Makanan Paling Nikmat Sedunia adalah…
March 14, 2008
Kisah ini berawal dari kesalahan fatal saya dalam mengelola keuangan pribadi. Kira-kira seminggu yang lalu, uang di dompet saya belanjakan beberapa komik. Memang sisa beberapa ribu, namun saya tak menyadari saat itu jikalau ‘beberapa ribu’ tidaklah cukup untuk biaya hidup beberapa hari.
Hari Minggu kemarin, tepatnya sore hari, uang di dompet tersisa sekitar 5000-an. Stok kas di ATM udah habis, dan ibu saya baru bisa mengirim uang sekitar hari Selasa berikutnya. Bingunglah saya bagaimana bisa dengan uang segitu, bisa survive sampai hari Selasa. Karena sekarang saya tinggal di kosan yang nda ada perabot apa pun, tentunya tidak bisa happy-happy ngirit masak mie instant seperti ketika di asrama dulu. Terpaksalah saya membeli makanan termurah yang bisa saya dapat di sekitar kosan, dan pilihan pun pada akhirnya jatuh pada mie goreng seharga 2500. Saya beli double, satu dimakan malam hari dan satu lagi buat sahur. Yup, barangkali saya harus berpuasa sunnah….
Hari Senin, GYAAAAAAA…..!!!!! Uang di dompet benar-benar habis, untungnya masih ada recehan seratus, dua ratus, yang bertebaran di sekitar kamar saya, di tas, dan di berbagai tempat. Setelah dikumpulkan, akhirnya cukup untuk membeli 2 roti 1000-an untuk mengganjal perut. Alhamdulillah, saya sempat minjam uang buat makan di kantin Gelap Nyawang*. Malamnya pun, saya beruntung ditraktir makan oleh teman satu studio saya, sebut saja Danuh 21 tahun.
Hari Selasa, hari yang dijanjikan, namun sampai sore uang belum juga ditransper lewat ATM. Saya menjalani perkuliahan hanya dengan berbekal sarapanĀ 1 roti 1000-an, dibeli dengan uang terakhir saya. Menjelang siang, lapar pun kembali menyerang. Rasanya ingin ngutang lagi ke teman, tapi malu juga soalnya kalau hutang melulu. Lagipula saya cukup pendiam, sehingga hampir tak ada orang yang tahu permasalahan kanker kronis saya. Untungnya ketika Genardi, teman satu studio saya juga, mengajak saya ke kantin Arsitektur saya sempat menolak dengan beralasan tidak punya uang, beliau pun menjawab,”Gua yang bayarin, deh…” Mendengar kata-kata ‘ajaib’ itu, saya pun tak bisa menolak.
Hari mulai malam, energi dari nasi putih dan ayam goreng porsi mini yang saya makan siang hari sudah habis. Setelah acara mingguan KISR bersama TPB FSRD 2007, kami kembali ke studio. Kami cukup terkejut ketika gedung SR sudah gelap gulita tergembok dan hilang peradaban. Mungkin mahasiswa yang meramaikan gedung ini semuanya pergi ke Jakarta untuk menghadiri pameran seorang mahasiswa SR juga. Mungkin ini sebabnya, petugas menggembok gerbang SR lebih awal dari biasanya, toh di SR tak ada orang… kemudian kami pun pergi dulu ke tempat makan depan gerbang SR, ada Zul, Arif, saya, dan Danuh. Rencananya saya dan Danuh akan kembali ke studio setelah selesai makan, sebab biarpun gerbang SR dikunci ada kemungkinan pintu studio sendiri belum dikunci… meskipun kemungkinan ini kecil mengingat SR sudah gelap gulita. Entah kenapa saat itu saya memutuskan untuk tidak makan, padahal ada teman saya yang menawari untuk membayarkan. Hati kecil saya sebenarnya ingin sekali menerima tawaran itu, perut pun sudah sangat keroncongan, namun ego berargumen “Malu rasanya kalau dibayarin terus”. Acara makan selesai, dua teman saya pulang sedangkan saya dan Danuh kembali ke studio. Ternyata betul dugaan kami, studio pun sudah terkunci. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang juga, meskipun si Danuh cukup kesal mengingat tas dan sepatunya masih ada di dalam studio.
Perut tetap kelaparan, kami pun pulang ke arah Cisitu. Danuh yang bayar semua ongkos saya... duh, dibayarin terus… Karena Danuh tahu saya belum makan dari tadi, dia pun mengajak saya ke rumahnya. Kali ini saya pun tidak menolak dan akhirnya saya pun menikmati nasi putih dengan lauk baso, serta kerupuk emping yang lezat…
Memang, saat ini saya sudah tidak kelaparan lagi. Ibu saya mentransfer sejumlah uang, Rabu sore kemarin. Namun saya pun menyadari satu hal ketika teman-teman saya berkali-kali mentraktir saya: Betapa nikmatnya bisa makan ketika kita memang lapar! Selama ini memang saya kurang bersyukur, tak bisa mengelola uang dengan baik.
