nyaman ketika mengenakan topi maupun ketika melepaskannya… ada rasa-rasa segar gitu…
Akhirnya sampai sekarang saya masih menggunakan shampoo itu meskipun sudah jarang memakai topi lagi. Potongan rambut saya pun cenderung pendek. Namun yah, tak ada salahnya toh mencoba hal yang baik? Setidaknya teteh yang jadi model bungkus shampoonya lumayan cantik, jadi ada nilai plus yang lain yang bisa kita peroleh… hehehe
Iseng-Iseng Berhadiah…
November 11, 2007

Ng?
Apakah saat ini Anda sedang senggang?
Apakah saat ini Anda sedang butuh inspirasi??
Saya dapat trik mudah dari teman saya untuk mengisi waktu luang sekaligus mencari-cari inspirasi…
Pertama, kumpulkan kata-kata yang terkesan “inspiring”, kalau bisa yang bahasa Inggris (Indonesia juga tak masalah, sih) sebagai contoh:
-courage
-hope
-will
-adventure
-dll
Terus tinggal search deh di image search engine macam Google dan semacamnya.
Dan,
Anda akan (Insya Allah) mendapatkan gambar-gambar yang “inspiring”…
Silahkan coba
STALK!
November 5, 2007
STALK!
to STALK berarti to PURSUE STEALTHILY atau dalam bahasa Indonesia berarti menguntit, membuntuti; mengikuti secara diam-diam (sembunyi).
Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan kata di atas mengingat semakin maraknya kriminalitas di pelbagai pelosok dewasa ini. Barangkali kita pun pernah mengalami sendiri – baik sebagai pelaku maupun korban – perisistiwa yang lazim disebut sebagai penguntitan ini.
Yah, memang penguntitan IDENTIK dengan kriminalitas jika dilihat dari kacamata masyarakat umum. Menurut mereka, secara garis besar, penguntitan itu adalah perbuatan seorang maniak, menteror seseorang, membuntutinya sampai rumah, lalu melakukan hal seperti***, dan***, juga***.
Namun ada baiknya kita tinjau dari beberapa perspektif, sebagaimana tabel di bawah ini, mengenai contoh-contoh peristiwa penguntitan dan siapa saja yang terbiasa melakukannya.
|
PELAKU |
KORBAN |
TUJUAN |
|
· preman pasar |
· ibu-ibu kaya |
· mencari tahu rumah si korban agar bisa dirampok di kemudian hari · menunggu saat yang tepat untuk menjambret; atau memperk*sa; atau melakukan hal-hal lain yang dapat terpikirkan oleh si preman |
|
· polisi |
· buronan · bandit · dll |
· mengetahui markas besar para penjahat · mengumpulkan bukti kejahatan |
|
· maniak |
· siapa saja |
· menteror korban · memuaskan nafsu pribadi · melampiaskan dendam/ amarah · iseng-iseng berbahaya |
Yah, banyak profesi – entah itu legal, tak legal, baik, atau tak baik – yang menuntut seseorang untuk menguntit orang lainnya. Sebaliknya, banyak pula profesi yang mengharuskan seseorang untuk berkelit dari kuntitan orang lain. Agar Anda dapat sukses menguntit atau sukses tidak terkuntit, Anda harus memahami seluk-beluk penguntitan dan hal-hal yang terselubung di balik itu…
TRIK-TRIK MENGUNTIT
· Hilangkan hawa keberadaan (saya tidak begitu tahu gimana caranya, mungkin Anda bisa bertanya ke ahli tenaga dalam).
· Kenali korban, setiap orang memiliki naluri kewaspadaan yang berbeda-beda. Orang yang naluri kewaspadaannya kuat memiliki radius kewaspadaan yang luas.
· Berbaur dengan lingkungan, pahami teori kamuflase. Posisikan dirimu di luar jangkauan radius kewaspadaan korban. Optimalkan benda-benda sekitar untuk bersembunyi dan mengintai.
· Waspadai elemen sekeliling, kaca toko ataupun spion mobil dapat membongkar pengintaian Anda dalam sekejab.
· Selalu memposisikan diri pada sudut mati pandangan korban, jaga jarak secara konstan dan jangan terlalu jauh sehingga Anda dapat kehilangan jejak korban.
