Menang (gung malu) juga^^

September 23, 2008

Yah,
si lomba Ramadhan yang diadakan GAMAIS ITB (Keluarga Mahasiswa Islam ITB) akhirnya beres juga. Ada beberapa kategori lomba dari pekan kreativitas sampai olimpiade quran. Di lomba komik saya ngikutin karya yang ini (8 komik 4 kolom)

dan menang…
juara satu (dari lima orang, cukup sedikit ya yang ikut lomba komik ini)
hadiah uangnya nda seberapa, namun lumayan buat nambahin bayar utang.

Adapun trophy-nya lumayan ‘imut’

miniatur menara masjid Salman yang khas…

Bagaimana pun bagi saya, hadiah terbesar bukanlah uang dan trophy.
Pada tanggal 19 lalu, karya-karya peserta lomba Ramadhan didisplay dan dipamerkan di campus centre. Meskipun sederhana, karya saya itu cukup banyak di’apresiasi’. Ada saat-saatnya di mana ada beberapa orang berkumpul dan ‘membaca’ komik saya itu.
“Hei, lihat deh. Yang ini bagus ceritanya” kata mahasiswi satu ke temannya.
“Haha, yang ini goblok banget!!” tawa seorang mahasiswa melihat salah satu komik.
“Wah, memangnya bisa begini, ya?” tampak seorang mahasiswi lainnya bingung melihat komik yang lain.
Yah, mereka berkomentar macam-macam. Ada yang senang, ada yang tersenyum, ada yang heran namun tetap tersipu, ada yang tertawa. Berekspresi lepas. Saya hanya memperhatikan saja dari samping.
Btw, mereka tidak tahu kalau orang yang ada di samping mereka ini adalah si pembuat komik itu. Kan di karyanya nda dipasang foto penulisnya, hehe… Karena itu saya bisa mengamati ekpresi mereka dengan bebas.
Dan Anda tahu, itulah hadiah terbesar nomor dua bagi seorang komikus seperti saya.
Dapat menyaksikan ekpresi bahagia orang lain ketika membaca karya saya.

Apa hadiah terbesar yang pertama?
Hehe…
tentu saja pahala dari Allah ‘azza wa jalla ^^
pahala karena menghibur orang lain, memberi sedikit keceriaan kepada mahasiswa ITB yang rawan terkena stress…

Setidaknya itulah hal yang saya yakini…

The Lone Me (2)

September 18, 2008

Ketika aku berkumpul bertiga bersama Arif dan Zul…biasanya mereka berdua yang mengobrol. Aku hanya diam mengamati mereka asik dengan obrolannya.
Entah kenapa, jika hal ini terjadi aku memilih untuk diam. Ngikut nimbrung obrolan mereka pun paling diriku cuma bertahan semenit dua menit. Selanjutnya mereka dua orang itu akan asik ngobrol berdua lagi…
Sebenarnya bukan cuma ketika dengan Arif dan Zul saja… intinya jika aku berjalan bertiga, dua orang yang lain akan asik ngobrol dan aku hening

Mengapa bukan aku saja yang menguasai pembicaraan??
Yah… kurasa hal itu mustahil, toh aku bukan tipe berkepribadian dominan.
Daripada ada orang lain yang merasa ‘dikacangi’ lebih baik aku saja yang ‘dikacangi’, lagipula karena pada dasarnya aku pendiam maka hal ini bukan masalah bagiku.

Kasus lainnya,
Aku sering berkunjung ke kosan teman-teman yang akrab denganku. Mungkin itu waktu mau numpang mengerjakan tugas atau sekedar main, menghabiskan waktu. Hal ini semata-mata kulakukan untuk lebih mengakrabkan diri dengan mereka. Toh, seseorang main ke tempat temannya adalah sesuatu yang lumrah, bukan?
Silaturahmi, mungkin.

Namun,
sebaliknya…
Sampai saat ini, hampir tak ada seorang pun dari mereka yang dengan sengaja bertandang ke tempatku, entah itu sewaktu aku masih di Jl.Plesiran 19, di Asrama Masjid Salman, atau sekarang di Jl. Cisitu 103. Paling mereka hanya ’sekali’ saja datang ke kosanku. Itu pun yang pertama saja, untuk sekedar mengetahui “Oh, si Heru kosannya di sini”. Selanjutnya mereka tak pernah berkunjung lagi sekali pun.
Sekalinya ada yang berkunjung ternyata penagih hutang…walah…

Terkadang aku berpikir, apakah pertemanan ini cuma satu arah??
Aku selalu menganggap mereka teman. Apakah mereka juga menganggapku demikian?
Heh…kurasa pemikiranku terlalu berlebihan.
Mereka pastinya menganggapku teman. Hanya saja mereka malas berkunjung ke kosanku, itu saja…

***

Sewaktu di asrama dulu, aku selalu menghabiskan malamku bersama dengan saudara-saudara seasrama. Ada sekitar 28 orang lah. Satu kamar 4 orang. Cukup ramai.
Namun sekarang,
setiap malam adalah malam yang sepi…
terlebih bagiku yang sulit tidur di malam hari,
malam terasa sangat panjang…

Jika pagi hari tiba, aku pun pastinya akan bertemu dengan teman-temanku di kampus. Meskipun sebenarnya diriku cukup sedih dengan kesepian ini, mudah bagiku untuk berpura-pura senang dan gembira di depan yang lain.
Cukup jadi Heru yang biasa.
Heru yang periang, senang bercanda, baik hati, rajin, dan bla-bla-bla…
Memang..
terkadang aku gagal untuk berpura-pura gembira.
Ketika itu wajahku pasti jelek sekali. Tatapan mataku akan tidak bersahabat. Tak akan ada senyuman.
Saat hal ini terjadi, teman-teman biasanya akan bilang “Si Heru lagi aneh!”
Hehe…begitulah
(padahal aku selalu aneh)

Ingin sekali rasanya bisa membelah diri, agar aku bisa mengobrol dengan ‘kagebunshin’ku. Bagaimana rasanya, ya…

