Komik dan Cerlang Budaya Indonesia
September 17, 2008
Komik dan Cerlang Budaya Indonesia
oleh: Heru Setiawan (FSRD ITB)
Persepsi dan Presentasi
Sebelum bicara banyak soal komik dan sejenisnya, ada baiknya kita hilangkan dulu persepsi buruk apa pun tentang komik. Komik bukanlah bacaan hiburan, komik bukanlah “benda terlarang” bagi kaum intelektual, komik bukanlah virus perusak moral bangsa, komik bukanlah rubrik pelengkap dalam koran-koran, komik bukanlah identifikasi dari “anak kecil”, komik bukan pula seni rendahan, dan yang terpenting komik bukanlah buku. Anggap saja komik sebagai suatu objek yang objektif dengan segala potensi visual dan non-visualnya. Komik merupakan cara bercerita atau menyampaikan sesuatu dengan gambar.
Will Eisner dalam buku “Comics and Sequential Art” menyebutkan bahwa “komik” adalah “sequential art” atau “seni berturutan” kemudian Scott Mc Cloud dalam “Understanding Comics”-nya menambahkan bahwa “seni berturutan” itu harus terjukstaposisi dalam piktorial. Praktisi film Indonesia Dwi Koendoro Br. yang juga menggeluti dunia perkomikan dalam buku terbarunya “Yuk, Bikin Komik” mengatakan komik adalah the magic of still pictures and written words. Penulis sendiri cenderung menyebut komik sebagai gambar bercerita yang sekuensial (berturutan).
Permasalahannya adalah dengan luasnya definisi komik yang disebutkan maka banyak pula yang dapat dikategorikan sebagai komik. Scott Mc Cloud dalam buku yang sama memasukkan naskah bergambar dari Indian kuno, lalu Permadani Bayeux, sampai lukisan Mesir (dengan mengecualikan Hierogliff yang digolongkannya sebagai tulisan) sebagai komik. Bahkan buku panduan pemilik kendaraan bermotor maupun manual alat elektronik dapat disebut komik. Pertanyaan selanjutnya muncul: kalau begitu apakah komik yang tertua? Jawabannya bisa saja lukisan gua zaman pra-sejarah atau semacamnya.
Hal yang dapat dipetik dari bahasan di atas bahwa sadar tidak sadar, percaya tidak percaya, komik telah hadir sepanjang perjalanan hidup manusia dari zaman dulu hingga sekarang. Ada alasan mengapa dalam bagian awal tulisan ini penulis menyebutkan bahwa ada baiknya kita tak berpersepsi buruk dulu tentang komik. Kita bisa “buta” akan potensi yang dimiliki oleh komik. Mencap komik sebagai sesuatu yang buruk berarti juga mencap buruk karya-karya mulai dari lukisan gua zaman prasejarah sampai relief candi Borobudur. Mencap buruk naskah bergambar dari Indian kuno sampai storyboard untuk perfilman.
Potensi Komik Sebagai Cara Bercerita
Meskipun sastra visual juga dapat menyampaikan hal yang lugas (denotatif) dan simbolik (konotatif), berbeda dengan sastra tulisan yang menyerahkan penggambaran objek kepada imajinasi pembacanya, sastra visual dapat mendoktrin dalam hal itu. Mendoktrin dalam persoalan bentuk. Bentuk yang ditawarkan dalam sastra visual sudah saklek sesuai keinginan pembuatnya. Hal ini sering disebut sebagai kelemahan komik, yang merupakan sastra visual, dibandingkan novel : tidak membiarkan pembacanya berimajinasi. Namun kelemahan itulah sekaligus kelebihan komik : to the point story telling. Bayangkan dua hal, yang pertama adalah sebuah paragraf berisi petunjuk tentang bagaimana membuat cangkokan tanaman dan yang satunya lagi adalah komik tentang hal yang sama. Pesan akan lebih mudah dimengerti melalui media visual. Buku-buku teks pelajaran yang baik biasanya menyertakan ilustrasi-ilustrasi yang gunanya untuk men”jangkar”kan makna atau pesan. Mungkin dalam kasus ini tepatlah sebuah quotation “Satu gambar menyampaikan lebih banyak hal dari ratusan kata”.