· Ubah persepsi tentang menguntit, menguntit tak selalu harus mengikuti dari belakang. Bisa saja kita mendahului korban, mengawasi dari depan, sehingga kemungkinan kehilangan jejak mengecil.
TRIK-TRIK AGAR TAK DIKUNTIT
· Tingkatkan kewaspadaan, asah naluri dan insting Anda agar dapat merasakan ‘nafas’ benda-benda sekeliling.
· Perluas sudut pandang, dengan sesekali menengok kanan-kiri sewaktu berjalan dan sesekali melirik ke belakang maka Anda sudah memperkecil sudut mati Anda.
· Latih fisik Anda! Ketika Anda yakin kalau ada seseorang yang sedang membuntuti Anda, maka cara terbaik mengatasi ini adalah dengan menghilangkan diri dari pandangan penguntit, bisa dengan berbaur ke keramaian, atau bergerak tiba-tiba (berlari) secepat mungkin menjauh dari jangkauan penguntit…
· Selanjutnya jangan ragu untuk melaporkan pada pihak yang berwenang^^
Setelah kita memahami seluk-beluk penguntitan, ada baiknya kita juga mengerti efek dari penguntitan. Yang paling menerima efek buruk tentu saja adalah korban (dalam kasus-kasus penguntitan umum). Selain memungkinkan korban untuk menderita trauma psikologis seperti rasa tak aman, susah tidur, sering mimpi buruk, dll, penguntitan juga bisa menyebabkan trauma fisik, khususnya bagi kasus penguntitan yang disertai kekerasan. Penguntitan juga bisanya terjadi secara kontinuitas, berulang-ulang. Oleh sebab itu bagi yang memang tidak memerlukan, JANGAN sekali-kali mencoba untuk menguntit orang, apalagi teman sendiri! Sebab, selian menguntit dapat menimbulkan adiksi, efek negatifnya jelas dapat merugikan orang yang dikuntit.
Kata mutiara hari ini:
“Semua orang mendambakan surga, tapi tak ada yang mau pergi ke sana saat ini juga.”
Terkadang Kita Perlu Menulis Nda Jelas Seperti Ini…
November 5, 2007
NDA JELAS IN Monday, October 29, 2007
AAAAAAAAAAAHH……
Bête itebe tepebe iteha be bête bête betetebe tepe tepe pokonya bête lah….
Baru nulis sebentar pake Word 2007 di computer asrama ini malah nge-hang. Mana itu auto correct-nya Word nyebelin banget, masa’ saya mau nulis komputer jadinya malah computer, saya maunya komputer, aseli bahasa Indonesia… kok jadinya malah computer?? Kan saya bukan orang Inggeris, mimpi ke sana aja belum pernah, dasar asal British, computer asrama sok Inggris banget, sih?? Iiiiiiiiih…bete bête I tebe tepebe bête tepehabe pokoknya bête lah, mana itu awal kalimatnya juga kena auto correct segala… padahal kan saya bukan mau belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar seperti pada umumnya guru-guru Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah berkata, berujar, bertutur, bercakap-cakap, bersilat lidah, silat bahasa, bermain kata, berkata main, main berkata, kata main ber…
AAAAAAAAAHHHH…..
Betetetetebebebebeb itebe bête tepebe masanya bête itebe bête tepe tepe betetepe merek pulpen
Duh sebel…. sambel… bebel… mana itu keyboardnya aneh. Masa’ nomor yang ada di bagian atas nda bisa dipake?? Kan lucu kalau saya mesti pake itu program yang namanya On-screen Key board… mau nulis tanda seru (!) aja sulit… SEBEEEL…
AAAAAAAAAAHHHH…..
Saya kan nda punya login AI3, jadinya nda bisa ngenet… padahal ada computer di depan mata, tapi nda bisa apa-apa selain nulis-nulis yang jelas nda jelasnya di computer Asrama yang tak memiliki speaker ini sehingga saya harus make earphone buat ngedengerin murattal mp3 Misyaari Rasyid di Windows Media Player bukan klasik mode…
Ng…?? Kok saya malah mengeluh gini? Padahal saya tidak mengeluarkan peluh, soalnya nda olahraga… ya ia lah!! Wong sedari tadi Cuma nulis-nulis nda jelas doing di computer berwarna hitam dengan tulisan Neo di pojok kanan monitor ini…. Eh, ngomong-ngomong saya pengin ngomong nih, ternyata saya baru tahu kalau Cuma itu ternyata nama hari, lho! Pantesan aja kalau nulis “Cuma” seperti ini pasti secara otomatis dibenerin (biarpun nda rusak) oleh auto correct Word yang nyebelin.