***
Diriku ini lebih condong ke tipe pengamat.
Sering duduk sendiri di tempat-tempat yang banyak orang lewat.
Salah satu tempat favoritku adalah di selasar Masjid Salman. Bisa sejam lebih aku menghabiskan waktu untuk sekedar mengamati orang bolak-balik, masuk masjid keluar masjid, satu orang ngobrol dengan yang lainnya, bercanda, tertawa.
Kemudian terkadang ada akhwat yang matanya manatapku risih “Ngapain sih ikhwan itu??”
Mungkin dia pikir aku sengaja mengamatinya, padahal bukan hanya dia…
Sebagai orang yang membuat komik,
Aku melihat banyak orang, dengan banyak macam pakaian yang dikenakannya, dengan gestur yang berbeda-beda, sebagai bahan referensi tak terbatas.
Aku melihat bangunan masjid, mengamati desain arsitekturnya…
Aku melihat awan, langit, tumbuhan dan pepohonan di Taman Ganesha…
berpikir,,, ternyata memang sulit juga ya membuat latar tempat sebuah komik. Harus menggambar bermacam-macam hal. Meskipun hal yang sulit itu bukanlah hal yang mustahil.
Kemudian ketika aku sudah bosan,
aku angkat kakiku dan langkahkan kemana pun mereka bisa melangkah. Berjalan tanpa tujuan. Ke studio, kemudian ke CC, balik lagi ke Salman, ke studio lagi, dan seterusnya sampai berhenti di suatu tempat.
Setidaknya dua hal ini dapat membuatku sedikit melupakan kesendirian ini…
Selebihnya aku membaca komik.

—————————————————————————————————————————————-
wise word today:
“Mudah sekali mencari seribu teman untuk diajak tertawa,
namun sulit untuk mencari satu yang mau diajak menangis.”

bersambung selanjutnya ke “The Happy Me”…

ABSTRAK

KAJIAN ACTION-ADVENTURE MANGA : ANALISIS PENGGAMBARAN ADEGAN AKSI

Oleh

Heru Setiawan

NIM : 17005038

Sudah lebih dari tiga dasawarsa komik Jepang (manga) beredar di dunia perkomikan Indonesia dan mendominasi komik-komik asing lainnya (Amerika, Eropa, China, Korea) bahkan komik Indonesia sendiri. Adapun genre yang paling populer adalah action-adventure manga yang menjanjikan pembacanya petualangan-petualangan yang seru serta pertempuran dan aksi-aksi memukau. Komikus-komikus muda Indonesia yang terinspirasi dengan manga pun banyak yang membuat komik dalam genre ini. Tentunya keberhasilan manga dan genre action-adventure terjadi oleh sekian faktor-faktor penentu. Penulis mencoba menelitinya dalam karya tulis ini dengan menganalisa lima manga, yaitu “One Piece”, “Naruto”, “Full Metal Alchemist”, “Pluto”, dan “Yaiba”. Penulis mencoba untuk memahami bagaimana adegan-adegan aksi itu digarap dengan menganalisis kelima manga tersebut dengan menggunakan teori-teori tentang komik.

Unsur-unsur visual dari action-adventure manga antara lain: desain karakter, background, narasi dan balon kata, tata panel, sound effect, dan angle kamera. Pengolahan semua unsur itu dengan baik diperlukan untuk membuat action-adventure manga yang baik. Sayangnya banyak komikus-komikus muda Indonesia yang terinspirasi dengan manga hanya meniru luarnya saja, gaya gambar karakter! Padahal manga lebih dari sekedar itu.

Kata kunci : action-adventure manga, adegan aksi dan pertarungan, One Piece, Naruto, Full Metal Alchemist, Pluto, Yaiba, Scott Mc Cloud

ABSTRACT

STUDY OF ACTION-ADVENTURE MANGA : ACTION SCENES DRAWING ANALYSIS

Author

Heru Setiawan

NIM : 17005038

It’s been more than thirty years since Japanese comics (manga) has spread over in Indonesian comic world and has stood in domination above another foreign comics (such as America, Europe, China, and Korea) and even Indonesian comics themselves. The most popular genre of manga is action-adventure which gives its readers promising adventures, great fighting and fascinating actions. This made many young Indonesian comic artists become inspired so they want to create their own action-adventures comics. The success of manga and action-adventure genre was of course arisen depending on some factors. The author is about to study it in this research by analyzing five mangas, which are “One Piece”, Naruto”, “Full Metal Alchemist”, “Pluto”, and “Yaiba”. The author is trying to undertand how the action scenes were made by using theories of comics and analyzing the five.

The visual aspects from action-adventure manga are: characters design, background, narration and text box, framing, sound effects, and then camera angles. Fine compositing and arranging of these aspects are without doubt needed to produce fine mangas. Alas, many young Indonesian artists who were inspired by manga only imitate the very outer skin of manga: style of character design! Manga is deeper than that.

Keywords : action-adventure manga, action and fighting scene, One Piece, Naruto, Full Metal Alchemist, Pluto, Yaiba, Scott Mc Cloud

————————————————————————————–

Akhirnya beres juga karya tulis Seminar saya (^o^).

Yah… seperti yang bisa Anda lihat sendiri, topik seminar yang saya susun adalah perihal pengolahan visual pada penggambaran adegan-adegan aksi dalam komik.  Komik yang dibahas bagaimana pun terbatas pada lima judul komik Jepang saja, yang ber-genre action-adventure.

Jika ada yang tertarik dengan topik karya tulis yang saya bahas ini, saya akan senang hati memberikan Anda softcopy dokumennya yang lengkap.

Hubungi saya di alamat e-mail ini:

anepusing@yahoo.co.id

Mari…

The Lone Me (1)

September 14, 2008

Salah satu alasan mengapa aku mengundurkan diri dari Asrama adalah karena aku merasa tidak bisa “nyambung” dengan mereka, para aktivis itu…
Hal-hal yang kusuka adalah komik dan RPG. Tentu saja hampir tidak ada di antara mereka yang bisa kuajak ngobrol tentang dua hal itu, terlebih RPG!
Bagi mereka, mungkin, main video game itu adalah “laghwu” alias perbuatan yang sia-sia. Di surat Al-Mu’minun juag disinggung, bukan? Salah satu ciri orang beriman adalah menjauhkan diri dari “laghwu” itu.
Jika mereka menganggap hobiku adalah “laghwu”, bagaimana aku bisa mengobrol dengan mereka?!

Hahaha… dalam hati aku tertawa. Inilah! Karena orang-orang seperti inilah, yang seenalnya meremehkan hobi orang lain, akhirnya saat ini dunia game di dunia dikuasai oleh orang-orang non-muslim!!!
Padahal apa mereka tahu potensi video game?!
Jika ada kesempatan, hampir setiap anak kecil sampai remaja di seluruh dunia pernah memainkan ini. Inilah salah satu lahan da’wah potensial yang saat ini belum tersentuh oleh intelektual muslim.
Alangkah senangnya jika suatu saat diriku memainkan sebuah RPG namun yang muncul bukanlah legenda-legenda Yahudi, Mesir kuno, atau yang lainnya, melainkan cerita yang Islami. Yak, RPG Islami…
Hah! Aku pasti kebanyakan berharap!
Sudahlah…

Rasanya nasib komik tidak begitu berbeda, hanya sedikit lebih baik.
Aku berterima kasih kepada MIZAN grup dan penerbit-penerbit lainnya yang mulai memopulerkan komik Islami ke masyarakat, bukannya seperti pihak-pihak yang terus-menerus mengatakan “menggambar makhluk hidup itu h***m!!!”

