Kajian Action Manga “Analisa Teknik Penggambaran Adegan Action” (1)
December 20, 2007
HERU SETIAWAN
17005038
METODOLOGI PENELITIAN SENI
Kajian Action Manga
Analisa Teknik Penggambaran Adegan Action
BAB 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Daya tarik dari Action Manga adalah ketegangan yang dihadirkan dengan adegan-adegan action yang seru. Meskipun hanya berupa kumpulan gambar diam, manga-manga tipe ini mampu memproduksi adegan-adegan action dengan kualitas komunikasi visual yang tidak kalah dibandingkan dengan kualitas komunikasi visual yang ditampilkan oleh action movies asal Hollywood maupun Hongkong. Oleh karena itu, Action Manga yang baik harus mampu untuk setidaknya mencapai kualitas komunikasi visual yang sama/ lebih baik daripada movie itu sendiri. Untuk itulah, untuk membuat ketegangan terasa hidup diperlukan skill yang baik dari Mangaka-nya sendiri.
Ada dua jenis action Manga ditinjau dari setting komiknya, yaitu tipe fantasy dan tipe real-life. Pada tipe pertama, komik berlatarkan dunia khayal (karangan mangaka) dengan tokoh-tokoh yang mampu melakukan hal-hal yang luar biasa. Adapun tipe kedua sebaliknya, mengambil setting kehidupan nyata dengan tokoh yang entah itu bisa melakukan hal luar biasa atau tidak, namun tetap tampak luar biasa. Bersetting dunia ajaib ataupun kehidupan sehari-hari, tetap saja kemampuan mangaka untuk menjadi sutradara sekaligus kameraman, koreografer, penata adegan, dan semacamnya, sangat diperlukan. Oleh sebab itu rasanya tidak ada ruginya setiap mangaka memahami teori dan hal-hal yang mendukung itu. Tidak ada salahnya pula untuk meneliti teknik dan gaya penggambaran dari mangaka-mangaka lain sebagai referensi.
Penulis merasa hal ini layak untuk diangkat ke dalam suatu penelitian khusus mengingat saat ini di Indonesia sendiri sedang bermunculan satu demi satu komikus muda. Sebagian besar komikus-komikus muda ini, sesuai dengan semangat muda, pada umumnya mengangkat genre: action-adventure. Selanjutnya, menarik atau tidaknya komik-komik jenis ini, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, tentu saja tergantung se-canggih apa komikus itu bermain dalam menata dan menyusun ketegangan ke dalam panel-panel sekuensial. Oleh karena itu tepat jika penulis mengajak kita semua untuk menganalisa bagaimana sebenarnya mangaka-mangaka itu meramu ketegangan ke dalam adegan-adegan pertarungan yang seru di dalam sebuah Action Manga.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah tentang bagaimana mangaka-mangaka menggarap adegan-adegan action, fighting, battle, dalam suatu Action Manga sehingga menjadi suatu kualitas visual yang baik
1.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini penulis membatasi kajian komik-komik action melalui Action Manga asal Jepang. Alasannya adalah sebagai berikut, yaitu:
- Di negara ini manga sudah menjadi industri sendiri dan dalam industri manga ini genre action menempati urutan teratas dalam konsumsi masyarakat Jepang
- Manga cenderung lebih simple daripada komik-komik Amerika, Hongkong, Cina, serta yang lainnnya, sehingga memudahkan penulis untuk menganalisa unsure-unsur visualnya
- Kekuatan visual manga terletak dari “cara” bukan dari “objek” seperti umumnya komik Amerika.
Sedangkan manga yang akan dianalisa adalah beberapa action-adventure manga yang paling populer di Jepang selama 3 dasawarsa terakhir.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara mangaka-mangaka menggarap adegan-adegan action dalam Action Manga, baik itu berupa cara pengambilan sudut pandang, pengaturan adegan tiap panel, pemberian effect-background, dan lain-lain.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:
- Sebagai referensi untuk komikus-komikus agar tahu dan mengerti tentang bagaimana membuat komik-komik action yang seru.
- Sebagai penambah wawasan tentang komik bagi para pembaca secara umum.
- menjadi sebuah cambuk, stimulant bagi komikus-komikus Indonesia untuk dapat membuat komik-komik yang lebih baik daripada manga asal Jepang.
- Sebagai jendela ilmu baru bagi para penggemar komik, agar ketika membaca komik tidak hanya sekedar melihat-lihat sekilas halaman demi halaman namun juga mampu untuk mengerti bagaimana komik itu dibuat.
