Komik dan Cerlang Budaya Indonesia
September 17, 2008
Komik dan Cerlang Budaya Indonesia
oleh: Heru Setiawan (FSRD ITB)
Persepsi dan Presentasi
Sebelum bicara banyak soal komik dan sejenisnya, ada baiknya kita hilangkan dulu persepsi buruk apa pun tentang komik. Komik bukanlah bacaan hiburan, komik bukanlah “benda terlarang” bagi kaum intelektual, komik bukanlah virus perusak moral bangsa, komik bukanlah rubrik pelengkap dalam koran-koran, komik bukanlah identifikasi dari “anak kecil”, komik bukan pula seni rendahan, dan yang terpenting komik bukanlah buku. Anggap saja komik sebagai suatu objek yang objektif dengan segala potensi visual dan non-visualnya. Komik merupakan cara bercerita atau menyampaikan sesuatu dengan gambar.
Will Eisner dalam buku “Comics and Sequential Art” menyebutkan bahwa “komik” adalah “sequential art” atau “seni berturutan” kemudian Scott Mc Cloud dalam “Understanding Comics”-nya menambahkan bahwa “seni berturutan” itu harus terjukstaposisi dalam piktorial. Praktisi film Indonesia Dwi Koendoro Br. yang juga menggeluti dunia perkomikan dalam buku terbarunya “Yuk, Bikin Komik” mengatakan komik adalah the magic of still pictures and written words. Penulis sendiri cenderung menyebut komik sebagai gambar bercerita yang sekuensial (berturutan).
Permasalahannya adalah dengan luasnya definisi komik yang disebutkan maka banyak pula yang dapat dikategorikan sebagai komik. Scott Mc Cloud dalam buku yang sama memasukkan naskah bergambar dari Indian kuno, lalu Permadani Bayeux, sampai lukisan Mesir (dengan mengecualikan Hierogliff yang digolongkannya sebagai tulisan) sebagai komik. Bahkan buku panduan pemilik kendaraan bermotor maupun manual alat elektronik dapat disebut komik. Pertanyaan selanjutnya muncul: kalau begitu apakah komik yang tertua? Jawabannya bisa saja lukisan gua zaman pra-sejarah atau semacamnya.
Hal yang dapat dipetik dari bahasan di atas bahwa sadar tidak sadar, percaya tidak percaya, komik telah hadir sepanjang perjalanan hidup manusia dari zaman dulu hingga sekarang. Ada alasan mengapa dalam bagian awal tulisan ini penulis menyebutkan bahwa ada baiknya kita tak berpersepsi buruk dulu tentang komik. Kita bisa “buta” akan potensi yang dimiliki oleh komik. Mencap komik sebagai sesuatu yang buruk berarti juga mencap buruk karya-karya mulai dari lukisan gua zaman prasejarah sampai relief candi Borobudur. Mencap buruk naskah bergambar dari Indian kuno sampai storyboard untuk perfilman.
Potensi Komik Sebagai Cara Bercerita
Meskipun sastra visual juga dapat menyampaikan hal yang lugas (denotatif) dan simbolik (konotatif), berbeda dengan sastra tulisan yang menyerahkan penggambaran objek kepada imajinasi pembacanya, sastra visual dapat mendoktrin dalam hal itu. Mendoktrin dalam persoalan bentuk. Bentuk yang ditawarkan dalam sastra visual sudah saklek sesuai keinginan pembuatnya. Hal ini sering disebut sebagai kelemahan komik, yang merupakan sastra visual, dibandingkan novel : tidak membiarkan pembacanya berimajinasi. Namun kelemahan itulah sekaligus kelebihan komik : to the point story telling. Bayangkan dua hal, yang pertama adalah sebuah paragraf berisi petunjuk tentang bagaimana membuat cangkokan tanaman dan yang satunya lagi adalah komik tentang hal yang sama. Pesan akan lebih mudah dimengerti melalui media visual. Buku-buku teks pelajaran yang baik biasanya menyertakan ilustrasi-ilustrasi yang gunanya untuk men”jangkar”kan makna atau pesan. Mungkin dalam kasus ini tepatlah sebuah quotation “Satu gambar menyampaikan lebih banyak hal dari ratusan kata”.
Penggunaan media komik sebagai cara bercerita atau menyampaikan pesan yang mendoktrin bentuk sudah banyak dipakai sampai saat ini. Di Indonesia sendiri buku-buku seperti “Lagak Jakarta”, “Komik Peradaban”, “Kartun FISIKA”, dan lain-lain, banyak beredar di Gunung Agung maupun Gramedia dan sebagian besar best seller. Buku “Understanding Comics” Scott Mc Cloud sendiri sebenarnya adalah buku teori berat yang dikemas dalam wujud komik sehingga mudah dicerna. Hal-hal tersebut merupakan bukti bahwa komik, seperti kata Dwi Koen, memiliki “sihir”nya tersendiri.
Di sini kita baru membahas potensi bercerita dari komik, belum sampai pada eksplorasi visual pada komik itu sendiri. Sayangnya hal inilah yang sering diperdebatkan oleh sekian banyak pemerhati komik, praktisi komik, penggemar komik, khususnya di negeri tercinta kita Indonesia di mana katanya komiknya belum beridentitas. Komik Indonesia itu apakah harus seperti komik-komik dahulu ketika masa keemasan ataukah hal itu sudah kuno dan komik Indonesia harus punya wajah baru meski dengan meminjam gaya asing seperti komik Jepang? Entah yang mana yang paling benar namun satu yang saya garis bawahi. Jika perdebatan tentang komik Indonesia, maafkan saya, hanya sebatas ini, maka selama ini kita hanya memperdebatkan “permukaan” saja. Bukankah masih ada ketrampilan yang masih harus diasah oleh setiap pembuat komik. Kemudian ada struktur keilmuan dalam pembuatan komik sendiri dan yang lebih jauh lagi: gagasan. Apakah yang hendak kita sampaikan melalui komik. Potensi bercerita yang saya sebutkan di atas hanyalah satu dari sekian potensi yang dimiliki oleh komik sebagai medium dalam menyampaikan gagasan.