Begitulah, ketika di Asrama dulu diriku hampir tidak pernah ngobrol secara intens dengan saudara-saudara asrama yang lain. Bahkan salah satu dari mereka menyamakan “ngobrol” dengan “diskusi”. Bah! Menyebalkan!! Apa yang namanya ngobrol itu harus sesuatu yang serius?! Akhirnya akulah yang harus selalu mengikuti tema “obrolan” mereka. Kegiatan da’wah kampus lah, usrah lah, daurah ini, daurah itu, dan lain-lain.
Sebagian besar anggota asrama putri pun pasti tidak akan menyapaku ketika kami berpapasan di jalan…heh, aku memang kurang gaul.

Setidaknya dulu kupikir begitu…

Namun, ketika aku bersama dengan teman-teman SR-ku, yang nota bene satu jurusan denganku, ternyata yang kurasakan tiadk jauh berbeda.
Bahan obrolan mereka adalah kuliah ini lah, kuliah itu lah, pameran ini, seniman itu, dan semacamnya. Sulit sekali ketika aku mau mencari orang yang mau ngobrol denganku soal komik, soal RPG, apalagi soal murattal (satu-satunya hal Islami yang paling kusuka).
Bahkan teman-teman yang paling dekat denganku pun, sebut saja Zul, Arif, atau Danuh, hampir tidak begitu peduli soal komik dan RPG.
Mereka tidak membaca komik yang kubaca, tidak memainkan RPG yang kumainkan. Mereka juga pastinya tidak begitu tertarik dengan dunia murattal, bahkan Arif yang dulunya di pesantren. Dan kurasa mereka pun pastinya tak pernah membuka blog milikku ini, mereka bahkan tak tahu aku punya yang beginian. Hahaha…
Memang ada beberapa orang teman yang sedikit nyambung soal komik dan game, namun aku tidak begitu akrab dengan mereka. Huh..

Akhirnya karena aku jarang bisa membuka obrolan, kuputuskan untuk lebih banyak diam saja.
Aku adalah orang yang senang sendirian namun lebih menyukai kebersamaan dan kebersamaan ini lah yang semakin lama kurasa semakin hilang dariku…

Setelah kupikir memang benar:
“Hal yang paling menarik bagi seorang manusia adalah diri mereka sendiri”
Jadi, jika kita ingin berteman baik dengan orang lain, carilah apa yang mereka sukai. Masuklah ke dunia mereka. Bicarakan hal-hal tentang diri mereka jika mengobrol dengan mereka. Jika kita bicarakan hal tentang diri kita, mereka tak akan tertarik kecuali jika hal itu ada hubungannya dengan mereka…
Kita akan mereka anggap teman baik jika kita banyak tahu tentang mereka…

(bersambung, deh…)


hmm…
Mahasiswa ITB, biarpun cuma Seni Rupa, ada rasa bangga menyandang status itu…
setidaknya begitu dulu, waktu masih fresh-fresh nya jadi mahasiswa baru.

Tapi sekarang hal seperti ini sudah mulai hilang, jadi mahasiswa ITB bukanlah hal yang memang pantas untuk kita bangga-banggakan di depan orang lain…

Memangnya sebesar apa prestasi kita di ITB?
Berapa IP kita?
Berapa jumlah karya yang kita hasilkan selama di ITB??
Sejauh apa pikiran kita menjadi dewasa selama proses perkuliahan selama ini??
Sebaik apa hubungan kita dengan teman-teman, dosen, pegawai?
Sebaik apa kita membentuk jaringan??
Sudah punya bayangan setelah lulus mau jadi apa??
Apa rasa terima kasih kita untuk orang-orang yang membiayai kuliah kita?


Setelah tiga tahun di ITB, rasanya bodoh sekali jika masih tetap
“Hei! Saya mahasiswa ITB, loh!!”
padahal saya merasa belum banyak hal yang sudah saya lakukan…

Selama kuliah, harus menetap di Bandung…nge-kos. Kemudian menghabiskan waktu untuk main, begadang mengerjakan tugas, ngirit ketika bulan tua, dsb…
tapi sebentar lagi masa perkuliahan semester ini sudah akan habis.
Kalau beruntung, mulai Agustus nanti saya akan memulai tahun ke-empat saya di Institut ini.

Tapi untuk saat ini,
Liburan dulu deh
ada banyak DVD RPG PS2 yang menunggu untuk saya tamatkan, hehehe…

—————————————————————————————————————————————-

“Liburan adalah liburan. Kenapa masih ada mahasiswa yang menyia-nyiakan liburan untuk tidak berlibur?”

Setidaknya…

June 10, 2008

Hehehe…setidaknya…

Beberapa waktu yang lalu pernah saya posting tentang “Rapot Merah Hersuw”, nih transkrip saya semester lalu… IP-nya nda parah banget, masih 2,57. Namun hal ini cukup untuk membuat saya harus mengundurkan diri dari Asrama, heh…

Sepanjang sejarah perkuliahan saya, yang katanya sih lumayan pintar, mungkin inilah IP terburuk saya, haha… Sempat saya tak berani melihat transkrip, baik melalui internet atau lewat TU…saya sudah tahu kalau nilai saya jelek cuma saya tak berani untuk melihatnya…

Mungkin berapa bulan baru akhirnya saya intip juga itu website akademik ol-ITB dan melihat transrip sampai puas,
dan …

(KRAAK!!),

ternyata memang jelek…
Untungnya masih ada mata kuliah yang nilainya OK…jadinya tertolong

Namun ternyata setelah saya perhatikan itu nilai, hmm….

Baru kali ini saya dapat NILAI se-KOMPLIT ini!!!
Lihat!! Dari A sampai E ada semua, hahahaha….

Memang, nilai kuliah itu tidak tergantung pintar atau tidaknya si mahasiswa melainkan dia itu rajin atau tidak…begitulah
Sepertinya buah dari kemalasan di beberapa mata kuliah membuat saya tidak bisa mendapat nilai baik,

Hehehe setidaknya, meskipun nda begitu baik (rata-rata teman saya IPnya diatas 3), tapi setidaknya ada “hal” yang bisa saya pamerkan dari transkrip saya semester lalu…

Dan semester ini pun sudah berakhir,
saya tidak mau dapat nilai se-KOMPLIT itu lagi, kalau bisa…
tapi apa iya bisa
?