1.6 Hipotesis
Action Comics memiliki kualitas komunikasi visual yang setara dengan Action Movies. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan (skill) yang baik dari komikusnya sendiri agar komik itu dapat seseru Action Movies. Kemudian untuk mencapai hal itu diperlukan pemahaman mengenai bagamana sebenarnya adegan-adegan action dalam action comics itu dibuat.
1.7 Metodologi Penelitian
Kajian teori yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah kajian interdisiplin dengan menggunakan beberapa teori seperti semiotika, bahasa rupa, psikologi seni, dan lain-lain. Sistem penelitian yang akan penulis lakukan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data berupa kajian dokumen/pustaka serta melakukan analisa langsung terhadap beberapa sampel Action Manga yang sudah penulis tentukan. Hasil dari analisa tiap-tiap manga kemudian akan dikomparasikan untuk mendapat hasil yang lebih universal.
1.8 Sistematika Penulisan
Penelitian ini akan dituliskan berdasarkan sistematika sebagai berikut:
BAB 1 Pendahuluan
Berisi latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, hipotesis, metodologi penelitian.
BAB 2 Definisi Action Manga
Berisi beberapa definisi tentang komik, manga, action-manga. Kemudian menjelaskan teori-teori yang akan digunakan untuk membahas action manga.
BAB 3 Unsur-Unsur Visual yang Vital dalam Action Manga
Berisi pembahasan tentang setting-background, effect-background, pengambilan angle (perspektif), tata panel, dan lain-lain.
BAB 4 Analisa Adegan-Adegan Action dalam Beberapa Action Manga
Berisi pembahasan beberapa action manga, analisa adegan-adegan actionnya, komparasi beberapa manga yang berbeda, perumusan cara-cara membuat adegan-adegan action yang baik, dan lain-lain.
BAB 5 Kesimpulan dan Saran
Berisi kesimpulan dari analisa pada bab-bab terdahulu dan saran-saran
The Return Of…
November 5, 2007
Akhirnya … hiks… setelah sebulan menanti, kamera digital kesayangan saya betul juga. Memang bukan kamera “top level”, tapi setidaknya untuk mendapatkan yang satu ini saya sudah menempuh waktu yang lama. Mulai dari meyususun dan mengajukan proposal ke orang tua — bercanda — sampai menanti cairnya dana. Karena dari 4 bersaudara hanya saya yang mendapat kesempatan berkuliah di PTN — meskipun cuma seni rupa — maka orang tua saya sepertinya mengusahakan sebisa mungkin untuk keberhasilan kuliah saya dari segi finansial agar tidak putus kuliah seperti 2 kakak laki-laki saya. Hal inilah yang membuat saya tidak enak. Sebagai mahasiswa seni rupa, ingin rasanya saya tidak merepotkan orang tua lagi. Banyak teman-teman saya di seni rupa yang karena tidak direstui orang tua maka mereka harus membiayai kuliah sendiri. Oleh karena itu saya ingin sekali segera mandiri.
Setahun lalu, di tengah kesulitan ekonomi, akhirnya orang tua saya menyediakan dana untuk membeli sebuah kamera digital. Walaupun hanya cukup untuk membeli kamera di bawah 1.5 juta, saya sudah bersyukur sebab sebuah kamera memegang peranan yang penting bagi seorang komikus seperti saya. Perihal pencarian data untuk sebuah visual komik, realitas yang mampu dibekukan oleh sebuah kamera memegang peran vital untuk menghasilkan suatu representasi yang akurat. Dengan kata lain, kamera digital ini sudah seperti partner hidup saya. Dan partner penting saya itu RUSAK….
Berawal dari kesalahan membawa kamera saya pulang ke Bekasi. Di rumah, saudara-saudara saya yang “belum pernah melihat kamera digital” pastinya takjub begitu saya membawanya. Akhirnya yang terjadi adalah “Pinjam, dong…” “Mas, kamera mana… mau moto-moto, nih” “Mas, kameraanya…” Akhirnya waktu liburan panjang semester lalu, kamera saya berakhir sebagai “mainan” saudara-saudara saya…
Dan ketika saya kembali ke Bandung, barulah saya menyadari kalau kamera saya sudah berubah.
