Hitam Putih

April 5, 2008

Sekilas Tentang Hitam Putih

Apakah mempunyai musuh dan teman merupakan keniscayaan bagi setiap manusia?
Apakah ada manusia yang tidak memiliki musuh sama sekali?
Sebaliknya adakah manusia yang tidak memiliki teman seorang pun?

Jika kita membagi dunia ke dalam 2 warna: hitam dan putih, maka mungkin warna hitam adalah representasi dari sisi gelap manusia dan warna putih sebaliknya mencerminkan bagian terang benderang.

Namun dalam teori warna sendiri, hitam dan putih tidak digolongkan sebagai warna, melainkan value. Tentu saja value ini sendiri tidak hanya terbagi dalam satu hitam dan satu putih saja namun terdiri dari sekian banyak gradasi dari hitam ke putih. Inilah yang disebut sebagai abu-abu.

Dikaitkan kembali ke realita sosial, masih adakah hitam yang benar-benar hitam dan putih yang benar-benar putih? Ataukah kedua titik puncak value ini sudah tak ada sehingga di dunia ini hanya terdapat value abu-abu? Semakin abu-abu ini dekat dengan hitam, semakin banyaklah “isi” hitam dalam abu-abu ini, demikian pula sebaliknya. Namun kita harus mengetahui, abu-abu yang paling dekat dengan hitam pun di dalamnya masih ada putih sedangkan putih yang tercampur dengan hitam setetes kecil saja akan menjadi abu-abu.

Sungguh repot sekali orang-orang yang hanya membagi dunia menjadi dua hal: hitam-putih, jahat-baik, musuh-teman, benar-salah. Seandainya jika suatu saat mereka menyadari diri mereka bukan hitam tapi tidak putih, maka harus berada pada golongan yang mana?

Warna dan Identitas

Setiap manusia memiliki warna masing-masing sebagai identitas. Bilang saja seperti ini: si A itu merah, si B itu sangat coklat, namun si D adalah hijau dan ungu. Tak ada batasan berapa jumlah maksimal warna yang dapat digunakan sebagai identitas. Hanya saja semakin sedikit jumlah warna yang dijadikan seseorang sebagai identitas maka semakin ber”karakter”lah orang itu.  Sebaliknya orang yang punya terlalu banyak warna cenderung tak berkarakter.

Dengan warna-warna sebagai dasar identitas, pembentukan karakter ditentukan oleh bagaimana warna-warna itu diolah, dikomposisikan. Ada orang yang menggunakan pola monokromatik sebagai warna dirinya sementara ada orang lain yang mementingkan efek kontras yang tegas. Ada juga yang cenderung lebih nyaman dengan perpaduan warna yang harmonis.

Namun bagaimana pun formula warna identitas seseorang, tak akan bisa lepas dari pengaruh value. Valuelah yang membuat warna menjadi warna. Identitas diri yang gelap, suram, namun  terkesan ekslusif, mungkin didominasi oleh value hitam. Sebaliknya value putih memberi efek terang, lembut, pucat, dan sebagainya. Oleh karena itu mengenal seseorang, berteman dengan seseorang, berarti kita harus menerima semua warnanya beserta value yang menyertainya sebagaimana orang itu harus melakukan hal yang sama kepada kita. Mengenal warna diri sendiri serta mengetahui warna orang lain menjadi sesuatu yang prinsipil dalam hidup ini, yakni: pencarian jati diri.

Hitam Putih Sosialisasi

Proses sosialisasi dalam hidup ini adalah proses mewarnai dan terwarnakan. Pengaruh darri lingkungan mulai dari keluarga sampai masyarakat bisa mewarnai kita, dengan kata lain memberi identitas. Untuk kebalikannya, rasanya diperlukan usaha yang lebih ketika kita ingin memberi warna pada lingkungan, memberikan identitas kita pada lingkungan.

Pada akhirnya hitam atau putih lah yang menjadi puncak pencapaian jati diri. Keduanya merupakan sesuatu yang absolut. Mereka merupakan simbol kekosongan sekaligus isi. Hitam dan putih adalah kondisi ideal di mana semua warna menjadi satu atau semua warna kehilangan warnanya. Maka apakah tujuan kita? Mecapai putih yang absolut? Ataukah hitam murni yang menjadi akhir dari perjalan warna kehidupan kita?

—————————————————————————————————————————————-
terinspirasi oleh perkataan Reid Hershell dalam RPG PS 1 dalam “Tales of Destiny 2″