“Makanan yang paling nikmat sedunia bukanlah makanan yang paling mahal serta makanan yang dibeli di kafe atau Rumah Makan ternama. Makanan yang paling nikmat adalah makanan yang kita makan ketika kita benar-benar lapar…”
8 Hal Mengenai Saya…
March 14, 2008
—————————————————————————————————————————————-
Berawal dari sini==> http://atarashiikaoru.multiply.com/journal/item/15/Youve_got_tagged
Sebenarnya saya nda begitu hobi tentang hal-hal seperti ini, tapi apa boleh buat…hehehe. Saya didaulat oleh ‘kera sakti’ (baca: kaka pertama) dari Shinpo Family untuk menuliskan, yah… bisa Anda lihat di judul posting saya. Namun saya pikir lagi tak ada salahnya juga toh hitung-hitung sebagai sarana untuk saling mengenal… ya..ya.. Oleh karena itu saya coba saja. Mari kita mulai. (^o^)
- Orang yang melupakan tanggal lahirnya sendiri
- Menyukai 3 hal khusus
- Penggemar jaket
- Pengguna sandal sejati
- Pejalan kaki yang handal
- Senang kesendirian, namun lebih menyukai kebersamaan
- Pemikir yang nda jago mikir dan ceroboh
- Pengejar impian
Okeh, kalau Anda nda keberatan izinkan saya merinci hal-hal itu…
1. Orang yang melupakan tanggal lahirnya sendiri
Mungkin ini terdengar mengerikan, tapi saat ini saya memerankan diri orang lain yang lebih tua beberapa minggu dari saya. (JREENG!!). Hal lengkapnya mungkin bisa dilihat di posting saya beberapa waktu yang lalu…
2. Menyukai 3 hal khusus
Urutannya bisa berubah tergantung kondisi hati, tapi kira-kira tiga hal itu adalah: komik, RPG, dan murattal. Saya senang sekali membaca komik action-adventure dan senang pula membuatnya. Untuk menambah wawasan saya, bermain RPG di PS dan PS2 cukup bagus untuk referensi. Kemudian, saya lumayan senang juga mendengarkan murattal sembari bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari. Favorit saya adalah Misyaari Rasyid, lalu Mathrud, Al Kanderi, dll. Bagi yang belum familiar dengan istilah murattal, kira-kira murattal adalah pembacaan Quran secara tartil. Banyak dijual dalam bentuk mp3 dan cukup baik untuk mengisi hari-hari Anda yang monoton, hitung-hitung menambah hapalan Quran juga.
3. Penggemar jaket
Yak, koleksi jaket saya cukup banyak (meskipun yang sering dipakai cuma satu atau dua), mulai dari jaket almamater ITB tercinta, jaket Majelis Ta’lim, sampai jaket ILUSI. Tapi beberapa jaket saya rusak gara-gara terkena cat minyak…hiks
4. Pengguna sandal sejati
Yeah!! Hidup sandal!! Sebagai mahasiswa mungkin ini tak bisa dijadikan teladan, tapi toh saya mahasiswa Seni Rupa, jadi hal ini bisa ditoleransi. Satu-satunya alas kaki saya (ini serius) adalah sandal jepit swallow warna biru. Benda pusaka ini saya pakai setiap hari, baik itu untuk keperluan kuliah ataupun pergi ke berbagai tempat. Namun, ada beberapa dosen yang tak menghendaki mahasiswa mereka memakai sandal di kelas, oleh karena itu untuk menyiasatinya saya menyimpan sepatu saya (pinjam dari teman-red) di studio lukis di kampus. Jadi jika ada perkuliahan yang mengharuskan terfungsikannya sepatu, saya ke studio dulu untuk menganti alas kaki, setelah itu kembali sandal jepit berjaya…
5. Pejalan kaki yang handal
Entah bisa disebut handal atau tidak, namun saya cukup sering berjalan kaki. Mungkin karena malas naik angkot, atau memang jarang punya uang buat bayar angkot, tapi saya jamin deh banyak berjalan kaki lumayan menyehatkan, lho. Kalau sedang senggang, saya juga kadang-kadang berjalan kaki tanpa arah berkeliling kota Bandung… sembari melihat-lihat pemandangan kota yang asik.
6. Senang kesendirian, namun lebih menyukai kebersamaan
Pada dasarnya saya cukup pendiam dan cukup menikmati kesendirian saya dengan melamun, membaca buku, atau main RPG. Namun saya juga senang berkumpul dengan orang-orang yang saya anggap sebagai teman saya.
7. Pemikir yang nda jago mikir dan ceroboh
Yak, ini cukup aneh. Meskipun pada dasarnya saya tipe orang yang sistematis, tapi saya tak memanfaatkan hal itu dengan maksimal. Justru seringkali saya mengerjakan bermacam hal secara intuitif… Hal ini dapat dilihat dari tidak jelasnya hubungan antara posting saya satu dengan lainnya. Hmm… begitulah… Saya juga terkadang ceroboh, sering menaruh dompet dan HP sembarangan, pernah dua kali kehilangan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)
8. Pengejar impian
Untuk hal yang ini mah saya mohon doa restu aja dari teman-teman semua (^o^). Banyak hal yang menjadi impian saya, mulai dari keinginan untuk menjadi komikus, hasrat untuk memiliki studio komik sendiri, impian untuk menjadi penghapal Quran, cita-cita untuk menjadi orang yang besar, serta harapan untuk menikah kelak, hehehe…
Waduh… akhirnya beres juga. Hmm, jadi saya harus memilih 8 orang berikutnya untuk diberi tugas serupa? Saya orangnya nda tegaan, jadinya nda usah aja ya… hehehe