Yah, foto di atas contohnya… Sepertinya ada yang salah dalam sensor cahaya kamera saya, “over exposure” kalau kata mbak Data Script. Hasil foto bergaris, kalau kondisi sedang terang misal oleh sinar matahari, maka hasil foto akan sangat terang…
Karena sudah tidak bisa menghasilkan tangkapan gambar yang baik, terpaksa saya haus menservisnya. Untungnya masih ada garansi, sehingga saya tak perlu mengeluarkan biaya reparasi.
Namun memang kita baru menyadari arti penting sesuatu jika sesuatu itu tidak ada.
Akhirnya saya kerepotan sendiri ketika ada keperluan penting.
Saya tidak bisa lagi melayani jasa fas foto gratisan untuk teman-teman saya,
saya tidak bisa lagi mendokumentasi event-event penting,
saya tidak bisa lagi mencari data untuk keperluan 24hour comic, UTS saya,
Beberapa hari setelah lebaran kemarin, pada akhirnya reparasi kamera selesai juga. Seharusnya sesuai prosedur, reparasi selesai paling lama 2 minggu namun karena kamera saya stok lama maka pihak Data Script kesulitan mencari spare parts. Menunggu kiriman spare parts dari ibukota menjadikan waktu reparasi mulur menjadi sebulan lebih.
Pada akhirnya sih kamera saya betul juga, Alhamdulillah, jadi untuk selanjutnya saya berjanji untuk memanfaatkannya sebaik mungkin, merawatnya, tidak meminjamkan sembarangan. Sampai saya bisa mandiri, menjadi seorang komikus yang besar.
Akhirnya beres juga itu UTS…
October 22, 2007
Duh,
ini merupakan pengalaman baru buat saya… meskipun saya suka buat komik, tapi kerja rodi buat 24 halaman komik dalam 24 jam?? Hehehe…ini pengalaman baru buat saya…(kok diulang?)
Ceritanya bermula hari Sabtu kemarin… event ini sedianya berlangsung 20 Oktober jam 10 pagi sampai 21 Oktober jam 10 pagi juga…
Saya nyesel deh karena semalam sebelum hari H sendiri saya malah mainan PS2 di rental, begadang… alhasil, kelupaan deh nyiap-nyiapin peraboyan buat bikin komik. Untungnya setelah shubuh, meskipun ada usrah Asrama dulu, saya sempat tidur sebentar… tidur sebentar… sekali lagi tidur sebentar (rencananya)…
Tapi, meskipun niatnya saya ingin bangun jam 8 teng, samapi jam 9 pun saya masih terlelap… Alhamdulillah karena saya tinggal asrama, ada saudara-saudara yang berkenan mengingatkan…
Entah berapa kali mereka mengingatkan,
“Heru… heru… Bangun, euy! Katanya ada UTS! Udah jam setengah sembilan, lho!”
“…..”
“Ka Heru, ayo bangun… udah siap belum bikin komik 24jam…” (karena saya ikutan PAS, jadinya sebagian teman asrama ada yang manggil saya ‘kak’)
“……”
“Her…Hersuw! Bangun, dong…! Ini udah jam Sembilan, UTSnya jam Sepuluh, kan? Mau bawa kopi, nda?”
“………”
Saya pun bangun, pindah dari kasur yang ada di ruang umum, masuk ke kamar saya, lalu tidur lagi…(JREEENG!!)
Walhasil, jam 10 kurang saya baru bangun, lalu dengan tergesa-gesa mandi, beres-beres… dan jam 10 lebih dikit baru berangkat.
Sampai di Space59 Gallery sekitar 10.30, sudah banyak orang… banyak anak SR, tapi banyak juga komikus-komikus yang udah profesional (biarpun nda terkenal^^)… Saya dipersilahkan memulai keraj oleh Pak Alva …,“Silahkan isi absen dulu, lalu di sana masih ada tempat kosong. Sibuat nyaman aja, terus kalau mau browsing untuk referensi bisa pakai 2 komputer di sana. Kalau mau ambil snack di depan…”
Setelah mengambil beberapa helai kertas A4, saya duduk, mengeluarkan kotak pensil saya… dan.. lho, kok pensilnya mana, ya? Ternyata isi kotak pensil saya cuma ada bebereapa drawing pen saja, pensilnya ketinggalan….
Karena saya merasa belum menyentuh kotak pensil ini selama di Bandung, PASTIlah kalau pensil kesayangan saya itu tertinggal di BEKASI….
