The Lone Me (2)

September 18, 2008

Ketika aku berkumpul bertiga bersama Arif dan Zul…biasanya mereka berdua yang mengobrol. Aku hanya diam mengamati mereka asik dengan obrolannya.
Entah kenapa, jika hal ini terjadi aku memilih untuk diam. Ngikut nimbrung obrolan mereka pun paling diriku cuma bertahan semenit dua menit. Selanjutnya mereka dua orang itu akan asik ngobrol berdua lagi…
Sebenarnya bukan cuma ketika dengan Arif dan Zul saja… intinya jika aku berjalan bertiga, dua orang yang lain akan asik ngobrol dan aku hening

Mengapa bukan aku saja yang menguasai pembicaraan??
Yah… kurasa hal itu mustahil, toh aku bukan tipe berkepribadian dominan.
Daripada ada orang lain yang merasa ‘dikacangi’ lebih baik aku saja yang ‘dikacangi’, lagipula karena pada dasarnya aku pendiam maka hal ini bukan masalah bagiku.

Kasus lainnya,
Aku sering berkunjung ke kosan teman-teman yang akrab denganku. Mungkin itu waktu mau numpang mengerjakan tugas atau sekedar main, menghabiskan waktu. Hal ini semata-mata kulakukan untuk lebih mengakrabkan diri dengan mereka. Toh, seseorang main ke tempat temannya adalah sesuatu yang lumrah, bukan?
Silaturahmi, mungkin.

Namun,
sebaliknya…
Sampai saat ini, hampir tak ada seorang pun dari mereka yang dengan sengaja bertandang ke tempatku, entah itu sewaktu aku masih di Jl.Plesiran 19, di Asrama Masjid Salman, atau sekarang di Jl. Cisitu 103. Paling mereka hanya ’sekali’ saja datang ke kosanku. Itu pun yang pertama saja, untuk sekedar mengetahui “Oh, si Heru kosannya di sini”. Selanjutnya mereka tak pernah berkunjung lagi sekali pun.
Sekalinya ada yang berkunjung ternyata penagih hutang…walah…

Terkadang aku berpikir, apakah pertemanan ini cuma satu arah??
Aku selalu menganggap mereka teman. Apakah mereka juga menganggapku demikian?
Heh…kurasa pemikiranku terlalu berlebihan.
Mereka pastinya menganggapku teman. Hanya saja mereka malas berkunjung ke kosanku, itu saja…

***

Sewaktu di asrama dulu, aku selalu menghabiskan malamku bersama dengan saudara-saudara seasrama. Ada sekitar 28 orang lah. Satu kamar 4 orang. Cukup ramai.
Namun sekarang,
setiap malam adalah malam yang sepi…
terlebih bagiku yang sulit tidur di malam hari,
malam terasa sangat panjang…

Jika pagi hari tiba, aku pun pastinya akan bertemu dengan teman-temanku di kampus. Meskipun sebenarnya diriku cukup sedih dengan kesepian ini, mudah bagiku untuk berpura-pura senang dan gembira di depan yang lain.
Cukup jadi Heru yang biasa.
Heru yang periang, senang bercanda, baik hati, rajin, dan bla-bla-bla…
Memang..
terkadang aku gagal untuk berpura-pura gembira.
Ketika itu wajahku pasti jelek sekali. Tatapan mataku akan tidak bersahabat. Tak akan ada senyuman.
Saat hal ini terjadi, teman-teman biasanya akan bilang “Si Heru lagi aneh!”
Hehe…begitulah
(padahal aku selalu aneh)

Ingin sekali rasanya bisa membelah diri, agar aku bisa mengobrol dengan ‘kagebunshin’ku. Bagaimana rasanya, ya…

***
Diriku ini lebih condong ke tipe pengamat.
Sering duduk sendiri di tempat-tempat yang banyak orang lewat.
Salah satu tempat favoritku adalah di selasar Masjid Salman. Bisa sejam lebih aku menghabiskan waktu untuk sekedar mengamati orang bolak-balik, masuk masjid keluar masjid, satu orang ngobrol dengan yang lainnya, bercanda, tertawa.
Kemudian terkadang ada akhwat yang matanya manatapku risih “Ngapain sih ikhwan itu??”
Mungkin dia pikir aku sengaja mengamatinya, padahal bukan hanya dia…
Sebagai orang yang membuat komik,
Aku melihat banyak orang, dengan banyak macam pakaian yang dikenakannya, dengan gestur yang berbeda-beda, sebagai bahan referensi tak terbatas.
Aku melihat bangunan masjid, mengamati desain arsitekturnya…
Aku melihat awan, langit, tumbuhan dan pepohonan di Taman Ganesha…
berpikir,,, ternyata memang sulit juga ya membuat latar tempat sebuah komik. Harus menggambar bermacam-macam hal. Meskipun hal yang sulit itu bukanlah hal yang mustahil.
Kemudian ketika aku sudah bosan,
aku angkat kakiku dan langkahkan kemana pun mereka bisa melangkah. Berjalan tanpa tujuan. Ke studio, kemudian ke CC, balik lagi ke Salman, ke studio lagi, dan seterusnya sampai berhenti di suatu tempat.
Setidaknya dua hal ini dapat membuatku sedikit melupakan kesendirian ini…
Selebihnya aku membaca komik.

—————————————————————————————————————————————-
wise word today:
“Mudah sekali mencari seribu teman untuk diajak tertawa,
namun sulit untuk mencari satu yang mau diajak menangis.”

bersambung selanjutnya ke “The Happy Me”…

Leave a Reply