BAB 2

DEFINISI ACTION MANGA

dan TEORI BAHASA VISUAL

dalam KOMIK dan MANGA

2.1 Sekilas tentang Manga

Kata manga sendiri merupakan bahasa Jepang untuk komik. Komik sendiri menurut penulis adalah gambar bercerita yang sekuensial (berturutan). Meskipun komik dan manga memiliki arti harfiah yang sama, penulis menekankan penggunaan kata manga terbatas pada komik asal Jepang saja. Sejalan dengan hal ini, penulis pun menggunakan istilah mangaka untuk komikus yang membuat manga.

Adapun action manga, sesuai dengan namanya, adalah manga yang memiliki daya tarik dalam hal action. Action di sini penulis artikan sebagai adegan-adegan seru dan dramatis dalam manga. Adegan-adegan ini memiliki visual yang kuat sehingga mampu memukau pembacanya.. Yang termasuk ke dalam adegan action adalah seperti: adegan pertempuran atau pertarungan, adegan kejar-kejaran, adegan konflik dan konfrontasi, adegan bencana alam, adegan kecelakaan, dan adegan-adegan dramatis lainnya.

Peneliti komik dari Amerika, Scott Mc Cloud, menyebutkan dalam beberapa bukunya bahwa manga bahkan menginspirasi komik-komik Amerika sendiri pada masa 80-an yang kala itu genre ­mainstream-nya adalah superhero[1]. Mc Cloud menyebutkan gaya manga dalam bercerita jauh di atas komik-komik Amerika, khususnya dalam hal melibatkan partisipasi pembacanya. Beberapa kelebihan manga saat itu seperti penggunaan speedline untuk menggambarkan gerakan, transisi panel yang berbeda, kematangan genre, dan lain-lain, diadopsi oleh beberapa komikus Amerika dalam karya-karya mereka. Saat ini bahkan ada manga buatan Amerika, meskipun hal itu masih kontroversial. Biar bagaimana pun, perbedaan bahasa visual lah yang menyebabkan terjadinya asimilasi budaya seperti hal di atas.

2.2 Bahasa Visual dalam Komik dan Manga

Karena komik merupakan media visual, bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan pemirsanya adalah bahasa visual. Meskipun bahasa visual yang digunakan dalam komik dapat berbeda tergantung dengan latar belakang budaya dan semacamnya, tujuan dasarnya tetaplah sama yaitu bercerita. Sejak manusia bercerita satu sama lain, para pencerita selalu menginginkan dua hal dari pemirsa mereka. Mereka ingin pemirsa memahami cerita mereka ingin pemirsa ”mendengarkan” sampai selesai. Untuk mencapai tujuan pertama, diperlukan cara berkomunikasi yang jelas sedangkan untuk mencapai tujuan kedua, dibutuhkan pemahaman tentang elemen-elemen yang dapat membujuk pemirsa agar tetap memperhatikan. Dalam komik, cerita tersebut dituangkan dalam bentuk rangkaian visual (citra) dan bisa juga dilengkapi kata-kata. Penggabungan antara kejelasan dan komunikasi merupakan syarat utama agar suatu komik dapat mencapai tujuan utamanya untuk bercerita.

2.2.1 Lima Konsep Pemilihan dalam Berkomunikasi Melalui Komik

Komik merupakan aliran pilihan yang berkesinambungan, terdiri dari pencitraan, alur cerita, dialog, komposisi, gestur, dan bermacam pilihan lainnya. Pilihan-pilihan itu terbagi menjadi lima tipe dasar[2]:

  1. Pilihan Momen
  2. Pilihan Bingkai
  3. Pilihan Citra
  4. Pilihan Kata
  5. Pilihan Alur

Pemilihan momen adalah memilih momen-momen yang ingin ditampilkan ke dalam panel dan momen-momen yang harus dibuang. Ditambah dengan pemilihan transisi panel yang baik, komikus dapat menghemat panel demi efisiensi, menambah panel demi penekanan, mengatur intensitas cerita, dan hal-hal lainnya.

Pemilihan bingkai adalah tahap ketika komikus menentukan seberapa dekat bingkai sebuah aksi untuk menunjukkan rincian yang pantas atau seberapa jauh bingkai agar pembaca dapat melihat tempat aksi berlangsung dan mungkin membangkitkan kesan berada di tempat kejadian. Proses ini ditentukan oleh faktor-faktor komposisi seperti cropping (tata pandang), balance (keseimbangan), dan tilt (kemiringan), yang memengaruhi tanggapan pembaca terhadap dunia di dalam komik serta posisi mereka di sana. Dalam proses cropping misal, komikus memilih pegambilan sudut pandang atas/tengah/bawah maupun close up/middle shot/long shot. Sedangkan dalam balance, komikus mengatur rana agar keseimbangan fokus dalam panel tepat. Adapun ­tilt digunakan untuk memberi efek tertentu seperti kesan gerak maupun dramatis.

Memilih bingkai momen dalam komik sama seperti memilih bingkai sudut kamera dalam fotografi dan film. Perbedaannya tentu saja adalah ukuran, bentuk, dan posisi dalam panel komik. Dibandingkan dengan fotografi dan film, bingkai dalam komik jauh lebih beragam dalam bentuk panel-panel yang diatur. Meskipun demikian fungsi pemilihan bingkai sama saja dengan pada fotografi dan film yaitu sebagai alat untuk mengarahkan pembaca ke titik yang tepat.

Pemilihan citra adalah bagaimana komikus mengisi bingkai dengan gambar yang membawa dunia cerita yang ia buat ke dalam bentuk rupa yang terlihat hidup. Pemilihan citra untuk komik tentu saja berbeda-beda sesuai dengan ”gaya” setiap komikus, ada yang realis-naturalis, ada yang kartun, dan lain-lain. Tentu saja apapun gaya yang dipilih masing-masing komikus, yang utama dan yang terpenting adalah bagaimana berkomunikasi dengan cepat, jelas, dan tepat kepada pembaca. Untuk komik bergenre tertentu mungkin lebih tepat pemilihan gaya realis sedangkan untuk genre yang lain gaya kartun lebih cocok. Tentu saja perihal pemilihan citra ini tidak hanya terbatas pada karakter komik saja melainkan meliputi background dan detil-detilnya. Pemilihan citra yang baik akan sangat mempengaruhi kesan pembaca terhadap dunia di dalam komik itu sendiri.