Duh, dipikir-pikir ternyata selama ini saya cuma punya satu pensil… memalukan. Semenjak kuliah gambar udah nda ada, saya tak pernah lagi menggunakan pensil kayu dan selalu menggambar menggunakan satu pensil mekanik saja, dan pensil itu sekarang berada di tempat nun jauh di sana….
Terpaksalah saya keluar dari ruang Gallery dan mencari-cari stasioneri… Duh, ternyata disekitar C59 nda ada tempat jualan pensil nih, di Gasibu pun nihil… akhirnya saya mencari di sekitar UNPAD dan dapatlah… Setelah itu saya berlali kembali menuju Art Space Gallery C59. Sudah jam sebelas, TIDAAAK…..!! Tinggal 23 jam lagi!!!
Kembali ke tempat duduk saya di ruang rapat itu. Sekarang meja yang tadinya masih sepi itu sudah penuh, untungnya saya meninggalkan tas di kursi saya jadinya kursi itu tak ada yang menempati. Saya pun mulai berkarya….
Tengok kiri-kanan, melihat ke luar ruangan, dan memperhatikan orang-orang yang lain… saya pun kembali berteriak dalam hati, “Tidaaaak…!!! Gambar saya paling jelek…!!!” Orang di sebelah saya adalah SR 2006 yang dulu waktu SMA komiknya diterbitkan MIZAN… Waktu itu, menurut saya, gambarnya masih nda begitu keren… tapi sekarang.. GYAAAA, semua yang mondar-mandir di ruangan saya pasyilah singgah dulu di tempat beliau untuk melihat komiknya. Teknik tinta cinanya Oke, sayang karyanya tidak sempat dikumpulkan…
Pokoknya saya bener-bener minder, lah… Belum lagi ada teh Mariam , yang dari MIZAN juga, terus ada Alam , ada Bhima DKV , ada Adimboy , ada… pokoknya ada banyaklah…
Sejam lebih saya habiskan untuk membuat storyboard….. saya baru mulai menggambar sekitar setelah Zhuhur..
Rencananya saya cuma pakai teknik pensil doang aja, dan ternyata ini membawa hasil buruk. Jari manis kanan saya bengkak karena semalaman menjadi tempat bertumpu pensil yang saya tekan keras-keras… Bloking hitam pun menghabiskan waktu (dan tenaga) yang besar, kotor lagi… Beberapa kali tangan saya kesemutan dan saat itu biasanya saya gunakan untuk istirahat sebentar, minum kopi susu, makan snack…
…
Tak terasa sudah tengah malam, saya baru beres tujuh halaman…. pokoknya sampai detik akhirlah saya baru membereskan komik saya. Sekitar 7jam terakhir saya menggunakan kecepatan 2halaman/jam…
Kacaunya, gara-gara ngantuk… (tidak tidur lho selama 24 jam) saya salah ngasih nomor halaman. Habis halaman 13 langsung 15, jadinya halaman 14nya nda ada…
Tidak… jadinya saya gagal, dong? Cuma bikin 23 halaman doang, sih.. itupun 2 halamannya cover depan dan belakang…
Yah, enak nda enak, asik nada asik… akhirnya event yang sekalian dijadikan UTS untuk kuliah komik 2sks oleh pak Alva itu selesai…
Sayangnya karena yang untuk UTS ditemakan “Bandung”… jadinya ide saya rada mentok. Kalau tahun depan ada acara gini lagi, saya juga pengin ikutan, ah… kali itu bebas sesuka hati saya mu bikin komik apa… atau nda juga??