Karena tulisan terdahulu terpaksa hilang bersama ngehangnya computer ini, maka saya terpaksa kembali mengenalkan diri saya yang tidak terkenal ini, yang biarpun pengin terkenal tapi sebenarnya nda begitu suka orang-orang yang dikenal, dan tidak suka mengenal orang lain khususnya menghapalkan nama orang yang ditemui… pokoknya kenal nda kenal yang penting sekarang kenalan dulu, yak? Nama saya kata orang pasaran namun level pasarannya belum melampaui “Arif” atau “Ahmad”… Katanya sih nama saya itu asalnya nama orang jawa, sedangkan nama belakangnya dari sunda. Jadinya campuran deh gitu. Nama saya juga kalau disingkat jadi panggilan yang lucu, yang sebenarnya nda lucu juga namun terpaksa jadi lucu karena banyak orang yang suka manggil saya dengan nama itu. Saking jeleknya nama panggilan itu, makanya saat ini saya sedang mempropagandakan nama panggilan baru, nama yang didapat dari seorang teman, teman yang tidak memanggil saya dengan nama panggilan jelek itu, namun memberikan nama panggilan yang lain yang sama anehnya. Namun setidaknya, ditilik dari level kejelekan, nama panggilan ini cenderung lebih bermutu ketimbang nama panggilan yang berdasarkan penyingkatan nama aseli saya itu…
Yah… sudah panjang lebar begitu tapi akhirnya tidak sehuruf pun nama saya ketahuan. Jadi sebenarnya siapa saya??? Bagi yang mengetahui jawabannya tolong ketik dan kirim ke 5050 atau kirim ke alamat e-mail saya anepusing@yahoo.co.id. Adalah hal yang wajar jika terkadang kita tak mengenal siapa kita sebenarnya, mengapa? Yah, saya tak perlu menjawab pertanyaan ini karena memang tak perlu juga. Yee… ngapain capek-capek mikirin pertanyaan nda jelas begitu…??? Tak usah la ya.
Ngomong-beromong, kok saya menyebut menulis di Word sebagai ngomong, ya? Padahal saya kan menulis, dibilang menulis juga lebih tepatnya mengetik… wong saya nda megang alat tulis apapun kok. Jadi, marilah kita ubah ngomong-mgomong menjadi ngetik-ngetik… oalah, makin nda jelas juntrungannya tulisan… eh, ketikan ini. JUSTRU di ditu kehebatannya!! Kalau orang nulis tersturuktur dan rapi serta gampang dimengerti serta menggunakan bahasa yang baik itu sudah terlalu sering, jadinya untuk apa saya merendahkan diri menjadi orang pada umumnya, wong saya bukan umum kok… nama saya kan He… eh, gawat hampir kelepasan deh, bisa-bisa ketahuan nama aseli saya kalau begini. Namun setidaknya saya bisa bernapas lega… wong yang punya nama depannya “He” kan ada miliaran. Lagipula jenis kelamin saya belum ketahuan dan orang pastinya nda mau susah-susah mikirin siapa nama saya sebenarnya. Kalau ada yang mau repot-repot menganalisa, paling yang bisa dianalisa hanya kalau saya adalah orang Indonesia, dilihat dari bahasa yang digunakan… lalu saya itu nilai bahasanya pasti jelek dan saya adalah orang yang kurang kerjaan lagi otaknya perlu diperiksa kok bisa-bisanya sempet ngetik-ngetik yang ga jelas sambil nungguin waktu kuliah yang baru beberapa jam lagi dimulai padahal mata sudah mengantuk berat gara-gara begadang semalaman dan belum tidur…
Duh gimana ya??? Bagi yang nda tahu “gimana” itu apa saya beri tahu, bukan beri tempe, kalau “gimana” itu adalah singkatan dari “bagaimana” dan lazimnya dipergunakan oleh orang-orang yang tak menghargai kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, seperti saya, dan juga Anda?