Meskipun dalam kasus-kasus tertentu ada komik yang murni gambar namun karena sebagian besar komik menggunakan gambar sekaligus kata, maka pemilihan kata menjadi hal yang penting selain pemilihan citra. Kata membawa ketegasan yang tiada banding dalam komik, tak ada kesamaran makna citra yang tak bisa dijelaskan oleh kata. Ada beberapa konsep dan nama tertentu yang hanya dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tentu saja ketika komik menampilkan percakapan, kata-kata menjadi sangat penting. Selama ribuan tahun, kata telah digunakan untuk bercerita dan berhasil melakukannya tanpa bantuan gambar. Namun dalam komik, baik kata maupun gambar harus bekerja sama dengan baik. Pada akhirnya ketika gambar memberikan solusi lebih baik daripada kata, komikus dapat menyingkirkan kata.

Dalam komik, kata dapat muncul dalam beberapa hal. Pertama, kata dapat menjadi narasi untuk menjelaskan gambar. Kemudian kedua, kata dapat berperan maksimal sebagai dialog atau percakapan dalam komik. Hal ini terwujud dalam bentuk balon kata dan semacamnya. Yang ketiga, kata juga dapat mengambil fungsi sound effect (efek suara) untuk membuat pembaca ”mendengar” bunyi yang terjadi dalam komik. Yang terakhir, kata dapat menjadi bagian langsung dari gambar sebagai bentuk terintegrasi. Sebagai contoh adalah penggunaan kata dalam gambar rumah makan atau gapura desa, dan lain-lain.

Terakhir, pemilihan alur dalam komik sangat berkaitan dengan tata panel. Tujuan utama pemilihan alur adalah untuk menuntun pembaca mengikuti jalan cerita komik dari awal sampai akhir. Dalam komik, alur baca yang baik ditentukan dengan pengaturan panel ke panel yang tepat, baik itu penempatan panel maupun jarak antar penel. Di berbagai negara, alur baca yang disepakati oleh komikus dan pembaca melalui perjanjian tidak tertulis adalah dari kiri-kanan dan dari atas-bawah. Dalam manga, alur kiri-kanan menjadi kanan-kiri. Oleh karena itu pengaturan alur yang baik dapat menuntun pembaca untuk menyusuri panel demi panel, dari awal sampai akhir, tanpa menyebabkan kebingungan, sesuai naluri alamiah setiap pembaca, entah yang menggunakan alur kiri-kanan ataupun sebaliknya.

Lima pilihan ini bukanlah tahap-tahap pembuatan komik yang harus dijalankan berurutan. Setiap komikus biasanya menukar-nukar urutan sesuai kebutuhan mereka. Keputusan pemilihan momen, bingkai, dan alur biasanya ditentukan dalam tahap perencanaan komik, sementara pemilihan citra dan kata ditentukan dalam proses akhir. Pada akhirnya, pembuatan suatu komik merupakan serangkaian keputusan. Memilih momen yang tepat untuk dituangkan dalam panel, membingkai aksi dan menuntun mata pembaca, memilih kata dan gambar yang saling melengkapi, serta mengaturnya alur yang memudahkan pembaca dalam mengikuti cerita dari awal sampai akhir. Penguasaan teknik, penjiwaan, intuisi, serta pengalaman setiap komikus dalam memutuskan pilihan-pilihan tersebut menentukan enak tidaknya komik buatan mereka dibaca.

2.2.2 Gaya Bercerita Manga

Sebelumnya penulis menyebutkan bagaimana di tahun 80-an komik Jepang alias manga telah menginspirasi komik Amerika. Menurut analisa Mc Cloud, setidaknya ada delapan teknik bercerita manga yang tidak dapat ditemukan dalam main stream komik superhero pada saat itu[3], meliputi:

  • Wajah dan figur sederhana emotif yang memancing identifikasi pembaca.[4]
  • Kematangan genre, pemahaman cara bercerita yang unik mendorong terciptanya ratusan genre seperti olahraga, roman, fiksi ilmiah, fantasi, bisnis, horor, komedi, dan lain-lain.
  • Kesan tempat yang kuat. Rincian lingkungan yang dipicu ingatan inderawi dan ketika dipertemukan dengan karakter ikonik memancing efek masking[5]. Sekartun apapun gaya gambar karakter dalam manga, latar belakang (background) tempatnya cenderung realis.
  • Rancangan karakter yang sangat beragam, menampilkan tipe wajah dan tubuh yang berbeda dan sering menggunakan arketip yang kita kenal.
  • Seringnya penggunaan ”panel bisu” dipadukan dengan transisi aspek ke aspek, mendorong pembaca menyusun kepingan informasi rupa dari setiap adegan.
  • Rincian dunia nyata sampai hal-hal kecil. Sebuah apresiasi untuk keindahan yang remeh temeh dan kaitan nilai-nilainya kepada pengalaman sehari-hari pembaca, bahkan dalam cerita fantastis atau melodramatis.
  • Gerak subjektif. Menggunakan latar yang tidak jelas dengan efek speed line dan semacamnya untuk membuat pembaca merasa bergerak bersama si karakter, bukan hanya menonton gerakan dari podium.
  • Efek ekspresif dan emosional yang beragam seperti latar ekspresionistis, karikatur subjektif dan montase. Semua menyediakan jendela bagi pembaca untuk melihat yang dirasakan si karakter.

Masing-masing teknik memberikan pengalaman yang berbeda namun dengan mempelajari reaksi pembaca dan melihat peran manga dalam masyarakat Jepang, dapat disimpulkan suatu tema umum. Semua teknik itu seolah-olah dikeluarkan demi satu tujuan. Entah itu melalui wajah ikonik dan keragaman arketip rupa yang harus diisi oleh pembaca untuk meresapi karakter, atau pemandangan bisu yang menempatkan pembaca dalam sebuah dunia, atau kaitan tidak langsung dengan pengalaman nyata dan ketertarikan pembaca, atau perlengkapan garafis yang menggerakkan pembaca secara emosional, juga bergerak secara harfiah, semua teknik tersebut memancing partisipasi pembaca. Sebuah rasa menjadi bagian cerita, bukan hanya memperhatikan dari jauh. Dari semua format, pemasaran, dan perbedaan kultur Amerika-Jepang, ciri-ciri yang disebutkan di ataslah yang mendorong keberhasilan manga di kampung halaman mereka dan juga di Amerika.