Penggunaan media komik sebagai cara bercerita atau menyampaikan pesan yang mendoktrin bentuk sudah banyak dipakai sampai saat ini. Di Indonesia sendiri buku-buku seperti “Lagak Jakarta”, “Komik Peradaban”, “Kartun FISIKA”, dan lain-lain, banyak beredar di Gunung Agung maupun Gramedia dan sebagian besar best seller. Buku “Understanding Comics” Scott Mc Cloud sendiri sebenarnya adalah buku teori berat yang dikemas dalam wujud komik sehingga mudah dicerna. Hal-hal tersebut merupakan bukti bahwa komik, seperti kata Dwi Koen, memiliki “sihir”nya tersendiri.
Di sini kita baru membahas potensi bercerita dari komik, belum sampai pada eksplorasi visual pada komik itu sendiri. Sayangnya hal inilah yang sering diperdebatkan oleh sekian banyak pemerhati komik, praktisi komik, penggemar komik, khususnya di negeri tercinta kita Indonesia di mana katanya komiknya belum beridentitas. Komik Indonesia itu apakah harus seperti komik-komik dahulu ketika masa keemasan ataukah hal itu sudah kuno dan komik Indonesia harus punya wajah baru meski dengan meminjam gaya asing seperti komik Jepang? Entah yang mana yang paling benar namun satu yang saya garis bawahi. Jika perdebatan tentang komik Indonesia, maafkan saya, hanya sebatas ini, maka selama ini kita hanya memperdebatkan “permukaan” saja. Bukankah masih ada ketrampilan yang masih harus diasah oleh setiap pembuat komik. Kemudian ada struktur keilmuan dalam pembuatan komik sendiri dan yang lebih jauh lagi: gagasan. Apakah yang hendak kita sampaikan melalui komik. Potensi bercerita yang saya sebutkan di atas hanyalah satu dari sekian potensi yang dimiliki oleh komik sebagai medium dalam menyampaikan gagasan.
Cerlang Budaya yang Terlupakan
Local genius atau istilah Indonesianya “cerlang budaya”, secara sederhananya adalah kebudayaan yang khas dari suatu daerah. Dengan kata lain kebudayaan yang “hanya ada” di daerah yang bersangkutan itu. Selanjutnya jika kita bicara tentang kebudayaan tentunya tak lepas dari tiga bentuk kebudayaan itu sendiri, yakni: kebudayaan sebagai ide, gagasan; kebudayaan sebagai pola interaksi antar manusia; kebudayaan sebagai benda-benda, artefak. Cerlang budaya pun tentunya meliputi tiga hal itu.
Indonesia dikenal juga sebagai nusantara karena pada dasarnya Indonesia memakai konsep negeri kepulauan (archipelago), negeri dengan banyak pulau (nusa). Atas dasar ini saja wajarlah bila Indonesia memiliki banyak kebudayaan, atau yang lebih spesifik lagi, Indonesia berpotensi memiliki banyak cerlang budaya. Dalam bahasan ini cerlang budaya itu adalah komik (artefak).
Komik dalam sejarah Indonesia sudah ada jauh sebelum bangsa ini mengenal tulisan. Gambar-gambar prasejarah di gua-gua yang dapat ditemui di beberapa pelosok Indonesia, boleh dibilang sebagai cikal bakal komik. Bentuknya sederhana namun tujuan dasarnya sama yaitu menyampaikan sesuatu. Diperkirakan terjadi sekitar zaman neolitikum awal ataupun mesolitikum akhir di mana manusia prasejarah mulai menetap dan memiliki waktu luang. Kemudian beberapa zaman selanjutnya, “komik Indonesia” yang terkenal dapat kita temui pada relief-relief candi Borobudur. Menurut Prof. Primadi, guru besar FSRD ITB yang menulis buku “Bahasa Rupa”, para turis asing pun terkejut ketika tahu bahwa ternyata relief candi Borobudur dapat dibaca. Wayang beber, cerita wayang yang digambar pada gulungan kertas, pun merupakan “komik Indonesia” yang khas. Gambar-gambar bercerita pada daun lontar di Bali, dan masih banyak lagi cerlang budaya Indonesia dalam bentuk “komik”. Semua ini menjadi cikal bakal benda-benda budaya lain seperti wayang kulit, wayang golek, dan sampai pada bentuk “komik” yang populer saat ini yang dapat kita temui pada koran-koran, majalah, buku komik, atau internet. Tentu saja bukan Indonesia saja yang memiliki cerlang budaya komik, banyak negara-negara lain yang juga memilikinya, pastinya dengan sejarahnya masing-masing.