Hahahahahahahahahahahaha…
Kenapa saya nulis “Hahahahahahahahahahahaha”? Soalnya “Hahahahahahahahahahahaha” itu artinya saya tertawa, sebab menangis adalah “Hhuhuhuuuuu…” atau yang paling populer versi anak-anak gaul “Hiks, hiks…” Dan meskipun banyak orang bijak yang bilang lebih baik banyak menangis daripada banyak tertawa, tapi saat ini saya benar-benar ladi mood-nya untuk tertawa, toh setelah membaca ulang tulisan ini saya merasa belajar di SD, SMP, SMA selama total 12 tahun kok tak bisa membuat saya lebih waras, ya? Yang salah itu pasti system pendidikan negeri ini yang tida bisa menghasilkan lulusan-lulusan sekolah yang waras… Marilah kita tertawa, untuk diri masing-masing
Tapi, by the way, nulis-nulis nda jelas juntrungannya ternyata enak,lho… apa aja yang sedang terbesik di hati, dan kepala langsung ditulis tanpa harus mikir lama-lama, tanpa harus mikirin diksi yang baik, biar tulisan jadi enak dibaca… tanpa harus nyantumin daftar pustaka, wong kita Cuma ngomong ngasal, kok…
AKU INGIN JADI KOMIKUS YANG JAHAT…
November 5, 2007
AKU INGIN JADI KOMIKUS YANG JAHAT…
Jika Anda melewati gerbang depan ITB di Jalan Ganesha, kadang-kadang Anda akan menyaksikan ada beberapa stand yang bertempat di sana. Biasanya stand-stand ini berfungsi sebagai tempat informasi kegiatan-kegiatan kampus oleh mahasiswa. Namun kadang-kadang mahasiswa FSRD juga sering membuat stand di sana, lebih seringnya untuk men-danus. Yang paling populer, sesuai dengan bidangnya, adalah dengan melayani pembuatan karikatur… Standardnya adalah sekitar 30 ribu- 50 ribu per karikatur, A4 berwarna atau grayscale.
Jadi kepikiran, saya sendiri sering mendapat order membuat komik… mulai dari untuk mengisi buletin sampai untuk kampanye calon ketua Himpunan Mahasiswa tertentu. Biasanya yang meminta order itu adalah teman-teman saya sendiri dan inilah sumber permasalahannya.
Karena teman, biasanya saya nda tega menolak membuatkan komik. Permasalahannya yakni sering kali orderan ini bersifat : gratisan. Biarpun membuat komik boleh dibilang bidang saya, namun ingin saya sampaikan bahwa membuat komik (yang baik) itu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Proses membuat komik sampai finishing (penintaan) pada umunya kira-kira sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
Mencakup:
-pencarian ide dan bagaimana ide itu disampaikan dalam bentuk visual,
-penentuan penokohan, siapa tokoh-tokoh yang akan muncul serta bagaimana ‘karakter’nya
-pembuatan story board, tata panel, agar panjang komik dapat disesuaikan dengan jatah halaman di buletin
Tahap ini pada dasarnya sangat penting dan kebanyakan komikus akan mandek berkarya jika misalnya “Belum dapat ide, nih…” atau “Ah… dipikir-pikir ceritanya garing juga! Mending nda usah, deh…”
2. Tahap sketsa
Mencakup:
-pembuatan sketsa (dengan pensil) di kertas disesuaikan dengan story board, diberi tambahan di sana-sini jika dirasa perlu…
-pengaturan dialog, panel, agar mudah ketika penintaan
-pemberian background secara garis besar…
3. Tahap Finishing
Mencakup:
-penintaan seluruh bagian komik,
-penyelesaian background, baik itu setting tempat maupun effect-backgrounds seperti speed lines, mood effects, dll.
-penghapusan sketsa jika menggunakan teknik langsung dan tidak menggunakan tracing.