2.3 Kerangka Komik dan Manga

Cerita dalam komik sama halnya dengan cerita pada film dan novel, memiliki pembagian-pembagian adegan. Secara garis besar, cerita komik pun dibagi menjadi 4 bagian meliputi:

1. Perkenalan

2. Komplikasi

3. Klimaks

4. Penyelesaian

Sebagai permulaan suatu cerita komik biasanya adalah sebuah perkenalan tentang tokoh utama dan permasalahannya. Perkenalan ini meliputi: siapakah dia, bagaimana tampilannya, di mana setting komiknya, apa yang menjadi tujuan si tokoh, konflik apa yang dialaminya, bagaimana hubungannya dengan tokoh-tokoh lain, dan informasi-informasi lain yang diperlukan pembaca untuk memahami karakter dan dunia di dalam komik secara garis besar. Untuk menarik pembaca biasanya pada bagian perkenalan ini dalam action manga dibuat seatraktif mungkin. Hal ini dilakukan untuk memberi kesan yang ”wah” pada pembaca agar terus mengikuti cerita sampai akhir.

Bagian selanjutnya adalah komplikasi di mana masalah yang dihadapi sang protagonis semakin pelik. Tokoh antagonis pun semakin terasa pengaruhnya pada bagian ini dan sang protagonis dihadapkan dengan pilihan besar untuk menghadapi sang antagonis atau melarikan diri. Kemelut pun terjadi ketika tokoh protagonis berhadapan langsung dengan tokoh antagonis. Mereka siap ”bertempur” langsung.

Klimaks boleh dibilang merupakan bagian terseru dalam suatu cerita komik. Karena sang protagonis biasanya memilih untuk menghadapi antagonis secara langsung, maka terjadilah ”pertempuran” antara keduanya. Idealisme yang dibawa masing-masing yang saling bertentangan kemudian dipertaruhkan. Masing-masing pihak mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.

Selanjutnya tergantung dari komikusnya sendiri, namun biasanya sang protagonis berhasil mengalahkan sang antagonis. Prinsip yang ia bawa berhasil ditegakkan dan hal ini tergolong penyelesaian yang happy ending. Setelah itu ketegangan pun menurun, sang protagonis pun memutuskan apa yang akan dilakukannya setelahnya. Namun ada juga komikus yang sengaja memilih bad ending di mana justru sang antagonis yang berhasil menundukkan protagonis, atau kedua-duanya kalah. Tak menutup kemungkinan adanya ending yang ”menggantung” di mana tidak jelas apakah cerita sudah selesai atau masih berlanjut.

Dalam action-adventure manga yang biasanya diterbitkan berseri dengan seri yang panjang, cerita keseluruhan dibagi kedalam beberapa cerita bagian. Kesetiap cerita bagian itu biasanya terdiri dari sekian chapter. Oleh karena itu pembagian adegan dilakukan per cerita bagian. Wajarnya setiap manga sampai benar-benar tamat memiliki banyak klimaks tergantung banyaknya cerita bagian. Klimaks utama terdapat pada cerita bagian yang terakhir. Sebagai contoh dalam manga paling terkenal ”Dragon Ball” ada beberapa cerita bagian meliputi: ” Tenka Ichi Budokai Arc”, ”Red Ribbon Arc”, ”Pikkoro Arc”, ”Saiyan Attack Arc”, ”Namec dan Freeza Arc”, ”Android Arc”, ”Cell Arc”, dan terakhir ”Bhu Arc”.

Seperti halnya cerita dalam film dan novel, pada komik pun dikenal ada yang namanya alur. Ada tiga alur yang kita ketahui, yaitu: alur maju; alur mundur; dan alur gabungan. Sampai saat ini biasanya alur gabungan lah yang paling sering digunakan oleh mangaka dalam manga mereka. Alasannya adalah penggunaan alur ini sangat fleksibel di mana di pertengahan cerita mangaka bisa melakukan kilas balik masa lalu suatu tokoh untuk memperjelas cerita, dan sebagainya.


[1] Scott Mc Cloud, “Membuat Komik”, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, hlm. 219.

[2] Ibid, hlm. 9-39.

[3] Ibid, hlm. 215-223.

[4] Penjelasan lebih lanjut baca “Understanding Comics, Memahami Komik”, Scott Mc Cloud, KPG, Jakarta, 2001, hlm. 29-45.

[5] Perbedaan gaya antara karakter dengan background, meskipun tetap saja terlihat terpadu.

Kisah ini berawal dari kesalahan fatal saya dalam mengelola keuangan pribadi. Kira-kira seminggu yang lalu, uang di dompet saya belanjakan beberapa komik. Memang sisa beberapa ribu, namun saya tak menyadari saat itu jikalau ‘beberapa ribu’ tidaklah cukup untuk biaya hidup beberapa hari.

Hari Minggu kemarin, tepatnya sore hari, uang di dompet tersisa sekitar 5000-an. Stok kas di ATM udah habis, dan ibu saya baru bisa mengirim uang sekitar hari Selasa berikutnya. Bingunglah saya bagaimana bisa dengan uang segitu, bisa survive sampai hari Selasa. Karena sekarang saya tinggal di kosan yang nda ada perabot apa pun, tentunya tidak bisa happy-happy ngirit masak mie instant seperti ketika di asrama dulu. Terpaksalah saya membeli makanan termurah yang bisa saya dapat di sekitar kosan, dan pilihan pun pada akhirnya jatuh pada mie goreng seharga 2500. Saya beli double, satu dimakan malam hari dan satu lagi buat sahur. Yup, barangkali saya harus berpuasa sunnah….

Hari Senin, GYAAAAAAA…..!!!!! Uang di dompet benar-benar habis, untungnya masih ada recehan seratus, dua ratus, yang bertebaran di sekitar kamar saya, di tas, dan di berbagai tempat. Setelah dikumpulkan, akhirnya cukup untuk membeli 2 roti 1000-an untuk mengganjal perut. Alhamdulillah, saya sempat minjam uang buat makan di kantin Gelap Nyawang*. Malamnya pun, saya beruntung ditraktir makan oleh teman satu studio saya, sebut saja Danuh 21 tahun.

Hari Selasa, hari yang dijanjikan, namun sampai sore uang belum juga ditransper lewat ATM. Saya menjalani perkuliahan hanya dengan berbekal sarapan  1 roti 1000-an, dibeli dengan uang terakhir saya. Menjelang siang, lapar pun kembali menyerang. Rasanya ingin ngutang lagi ke teman, tapi malu juga soalnya kalau hutang melulu. Lagipula saya cukup pendiam, sehingga hampir tak ada orang yang tahu permasalahan kanker kronis saya. Untungnya ketika Genardi, teman satu studio saya juga, mengajak saya ke kantin Arsitektur saya sempat menolak dengan beralasan tidak punya uang, beliau pun menjawab,”Gua yang bayarin, deh…” Mendengar kata-kata ‘ajaib’ itu, saya pun tak bisa menolak.