Cerlang Budaya dalam Komik Masa Kini
Sekarang marilah kita membahas dunia perkomikan Indonesia masa kini, khususnya ketika bentuk komik seperti yang lazimnya diketahui orang-orang sekarang. Bolehlah kita bagi masa perkembangan komik Indonesia ke dalam dua zaman. Pertama adalah komik-komik Indonesia dulu, yang pernah mengalami masa keemasan di mana komik karangan komikus Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Selanjutnya adalah komik Indonesia masa kini di mana komikus-komikus muda berkarya yang sayangnya harus bertarung dan bertahan dari serbuan komik-komik asing (luar negeri), bahkan beberapa menerima mentah-mentah “bahasa komik” asing tanpa filter.
Perbedaan komik-komik Indonesia masa kini dengan komik-komik Indonesia pada zaman keemasan secara garis besar dapat ditinjau dari segi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan komik Indonesia dulu dibanding sekarang yang paling kentara adalah dari segi teknik gambar. Meskipun pada masa kini perkembangan rekayasa digital sudah cukup maju, justru hal inilah yang melemahkan komik Indonesia masa kini. Kemudahan yang ditawarkan oleh komputer malah menimbulkan kemalasan untuk mendalami teknik dan ketrampilan dalam membuat komik, khususnya secara manual. Komikus Indonesia dulu memiliki skill yang prima dan mumpuni, serta dengan teknik tinta hitam putih dan teknik arsir mampu mereproduksi gambar yang maksimal, berbeda dengan komikus muda yang cenderung terlalu mengandalkan kemampuan komputer khususnya dalam mengolah background. Komik Indonesia masa kini sebaliknya unggul dalam “bahasa komik”nya, terlebih dengan pengaruh dari komik-komik luar negeri seperti komik Jepang (manga), komik China, komik Amerika, dan lain-lain. Variasi dalam gaya bercerita, tata panel, permainan sound effects, tema cerita, dan lain-lain, merupakan beberapa kelebihan komik Indonesia masa kini. Sayangnya dengan keunggulan dan kekurangan masing-masing, penulis berpendapat bahwa komik Indonesia dari dua zaman yang berbeda itu belum dapat saling melengkapi sehingga terlahir komik Indonesia dengan skill yang prima namun dengan gaya bercerita dan tata visual yang variatif serta tidak monoton. Hal ini diperkirakan karena adanya missing link dalam perkembangan komik Indonesia dari era dulu ke era saat ini.
Tak ada salahnya kita melihat perkembangan komik di negeri di mana komik sudah menjadi industri tersendiri, yaitu Jepang. Bedanya dengan di Indonesia, di Jepang apa pun sudah menjadi cerita komik. Komik petualangan yang bersetting dunia khayal memang populer, namun banyak juga komik yang mengambil latar kehidupan sehari-hari. Komik olahraga misal, dari sepakbola, basket, baseball, voli, tenis, bahkan golf pun dapat diangkat menjadi sebuah serial komik. Komik profesi juga cukup terkenal seperti komik tentang pemadam kebakaran, komik kedokteran, komik tentang kementrian keuangan, dan lain-lain. Komik yang mengangkat tema kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, pun dapat kita jumpai dengan mudah. Komik-komik di Jepang bahkan biasanya digolongkan sesuai dengan sasaran pembacanya, ada komik untuk remaja laki-laki (shonen), remaja perempuan (shojo), bahkan ada komik khusus dewasa. Kesemua komik itu terbagi ke dalam banyak genre mulai dari action-adventure, drama, komedi, misteri, dan lain-lain. Salah satu hal unik yang dapat kita temui dalam komik Jepang adalah bahwa sering kali komikus menyisipkan kebudayaan-kebudayaan Jepang dalam komik mereka, seperti festival-festival perayaan, pekan kebudayaan sekolah, pakaian tradisi, dan berbagai hal lainnya. Hal ini tentu menguntungkan Jepang mengingat komik Jepang sudah tersebar ke berbagai pelosok dunia sehingga jika orang luar Jepang membaca komik Jepang, mereka mau tak mau akan mengenal ”kebudayaan” Jepang. Boleh dibilang dalam hal ini orang Jepang telah sedikit banyak memasukkan cerlang budaya mereka ke dalam komik.