yah bagi yang ingin melihat hasil-hasil komik itu silahkan kinjungi:
http://space59bandung.multiply.com
Shaf Terdepan Adalah yang Terbaik…
October 11, 2007
Jika grafik keimanan sedang dalam puncaknya, saya bisa jadi sangat alim. Sedari kecil biasanya saya hobby sekali sholat berjamaah di masjid. Karena memang lagi semangat-semangatnya, biasanya saya selalu mencari-cari cara agar selalu bisa mendapat shaf yang terdepan…
Belakangan ini tampaknya roda keimanan pun masih tetap ada di atas… Yah, mau gimana lagi… toh saya tinggal di komplek masjid kampus. Mau tak mau, pastilah saya jadi anak sholeh juga. Seperti ketika masih kecil, sekarang pun saya masih berburu shaf sholat terdepan. Tempat favorit saya biasanya pada shaf terdepan tepat di belakang imam atau setidaknya masih di sekitar mimbar…
Dua tahun lalu ketika saya masih TPB*, Masjid Salman* adalah tempat favorit saya untuk melaksanakan ibadah sholat berjamaah meskipun harus sedikit jauh berjalan dari kosan yang waktu itu masih di Pelesiran 19. Yang ada dalam benak saya waktu itu adalah rasa kekaguman… kekaguman terhadap mahasiswa-mahasiswa yang ada di ITB*, yang muslim, khususnya yang sering memenuhi Salman, khususnya yang sering menjadi imam sholat. Saya yang memang sangat cetek ilmunya hanya bisa ternganga melihat setiap ada yang jadi imam… “Surat apa sih yang mereka baca…??” batin saya setiap mendengar mereka membacakan surat-surat yang waktu itu masih terdengar asing. Setiap saya berada tepat di belakang imam, saya merasa seperti orang bodoh. Orang-orang yang ada di sebelah saya tampaknya mengerti surat yang imam bacakan, kalau imam salah pun mereka biasanya berlomba untuk membetulkan. Saya pun bertanya-tanya: Apakah shaf terdepan memang shaf yang terbaik? Pasti disebut terbaik karena memang isinya orang-orang yang terbaik, yang antusias mencari posisi terbaik, yang memiliki ilmu untuk mem-back up imam. Pertanyaan selanjutnya pun muncul: Apakah saya memang pantas menempati shaf terbaik ini…??
Waktu berlalu, ilmu saya mulai bertambah biar sedikit demi sedikit. Saya masih tetap sering memosisikan diri di tempat yang terbaik ketika sholat berjamaah. Saya masih tetap mengagumi orang-orang yang menjadi imam, orang-orang yang selalu ada tepat di depan posisi saya. Saya selalu memperhatikan punggung-punggung orang-orang hebat itu, “Jadi begini toh, tampak belakang orang-orang hebat itu..” Biarpun saya sering menjadi imam kalau cuma untuk sholat di mushola kecil TPB FSRD, tapi rasanya beda, level saya dengan orang-orang ini terlalu jauh berbeda…
Ketika ilmu mulai bertambah, timbul kegelisahan di hati ini, ”Apakah nantinya saya bisa seperti orang-orang hebat itu???” Kesempatan untuk menempa diri tampaknya mulai muncul, setidaknya di SR*, jurusan sendiri, saya sering sekali diminta untuk menjadi imam… tampaknya memang teman-teman SR menganggap saya terlalu tinggi, saya dikira orang alim atau semacamnya hanya gara-gara saya sering mimpin sholat Zhuhur dan Ashr ketika TPB dulu… Oleh karena itu sedikit banyak jam terbang saya sebagai imam semakin bertambah (khususnya pada sholat-sholat yang dijahrankan). Kesempatan terus bermunculan, saya pernah beberapa kali jadi imam sholat di Salman untuk kloter-kloter kedua, yang jamaahnya telat untuk masuk ke jamaah sholat kloter awal.
Saya merasa peluang saya semakin besar ketika satu persatu saya mulai mengenal siapa-siapa mahasiswa yang sering menjadi imam itu. Berdasarkan induksi dari fakta-fakta yang saya kumpulkan, saya mendapat satu informasi penting: ternyata mayoritas mahasiswa yang sering menjadi imam itu sering terlihat di sekitar Salman karena mereka adalah anggota-anggota Asrama Salman…
Singkat cerita, gampang-gampang susah akhirnya saat ini saya pun termasuk anggota Asrama Salman sendiri. Kalau begitu apakah akhirnya saya juga jadi orang hebat?? Ternyata dengan yakin saya dapat mengatakan :Tidak! Level saya masih tergolong peringkat bawah dibanding anggota-anggota asrama yang lain. Setidaknya terlihat dari jumlah hapalan mereka, rata-rata di atas saya yang cuma hapal 1 juz.
Bagaimana pun juga, saya tetap setia menempati posisi favorit itu. Kali ini punggung yang saya perhatikan bukan punggung yang saya tidak kenal. Langganan imam sholat Shubuh, Maghrib, Isya’, tak lain adalah teman-teman asrama sendiri. Memang… meskipun ilmu saya sudah banyak bertambah, tetap saja belum mampu menandingi orang-orang yang memang sudah hebat bahkan sebelum masuk ITB…
Mungkin kebiasaan mencari posisi ini lah yang akhirnya sedikit mengubah garis hidup saya… Suatu ketika, ketika muadzin sudah beriqamah… di deret depan tak terlihat seorang pun anak asrama kecuali saya, oleh karena itu anak asrama yang ada di kejauhan mengisyaratkan saya untuk maju mengambil pengeras suara dan memimpin sholat berjamaah… dengan grogi pun saya baca Fatihah, surat pendek terkeren yang mampu saya baca… dan akhirnya saya dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi imam di masjid tercinta ini.