4. Lain-lain
Jika menggunakan digital-editing, maka prosesnya bisa bertambah dan berkurang sesuai kebutuhan…
Namun terkadang teman-teman saya itu nda mengerti. Mereka pikir membuat komik itu ‘gampang’ dan tidak memerlukan waktu lama bagi seorang komikus… oleh karena itu terkadang mereka ‘tega’ memberikan deadline yang tidak manusiawi, hari ini diberi order dan besoknya harus selesai. Hmm… memang untuk membuat komik yang asal-asalan, beberapa menit juga cukup. Namun yang saya hadapi adalah teman saya sendiri dan tidak mungkin dong saya memberikan komik asal jadi kepada teman saya, selain tidak enak juga mencemarkan reputasi saya sendiri sebagai calon komikus. Oleh karena itu setiap ada order komik dari teman saya usahakan untuk membuatnya sebagus mungkin, setidaknya untuk standard kampus. Oleh karena itu saya paling benci kalau ada yang berkata, “Heru, tolong buat komik untuk bla-bla-bla, jelek juga nda apa-apa…”
Terkadang mereka (baca: klien) juga kelewatan dalam meminta komik. “Tolong buat komik 1 halaman agar orang jadi termotivasi membaca Al-Qur’an…” atau “Tolong buat komik 1 halaman agar orang mengerti tentang tarbiyah…” atau “Tolong buat komik untuk kampanye xxx, terserah berapa halaman, yang penting visi-misi dimengerti orang dan mereka jadi cenderung untuk mendukung…” Kemudian hal yang paling bikin saya sebel adalah jika sudah muncul statement “Karena bikin komik itu gampang buat kamu, jadinya besok pagi harus udah jadi ya? Soalnya buru-buru nih…”
Saya hanya mahasiswa biasa yang bisa membuat komik, mempunyai kesibukan-kesibukan kuliah dan organisasi serta agenda-agenda pribadi. Ketika saya memasukkan agenda lain (proyek komik, misal), tentu saja sebagai mahasiswa normal saya ingin agar hal ini tidak menggangu perkuliahan. Namun yang pernah terjadi adalah saya harus menunda pekerjaan kuliah demi pembuatan komik meskipun deadline-nya sama.
Memang, dari dulu pun komik disebut sebagai seni rendah, namun apa iya apresiasi (baca: fee) juga harus rendah?? Kalau gambar karikatur 1 halaman A4 yang bisa dikerjakan dalam 30 menit saja setidaknya bisa menghasilkan 50 ribu, maka komik 1 halaman A4 dengan lebih dari 9 panel yang harus dikerjakan semalaman untuk mendapat imbalan 10 ribu pun susah…
Memang saya belum profesional dan proyek saya baru proyek kecil-kecilan, tapi kenapa susah sekali bisa dapat sekedar ‘uang jajan’ dari hal ini. Saya sendiri memang tidak menetapkan tarif, apa memang ini salah ya? Walaupun komik cuma hiburan namun tak bisakah komik menjadi ‘penghibur’ bagi sang komikus sendiri.
Membuat komik dari hati pasti akan sampai ke hati, namun apakah kita mampu membuat orang ceria dengan komik sementara kita sendiri sedang sedih??
…
Karena itulah sering terbesik dalam pikiran, “Aku ingin jadi komikus jahat”
Jika ada yang ‘memesan’ komik maka saya langsung memberikan daftar:
Komik per halaman A4:
- pensil saja 10 ribu, tinta hitam-putih 20 ribu; berwana teknik manual 40 ribu; berwarna digital-editing 100 ribu;
- cerita biasa 20 ribu, cerita menarik 50 ribu; teknik berwarna tambah harga;
- gambar gaya simple-manga 20 ribu, gambar gaya super-realist 50 ribu, gambar asal-asalan 5 ribu; teknik warna tambah harga;
- harga bisa naik tergantung mood dan kesibukan komikus…
- DP setengah harga total, puas nda puas dengan hasil komik DP tidak kembali…
- hak cipta ada pada komikus, royalty bisa diatur, namun tanggung jawab isi komik ada pada klien…
- ada uang komik jalan, tidak ada uang … cari komikus lain sana!!
Namun hal ini hanya ada di kepala saya, tak pernah bisa saya realisasikan… nda tega juga rasanya.