Bagaimanakah dengan komik Indonesia? Beberapa komikus Indonesia dulu boleh dibilang sudah memasukkan kebudayaan-kebudayaan Indonesia ke dalam komik mereka. Komik persilatan bersetting Indonesia lampau setidaknya mengenalkan tentang salah satu kebudayaan Indonesia dari segi perkembangan ilmu kanuragan (bela diri) dan bahkan arsitektur dan fashion Indonesia zaman kerajaan dulu dapat terangkat. Bagaimana dengan komik Indonesia sekarang? Sayangnya akibat gempuran budaya asing, termasuk komik, generasi muda Indonesia masa kini cenderung melupakan budaya-budaya mereka. Hal ini juga berimbas pada komik yang mereka buat seperti komik petualangan yang justru bersetting dunia khayal. Jarang sekali komik Indonesia saat ini yang mengambil setting dunia sehari-hari, padahal dengan mengambil setting tersebut saja setidaknya komikus sudah mengangkat budaya Indonesia, paling tidak dari latar tempatnya. Bukannya menyalahkan komikus muda kita namun penulis mengakui bahwa komik yang mengangkat kehidupan sehari-hari memang komik yang sulit untuk dibuat. Dibutuhkan referensi yang sangat banyak untuk setting tempat dan semacamnya serta diperlukan teknik yang baik agar dapat memproduksinya ke dalam komik. Memang ada beberapa komik yang mengangkat tema kehidupan sehari-hari (seperti komik terbitan Dar! Mizan), sayangnya kecenderungan komikus untuk mengabaikan background membuat komik-komik ini tidak maksimal. Tentu saja untuk mengangkat kebudayaan Indonesia dalam komik saat ini, sebagaimana dilakukan komikus Jepang, sangat sulit jika para komikus tidak menguasai teknik untuk merealisasikan hal itu. Oleh karena itu penulis mengajak seluruh insan negeri yang berniat menghidupkan kembali komik Indonesia untuk tidak memperdebatkan permukaan (baca: gaya komik) melainkan mengasah kemampuan dulu agar apapun gaya dan tema yang diangkat, komik yang dibuat dapat maksimal.
Dengan jumlah budaya yang segitu banyaknya dan keragamaman yang segitu banyaknya pula, seharusnya komikus kita tidak kekurangan bahan untuk diangkat menjadi sebuah komik. Bukankah belum ada (setahu penulis) komik bulutangkis (yang merupakan olahraga andalan Indonesia)? Komik yang menceritakan petualangan penjelajah yang menyusuri pulau-pulau nusantara juga sepertinya seru, bukan? Atau mengapa kita tidak membuat komik tentang masakan Indonesia? Jika saja perspektif kita tentang komik sudah cukup luas, maka kita tak akan menganggap remeh lagi hal satu ini. Jika saja para komikus muda kita mau membuka mata dan melihat lebih dekat negeri ini, tentu mereka tak akan kehabisan ide cerita dan bisa menghasilkan komik yang mengangkat nama (serta budaya) Indonesia. Sayangnya biarpun ada beberapa komikus yang membuat komik seperti itu, kebanyakan mereka baru bisa sampai pada level indie yang pembacanya terlalu terbatas.
Tentu saja merupakan kebebasan setiap komikus untuk menentukan komik seperti apa yang mereka buat. Meskipun demikian marilah kita kembali ke sebuah dasar: apa yang ingin kita sampaikan? Setiap komikus tentu memiliki hal yang ingin disampaikan dalam komik mereka, bukan? Salah satu hal yang menurut penulis dapat membuat komik Indonesia menjadi ”lebih Indonesia” adalah dengan meniupkan sedikit ”nafas” ke-Indonesia-an ke dalam komik-komik tersebut. Hal yang dapat diangkat sangatlah banyak dan kita hanya tinggal memilih saja. Komik profesi, komik olahraga, komik anak sekolah, belum banyak segi kehidupan kita yang sudah ”tersentuh” komik. Individu-individu kreatif dan terampil penggemar komik rasanya ada di mana-mana. Permasalahannya hanyalah kematangan teknik, kebijakan wawasan, dan rasa cinta negeri yang masih kurang. Meskipun begitu, jika ada kemauan tentu semua itu merupakan rintangan yang tidak mustahil untuk dilalui. Komikus-komikus dari Jepang sudah berhasil melalui rintangan itu, kapankah giliran kita? Mari kita perjuangkan komik Indonesia!