Cerita terus berlanjut, semakin seringlah saya menjadi imam sholat. Tak lain karena setiap sholat mau dimulai, saya selalu ada di tempat yang tepat… Saat ini rasa grogi yang menyelimuti ketika memimpin sholat sudah mulai dapat saya atasi. Namun kembali saya termenung… teringat kata-kata itu: shaf depan adalah shaf terbaik. Jika dipikir-pikir, orang yang paling depan ketika sholat kan imam? Jadi apakah sebenarnya shaf terbaik untuk setiap sholat itu hanya diperuntukkan satu orang saja?? Hehehe…penyimpulan yang bodoh, ya… Logika ini tidak terlalu benar jika saya berpikir lebih lanjut. Yang namanya shaf kan berarti barisan dan tentu saja untuk membentuk suatu barisan dibutuhkan setidaknya dua orang atau lebih ‘kan?
Saya jadi imam, dulu saya berpikir kalau imam itu pastilah hebat, namun saya tidak hebat, saya tahu sekali banyak orang-orang lain yang jauh lebih luar biasa dari saya…
Yah… sebenarnya tak perlu dipikirkan pusing-pusing. Saya memang jadi imam, tapi apakah saya hebat atau tidak saya tidak begitu peduli…terserah orang lain sajalah. Toh, saya hanya menjalankan tugas.
Namun kembali terlintas di benak saya… ketika saya jadi imam, rasanya tak ada punggung yang bisa saya lihat, deh… hehehe..
Memang shaf imam itu shaf yang spesial, dan
Memang shaf tedepan itu shaf yang terbaik…
7 Oktober 2007,setengah dua pagi dalam mihrab Masjid Salman
Anak, Antara Amanah, Beban, dan Harapan…
October 3, 2007
Seminggu lalu saya dan teman-teman se-Asrama berkunjung ke rumah salah seorang pengurus YPM Salman, namanya…ng, namanya saya lupa^^ Pokoknya ada -sono2nya…
Beliau tinggal di dekat… atau tepatnya persis di samping Masjid Daarud-Da’wah (tempat saya sholat berjamaah dulu sewaktu masih tinggal di Pelesiran). Kunjungan ini sendiri dalam rangka pembinaan, yang Insya Allah akan dirutinkan. Manfaat dari kunjungan ini selain menjalin silaturahim juga diharap terjafinya pertukaran ilmu dan pengalaman…
Menuju ke inti cerita, ada hal menarik yang saya tangkap dari obrolan kami. Beliau menceritakan tentang perbedaan-perbedaan pandangan perihal mengasuh anak.
Cerita bermula dari negeri Jepang… Katanya saat ini mayoritas wanita Jepang takut menikah lantaran tidak mau/ suka mengurus anak. Wanita-wanita yang menikah pun takut punya anak. Hmmm… Mungkin bisa dimengerti bahwa di negeri industri seperti Jepang di mana sudah seperti keharusan mutlak untuk bekerja, mengurus anak akan menjadi penghambat untuk perkembangan karir. Weleh… jadi bagi mereka karir lebih penting daripada regenerasi?? Kalau soal masa depan, bukankah justru terletak di pundak anak-anak mereka sendiri… ? Untuk apa memperoleh segala kekayaan kalau pada akhirnya justru tidak ada keturunan yang dapat meneruskannya…? Begitulah. Kalau saya tidak salah info, saat ini piramida popukasi Jepang justru bebebentuk piramida terbalik… mortalitas lebih banyak daripada natalitas…
Beralih ke negeri sebelah barat Jepang, yaitu Cina. Yang terjadi di negeri ini justru kebalikannya. Kita tahu bahwa saking banyaknya populasi negeri Kung-Fu ini, pemerintah pun memberlakukan peraturan yang mengerikan kalau boleh saya bilang, yaitu: setiap keluarga hanya boleh punya anak satu!! Jika ada keluarga yang mempunyai anak kedua, maka niscaya anak itu akan ‘disita’ negara, dijadikan ‘anak negara’–entah apa maksudnya (/.\)… Berbeda dengan Jepang yang ketakutan untuk memiliki anak, penduduk Cina justru harus rela dibatasi jumlah keturunan… meskipun misalnya mereka tidak takut untuk memiliki banyak anak. Situasi dan kondisi tak memungkinkan mereka untuk melawan kebijakan pemerintah. Yah, itulah resiko hidup di negeri dengan penduduk milyaran…
Bagaimana dengan Indonesia? Dari penuturan beliau, ada dua paradigma yang aneh… Pertama kalangan terpelajarm sebut saja para lulusan Perguruan Tinggi. Biasanya golongan ini (jika menikah) takut punya anak banyak-banyak, maksimal dua lah… Sebaliknya golongan kedua adalah keluarga-keluarga di pedalaman desa. Dengan kompetensi intelegensi yang cenderung rendah, mereka tanpa ragu memiliki banyak keturunan, minimal 9-lah…
Kebayang bukan, masa depan negeri ini justru generasi yang dilahirkan dari keluarga bependidikan tinggi kalah jauh jumlahnya dengan generasi yang dilahirkan dari keluarga yang, maaf, kurang berpendidikan.