Lagipula sebenarnya tidak ada istilah “komikus jahat”, hal-hal di atas hanya merepresentasikan komikus profesional. Namun bagi saya jika bersikap profesional dikit saja kok rasanya jadi seperti orang jahat, ya… Sekalipun ada komikus jahat, paling (menurut saya) komikus-komikus yang membuat komik yang merusak moral, layaknya film biru, dan semacamnya. Dan rasanya, saya tidak ingin jadi komikus seperti ini…
…bersambung?
The Return Of…
November 5, 2007
Akhirnya … hiks… setelah sebulan menanti, kamera digital kesayangan saya betul juga. Memang bukan kamera “top level”, tapi setidaknya untuk mendapatkan yang satu ini saya sudah menempuh waktu yang lama. Mulai dari meyususun dan mengajukan proposal ke orang tua — bercanda — sampai menanti cairnya dana. Karena dari 4 bersaudara hanya saya yang mendapat kesempatan berkuliah di PTN — meskipun cuma seni rupa — maka orang tua saya sepertinya mengusahakan sebisa mungkin untuk keberhasilan kuliah saya dari segi finansial agar tidak putus kuliah seperti 2 kakak laki-laki saya. Hal inilah yang membuat saya tidak enak. Sebagai mahasiswa seni rupa, ingin rasanya saya tidak merepotkan orang tua lagi. Banyak teman-teman saya di seni rupa yang karena tidak direstui orang tua maka mereka harus membiayai kuliah sendiri. Oleh karena itu saya ingin sekali segera mandiri.
Setahun lalu, di tengah kesulitan ekonomi, akhirnya orang tua saya menyediakan dana untuk membeli sebuah kamera digital. Walaupun hanya cukup untuk membeli kamera di bawah 1.5 juta, saya sudah bersyukur sebab sebuah kamera memegang peranan yang penting bagi seorang komikus seperti saya. Perihal pencarian data untuk sebuah visual komik, realitas yang mampu dibekukan oleh sebuah kamera memegang peran vital untuk menghasilkan suatu representasi yang akurat. Dengan kata lain, kamera digital ini sudah seperti partner hidup saya. Dan partner penting saya itu RUSAK….
Berawal dari kesalahan membawa kamera saya pulang ke Bekasi. Di rumah, saudara-saudara saya yang “belum pernah melihat kamera digital” pastinya takjub begitu saya membawanya. Akhirnya yang terjadi adalah “Pinjam, dong…” “Mas, kamera mana… mau moto-moto, nih” “Mas, kameraanya…” Akhirnya waktu liburan panjang semester lalu, kamera saya berakhir sebagai “mainan” saudara-saudara saya…
Dan ketika saya kembali ke Bandung, barulah saya menyadari kalau kamera saya sudah berubah.
Yah, foto di atas contohnya… Sepertinya ada yang salah dalam sensor cahaya kamera saya, “over exposure” kalau kata mbak Data Script. Hasil foto bergaris, kalau kondisi sedang terang misal oleh sinar matahari, maka hasil foto akan sangat terang…
Karena sudah tidak bisa menghasilkan tangkapan gambar yang baik, terpaksa saya haus menservisnya. Untungnya masih ada garansi, sehingga saya tak perlu mengeluarkan biaya reparasi.
Namun memang kita baru menyadari arti penting sesuatu jika sesuatu itu tidak ada.
Akhirnya saya kerepotan sendiri ketika ada keperluan penting.
Saya tidak bisa lagi melayani jasa fas foto gratisan untuk teman-teman saya,
saya tidak bisa lagi mendokumentasi event-event penting,
saya tidak bisa lagi mencari data untuk keperluan 24hour comic, UTS saya,
Beberapa hari setelah lebaran kemarin, pada akhirnya reparasi kamera selesai juga. Seharusnya sesuai prosedur, reparasi selesai paling lama 2 minggu namun karena kamera saya stok lama maka pihak Data Script kesulitan mencari spare parts. Menunggu kiriman spare parts dari ibukota menjadikan waktu reparasi mulur menjadi sebulan lebih.
Pada akhirnya sih kamera saya betul juga, Alhamdulillah, jadi untuk selanjutnya saya berjanji untuk memanfaatkannya sebaik mungkin, merawatnya, tidak meminjamkan sembarangan. Sampai saya bisa mandiri, menjadi seorang komikus yang besar.