Hari mulai malam, energi dari nasi putih dan ayam goreng porsi mini yang saya makan siang hari sudah habis. Setelah acara mingguan KISR bersama TPB FSRD 2007, kami kembali ke studio. Kami cukup terkejut ketika gedung SR sudah gelap gulita tergembok dan hilang peradaban. Mungkin mahasiswa yang meramaikan gedung ini semuanya pergi ke Jakarta untuk menghadiri pameran seorang mahasiswa SR juga. Mungkin ini sebabnya, petugas menggembok gerbang SR lebih awal dari biasanya, toh di SR tak ada orang… kemudian kami pun pergi dulu ke tempat makan depan gerbang SR, ada Zul, Arif, saya, dan Danuh. Rencananya saya dan Danuh akan kembali ke studio setelah selesai makan, sebab biarpun gerbang SR dikunci ada kemungkinan pintu studio sendiri belum dikunci… meskipun kemungkinan ini kecil mengingat SR sudah gelap gulita. Entah kenapa saat itu saya memutuskan untuk tidak makan, padahal ada teman saya yang menawari untuk membayarkan. Hati kecil saya sebenarnya ingin sekali menerima tawaran itu, perut pun sudah sangat keroncongan, namun ego berargumen “Malu rasanya kalau dibayarin terus”. Acara makan selesai, dua teman saya pulang sedangkan saya dan Danuh kembali ke studio. Ternyata betul dugaan kami, studio pun sudah terkunci. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang juga, meskipun si Danuh cukup kesal mengingat tas dan sepatunya masih ada di dalam studio.

Perut tetap kelaparan, kami pun pulang ke arah Cisitu. Danuh yang bayar semua ongkos saya... duh, dibayarin terus… Karena Danuh tahu saya belum makan dari tadi, dia pun mengajak saya ke rumahnya. Kali ini saya pun tidak menolak dan akhirnya saya pun menikmati nasi putih dengan lauk baso, serta kerupuk emping yang lezat…

Memang, saat ini saya sudah tidak kelaparan lagi. Ibu saya mentransfer sejumlah uang, Rabu sore kemarin. Namun saya pun menyadari satu hal ketika teman-teman saya berkali-kali mentraktir saya: Betapa nikmatnya bisa makan ketika kita memang lapar! Selama ini memang saya kurang bersyukur, tak bisa mengelola uang dengan baik.

“Makanan yang paling nikmat sedunia bukanlah makanan yang paling mahal serta makanan yang dibeli di kafe atau Rumah Makan ternama. Makanan yang paling nikmat adalah makanan yang kita makan ketika kita benar-benar lapar…”

8 Hal Mengenai Saya…

March 14, 2008

You have got tagged
—————————————————————————————————————————————-

Berawal dari sini==> http://atarashiikaoru.multiply.com/journal/item/15/Youve_got_tagged
Sebenarnya saya nda begitu hobi tentang hal-hal seperti ini, tapi apa boleh buat…hehehe. Saya didaulat oleh ‘kera sakti’ (baca: kaka pertama) dari Shinpo Family untuk menuliskan, yah… bisa Anda lihat di judul posting saya. Namun saya pikir lagi tak ada salahnya juga toh hitung-hitung sebagai sarana untuk saling mengenal… ya..ya.. Oleh karena itu saya coba saja. Mari kita mulai. (^o^)

  1. Orang yang melupakan tanggal lahirnya sendiri
  2. Menyukai 3 hal khusus
  3. Penggemar jaket
  4. Pengguna sandal sejati
  5. Pejalan kaki yang handal
  6. Senang kesendirian, namun lebih menyukai kebersamaan
  7. Pemikir yang nda jago mikir dan ceroboh
  8. Pengejar impian

Okeh, kalau Anda nda keberatan izinkan saya merinci hal-hal itu…

1. Orang yang melupakan tanggal lahirnya sendiri
Mungkin ini terdengar mengerikan, tapi saat ini saya memerankan diri orang lain yang lebih tua beberapa minggu dari saya. (JREENG!!). Hal lengkapnya mungkin bisa dilihat di posting saya beberapa waktu yang lalu…

2. Menyukai 3 hal khusus
Urutannya bisa berubah tergantung kondisi hati, tapi kira-kira tiga hal itu adalah: komik, RPG, dan murattal. Saya senang sekali membaca komik action-adventure dan senang pula membuatnya. Untuk menambah wawasan saya, bermain RPG di PS dan PS2 cukup bagus untuk referensi. Kemudian, saya lumayan senang juga mendengarkan murattal sembari bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari. Favorit saya adalah Misyaari Rasyid, lalu Mathrud, Al Kanderi, dll. Bagi yang belum familiar dengan istilah murattal, kira-kira murattal adalah pembacaan Quran secara tartil. Banyak dijual dalam bentuk mp3 dan cukup baik untuk mengisi hari-hari Anda yang monoton, hitung-hitung menambah hapalan Quran juga.

3. Penggemar jaket
Yak, koleksi jaket saya cukup banyak (meskipun yang sering dipakai cuma satu atau dua), mulai dari jaket almamater ITB tercinta, jaket Majelis Ta’lim, sampai jaket ILUSI. Tapi beberapa jaket saya rusak gara-gara terkena cat minyak…hiks

4. Pengguna sandal sejati
Yeah!! Hidup sandal!! Sebagai mahasiswa mungkin ini tak bisa dijadikan teladan, tapi toh saya mahasiswa Seni Rupa, jadi hal ini bisa ditoleransi. Satu-satunya alas kaki saya (ini serius) adalah sandal jepit swallow warna biru. Benda pusaka ini saya pakai setiap hari, baik itu untuk keperluan kuliah ataupun pergi ke berbagai tempat. Namun, ada beberapa dosen yang tak menghendaki mahasiswa mereka memakai sandal di kelas, oleh karena itu untuk menyiasatinya saya menyimpan sepatu saya (pinjam dari teman-red) di studio lukis di kampus. Jadi jika ada perkuliahan yang mengharuskan terfungsikannya sepatu, saya ke studio dulu untuk menganti alas kaki, setelah itu kembali sandal jepit berjaya…

5. Pejalan kaki yang handal
Entah bisa disebut handal atau tidak, namun saya cukup sering berjalan kaki. Mungkin karena malas naik angkot, atau memang jarang punya uang buat bayar angkot, tapi saya jamin deh banyak berjalan kaki lumayan menyehatkan, lho. Kalau sedang senggang, saya juga kadang-kadang berjalan kaki tanpa arah berkeliling kota Bandung… sembari melihat-lihat pemandangan kota yang asik.