Bukankah selama ini kita bermimpi untuk menjadi negeri yang besar?
Bagaimana bisa jika orang-orang berpendidikan yang menjadi harapan bangsa justru berpikiran kecil…
Bukan masalah jumlah anak, namun perbandingan yang setara antara kapasitas orang tua dengan jumlah anak yang mampu dibesarkan dengan maksimal.
Peribahasa,”Banyak anak banyak rejeki” hendaknya kita tanggapi secara bijaksana.
Ingat, aset terbesar dari seorang manusia adalah anak-anak mereka
Membina Anak-Anak?
October 3, 2007
Apakah selama ini Anda beranggapan bahwa PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) adalah tempat mahasiswa-mahasiswa hebat berkumpul untuk membina adik-adik agar jadi hebat juga??
Apakah Anda juga beranggapan bahwa PAS adalah tempat kk mengajari adik-adik mengaji dan baca Qur’an??
Jika Anda berpikir seperti itu, saya ingin sedikit merubah paradigma sesat itu…
Coba pikir, pertemuan adik-adik dengan kk-kk hanya sekali seminggu dalam waktu tak lebih dari 4-5 jam saja… Bisa apa kami (kk-kk PAS) dalam waktu sesingkat itu untuk melakukan perubahan hebat terhadap adik-adik?? Kalau mereka ingin jago ngaji, masih banyak TPA-TPA yang bagus dengan waktu belajar yang jauh lebih banyak dan efisien, bukan??
Memang brand kami adalah “Pembinaan Anak-Anak”… namun hal yang paling mendasar justru sebaliknya. Bukan adik-adik yang lebih banyak terbina di sini, melainkan kk-kk PAS itu sendiri yang terbina dan menjadi lebih baik dengan membina adik-adik sebagai sarana utamanya…
Sedikit paham bukan?
Mahasiswa-mahasiswa yang mendedikasikan diri mereka untuk menjadi pembina PAS, sebagian besar pada awalnya juga tidak berniat sesederhana seperti: “Saya ingin mengajar adik-adik baca Quran…”
Hehehe… jangan salah, ya. Adik-adik PAS itu banyak berasal dari keluarga yang hebat. Bahkan ada beberapa dari mereka yang justru jumlah hapalannya lebih banyak dari kk-kk PAS sendiri^^
Kalau soal hebat-hebatan, terkadang kami kalah oleh mereka.
Satu niat saja yang ada dalam benak kk-kk PAS: “Kami ingin belajar dari anak-anak…”
Sekali lagi saya katakan, yang terjadi di PAS bukanlah seperti adegan “Guru memberi materi, murid mencatat, besok ulangan, lalu yang ulangan jelek berarti bodoh, harus tinggal kelas…”
Bukan, bukan seperti itu!
Adik-adik PAS sendiri sudah cukup lelah dengan rutinitas sekolahan mereka full dari Senin-Sabtu. Apakah kami harus membebani mereka lebih jauh lagi?? Tentu tidak, bukan???
Yang kami berikan adalah wahana rekreasi,
Yang kami berikan adalah rasa kekeluargaan yang hangat,
Yang kami berikan adalah cerita-cerita yang menyenangkan,
Yang kami berikan adalah sebuah kenyamanan,
Semua itu bukan semata-mata untuk perkembangan adik-adik PAS sendiri, malainkan sebagai sarana pembinaan untuk kk-kk PAS juga.
Saya garis bawahi, maksud pembinaan untuk kk adalah:
dengan berorganisasi, kk-kk menjadi terbina
dengan bermain dengan adik-adik, kk-kk menjadi terbina
dengan bertemu orang tua-orang tua adik, kk-kk menjadi terbina
dengan menyiapkan mentoring Ahad, kk menjadi terbina
dengan bersilaturahmi antar kk, kk menjadi terbina
dengan mengikuti kegiatan-kegiatan intern PAS, kk menjadi terbina…
Jadi, sebenarnya PAS adalah “Pembinaan kAkak-kakak Salman”
hehehe, barangkali boleh dibilang begitu…
Asrama tanpa asmara…
October 3, 2007

Tinggal setahun lagi di asrama…
Dengan kata lain, mesti nyari tempat berteduh yang baru dong… tapi lumayanlah, bisa ngirit ongkos kosan buat setidaknya setahun ini.
Asrama Salman ITB sebutannya…
Nama resminya Program Pembinaan Kader Inti Salman.
Letaknya di GSS Salman lt.4 untuk asrama putra dan di samping jalan…apa itu namanya…pokonya deket gerbang ITB kawasan SR…ada asrama putri.
Ikut Asrama Salman berarti:
- telah terbukti aktif di unit-unit Salman atau LDF
- setidaknya IP lebih dari 3.00 ketika masuk dan harus lebih dari 2.75 kalau ingin bertahan…
- harus nurut kalau disuruh-suruh sama YPM buat ngapa-ngapain
- harus ikut segala tetek bengek pembinaan mulai dari perwalian, kajian tafsir, bahasa asing, dialog tokoh, sampai acara-acara khusus mulai National Leadership Youth Camp sampai Muktamar KALAM Salman…dll
- harus rela bangun awal buat sholat malam, dan siap-siap ngurus adzan, kulsub buat asrama putra
- harus siap berbagi, mulai dari makanan, tempat tidur, komputer, waktu, cerita, tenaga, untuk saudara-saudara seasrama
- harus rido kalau waktu pagi dihabisin buat rapat, nyapu halaman komplek Salman, tahsin Qur’an, atau nempel-nempel poster SBT,dll
- harus lulus tahsin, bisa ceramah biar dikit-dikit, hapalan minimal 1 juz, yang laki-laki kudu bisa jadi imam sholat
- harus rela nda nikah selama masa pembinaan di asrama
Begitulah, asik nda asik pokoknya saya masih anak Asrama Putra Salman ITB
Beginilah adanya…
rela nda rela harus rela…
Seandainya saya Ashura
May 3, 2007
Saya bukan Ashura, bukan pula Kali, ataupun Shiwa. Tangan saya hanya dua, palet di tangan yang satu dan kuas di tangan yang lain. Di depan saya terpampang kanvas yang masih setengah jadi. Semakin diingat semakin bertambah tekanan -atau yang kita kenal sebagai stress- dan inilah faktanya: 2 dari 8, kanvas yang sudah digarap… Tinggal 2 minggu lagi sebelum tugas dikumpulkan. Mampukah?
Seandainya saya Ashura pun, mungkin belum tentu tugas-tugas itu dapat terselesaikan dengan lebih cepat. Memiliki banyak tangan membutuhkan kemampuan koordinasi syaraf yang ekselen, you know? Ah… lupakan hal itu, saya cukup bersyukur diciptakan Allah ‘hanya’ memiliki dua lengan. Alhamdulillah. Yang dapat saya lakukan sekarang adalah memaksimalkan tangan yang cuma dua itu.
Studio Lukis, Gedung FSRD ITB lt2, tempatku duduk terpaku sendiri… ya, sendiri. Tengah malam seperti ini, hanya ada diriku di ruang yang penuh sesak dengan ratusan kanvas, baik yang sudah selesai digarap, setengah selesai, masih polos, atau yang tinggal ram-nya saja. Bau cat minyak, linsed oil, terpentin, dan bauku sendiri (hehe..) berbaur dalam suatu kepaduan komposisi… Ngomong-ngomong, sebenarnya studio tidak boleh digunakan selain pada waktu yang telah ditentukan. Jadi, menginap di studio merupakan hal yang dilarang (meskipun kami selalu melanggarnya). Ngomong-ngomong lagi, untuk apa saya membuang waktu menulis di sini?? Lebih baik segera memulai berkarya kembali…