6. Senang kesendirian, namun lebih menyukai kebersamaan
Pada dasarnya saya cukup pendiam dan cukup menikmati kesendirian saya dengan melamun, membaca buku, atau main RPG. Namun saya juga senang berkumpul dengan orang-orang yang saya anggap sebagai teman saya.

7. Pemikir yang nda jago mikir dan ceroboh
Yak, ini cukup aneh. Meskipun pada dasarnya saya tipe orang yang sistematis, tapi saya tak memanfaatkan hal itu dengan maksimal. Justru seringkali saya mengerjakan bermacam hal secara intuitif… Hal ini dapat dilihat dari tidak jelasnya hubungan antara posting saya satu dengan lainnya. Hmm… begitulah… Saya juga terkadang ceroboh, sering menaruh dompet dan HP sembarangan, pernah dua kali kehilangan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)

8. Pengejar impian
Untuk hal yang ini mah saya mohon doa restu aja dari teman-teman semua (^o^). Banyak hal yang menjadi impian saya, mulai dari keinginan untuk menjadi komikus, hasrat untuk memiliki studio komik sendiri, impian untuk menjadi penghapal Quran, cita-cita untuk menjadi orang yang besar, serta harapan untuk menikah kelak, hehehe…

Waduh… akhirnya beres juga. Hmm, jadi saya harus memilih 8 orang berikutnya untuk diberi tugas serupa? Saya orangnya nda tegaan, jadinya nda usah aja ya… hehehe

Well, what should I say? That’s the truth anyway. Even if I kinda like red colour but not this red.

Yah, kehidupan memang ibarat roda. Kadang ada di atas, kadang ada di bawah. Kadang bisa copot (!), sehingga kita harus mengganti “kehidupan” baru.

Begitulah, tampaknya semester kemarin merupakan semester terburuk dalam kehidupan saya bukan hanya dari sisi akademik saja, melainkan dari berbagai aspek kehidupan secara keseluruhan.

Mari kita jabarkan satu per satu apa saja itu, hmm…

Pertama adalah Akademik,
Tiga mata kuliah hancur, euy. Ada mata kuliah yang dapat D, yakni Estetika II. Duh, ini benar-benar memalukan. Soalnya mata kuliah ini sebenarnya mata kuliah tingkat 4, dengan kata lain saya mengambil ke atas, tapi… hehehe… begini nih gara-gara sok pintar. Dan alasan dapat D-nya pun benar-benar, hmm… gimana ya bilangnya? Begini, gara-gara keseringan begadang, eh waktu UAS saya malah ketiduran di asrama. Tidak ikut UAS gara-gara tertidur, hmm… ini hal paling memalukan bagi mahasiswa ITB.
Ada dua mata kuliah yang dapat E. Yang satunya kuliah Seni Monumental. Yang ini mah karena saya sering bolos dan tidak mengumpulkan tugas. Mata kuliah kedua yang juga dapat E, dan ini benar-benar menjatuhkan harga diri saya sebagai (calon) komikus adalah kuliah “Komik”. Alasannya sama, tidak mengumpulkan tugas. Dikasih”T” sama dosennya lalu jadi “E”.
Walah, walah… ada apa gerangan saya yang katanya suka membuat komik ini justru mendapat nilai parah pada kuliah komik sendiri? Padahal katanya pria bernama Heru ini punya riwayat akademik yang ngga jelek-jelek amat dan dikenal –gosipnya– lumayan pintar.

Kedua, Proyekan yang terbengkalai…
Ceritanya karena kekurangan uang untuk membeli cat minyak, rencananya sih pengin saya mencoba cat minyak dengan kualitas yang bagusan dari pada Marie’s yakni Winton, oleh karena itu saya menerima proyekan membantu teman dengan membuat ilustrasi untuk buku klub ilmiah sebanyaka lebih kurang 120 halaman seharga Rp 350 000,- Namun ternyata proyekan tak terselesaikan, kuliah pun berantakan.

Ketiga, keorganisasian yang juga tebengkalai…
Saya ikut unit PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) yang agenda rutinnya adalah mentoring setiap Ahad (hari minggu) dan lain-lain. Namun semester kemarin, saya hampir tak pernah ikut mentoring sama sekali. Ini benar-benar pengkhianatan terhadap amanah, hiks dosa saya. Alasannya pun karena keseringan begadang, saat hari Minggu pagi saya benar-benar mengantuk. Saya pun merasa sangat bersalah pada tim media PAS yang beranggotakan saya. Saya terlalu sering kabur dari tugas-tugas tim media, karena beribu alasan. Imbasnya semester ini saya tidak terdaftar sebagai anggota aktif, apakah dikeluarkan? Duh, sayang sekali jika dikeluarkan dari organisasi yang menarik dan menyenangkan ini. Tapi secara logis, mereka pastinya tidak membutuhkan anggota yang lemah komitmen seperti saya…

Keempat, Asrama Salman…
Yayaya, inilah akibat IP saya semester terakhir di bawah 2.76, saya (istilahnya) tereliminasi dari asrama. Yang sangat disesalkan adalah Asrama Salman adalah tempat yang kondusif untuk membenahi diri karena hidup bersama orang-orang yang dekat dengan Quran, pandai dan aktif dalam dakwah kampus. Posisi Asrama Salman punsangat strategis, selain terletak pada komplek Masjid, juga berada langsung di depan kampus ITB. Dengan kata lain dekat dan ekonomis, termasuk bermacam fasilitas yang gratis.
Saat ini saya pun terpaksa mencari kosan baru….dan kehilangan segala kelebihan yang bisa diperoleh dari tempat kondusif itu.

Kelima, kesialan…
Yah…ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Ketika saya sedang menghibur diri lantaran stress dengan bermain PS2 di rental…eh, dompet saya malah hilang. Raib bersama KTM, ATM, sejumlah uang saya dan uang orang lain, beberapa benda memori yang tersimpan rapi dalam dompet, serta beberapa kupon martabak….

Dari awal sebenarnya saya tahu permasalahan terbesar saya, yakni KEMALASAN. Yak, saya ingatkan bagi yang berbaik hati menyempatkan diri membaca posting keluhan ini. Kemalasan itu membalikkan peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”. Pada awalnya memang menyenangkan, tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban kita, tetapi ketika saatnya diminta pertanggung jawaban tiba, celakalah!! Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi saya dan bagi yang sempat membaca posting ini.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS 103:1-3)


Yeah, I’m game over now.
No..no..no, not that I give up right away, I mean the time to play arround is over. It’s the time to be serious.