Cerlang Budaya yang Terlupakan
Local genius atau istilah Indonesianya “cerlang budaya”, secara sederhananya adalah kebudayaan yang khas dari suatu daerah. Dengan kata lain kebudayaan yang “hanya ada” di daerah yang bersangkutan itu. Selanjutnya jika kita bicara tentang kebudayaan tentunya tak lepas dari tiga bentuk kebudayaan itu sendiri, yakni: kebudayaan sebagai ide, gagasan; kebudayaan sebagai pola interaksi antar manusia; kebudayaan sebagai benda-benda, artefak. Cerlang budaya pun tentunya meliputi tiga hal itu.
Indonesia dikenal juga sebagai nusantara karena pada dasarnya Indonesia memakai konsep negeri kepulauan (archipelago), negeri dengan banyak pulau (nusa). Atas dasar ini saja wajarlah bila Indonesia memiliki banyak kebudayaan, atau yang lebih spesifik lagi, Indonesia berpotensi memiliki banyak cerlang budaya. Dalam bahasan ini cerlang budaya itu adalah komik (artefak).
Komik dalam sejarah Indonesia sudah ada jauh sebelum bangsa ini mengenal tulisan. Gambar-gambar prasejarah di gua-gua yang dapat ditemui di beberapa pelosok Indonesia, boleh dibilang sebagai cikal bakal komik. Bentuknya sederhana namun tujuan dasarnya sama yaitu menyampaikan sesuatu. Diperkirakan terjadi sekitar zaman neolitikum awal ataupun mesolitikum akhir di mana manusia prasejarah mulai menetap dan memiliki waktu luang. Kemudian beberapa zaman selanjutnya, “komik Indonesia” yang terkenal dapat kita temui pada relief-relief candi Borobudur. Menurut Prof. Primadi, guru besar FSRD ITB yang menulis buku “Bahasa Rupa”, para turis asing pun terkejut ketika tahu bahwa ternyata relief candi Borobudur dapat dibaca. Wayang beber, cerita wayang yang digambar pada gulungan kertas, pun merupakan “komik Indonesia” yang khas. Gambar-gambar bercerita pada daun lontar di Bali, dan masih banyak lagi cerlang budaya Indonesia dalam bentuk “komik”. Semua ini menjadi cikal bakal benda-benda budaya lain seperti wayang kulit, wayang golek, dan sampai pada bentuk “komik” yang populer saat ini yang dapat kita temui pada koran-koran, majalah, buku komik, atau internet. Tentu saja bukan Indonesia saja yang memiliki cerlang budaya komik, banyak negara-negara lain yang juga memilikinya, pastinya dengan sejarahnya masing-masing.
Cerlang Budaya dalam Komik Masa Kini
Sekarang marilah kita membahas dunia perkomikan Indonesia masa kini, khususnya ketika bentuk komik seperti yang lazimnya diketahui orang-orang sekarang. Bolehlah kita bagi masa perkembangan komik Indonesia ke dalam dua zaman. Pertama adalah komik-komik Indonesia dulu, yang pernah mengalami masa keemasan di mana komik karangan komikus Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Selanjutnya adalah komik Indonesia masa kini di mana komikus-komikus muda berkarya yang sayangnya harus bertarung dan bertahan dari serbuan komik-komik asing (luar negeri), bahkan beberapa menerima mentah-mentah “bahasa komik” asing tanpa filter.
Perbedaan komik-komik Indonesia masa kini dengan komik-komik Indonesia pada zaman keemasan secara garis besar dapat ditinjau dari segi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan komik Indonesia dulu dibanding sekarang yang paling kentara adalah dari segi teknik gambar. Meskipun pada masa kini perkembangan rekayasa digital sudah cukup maju, justru hal inilah yang melemahkan komik Indonesia masa kini. Kemudahan yang ditawarkan oleh komputer malah menimbulkan kemalasan untuk mendalami teknik dan ketrampilan dalam membuat komik, khususnya secara manual. Komikus Indonesia dulu memiliki skill yang prima dan mumpuni, serta dengan teknik tinta hitam putih dan teknik arsir mampu mereproduksi gambar yang maksimal, berbeda dengan komikus muda yang cenderung terlalu mengandalkan kemampuan komputer khususnya dalam mengolah background. Komik Indonesia masa kini sebaliknya unggul dalam “bahasa komik”nya, terlebih dengan pengaruh dari komik-komik luar negeri seperti komik Jepang (manga), komik China, komik Amerika, dan lain-lain. Variasi dalam gaya bercerita, tata panel, permainan sound effects, tema cerita, dan lain-lain, merupakan beberapa kelebihan komik Indonesia masa kini. Sayangnya dengan keunggulan dan kekurangan masing-masing, penulis berpendapat bahwa komik Indonesia dari dua zaman yang berbeda itu belum dapat saling melengkapi sehingga terlahir komik Indonesia dengan skill yang prima namun dengan gaya bercerita dan tata visual yang variatif serta tidak monoton. Hal ini diperkirakan karena adanya missing link dalam perkembangan komik Indonesia dari era dulu ke era saat ini.
Tak ada salahnya kita melihat perkembangan komik di negeri di mana komik sudah menjadi industri tersendiri, yaitu Jepang. Bedanya dengan di Indonesia, di Jepang apa pun sudah menjadi cerita komik. Komik petualangan yang bersetting dunia khayal memang populer, namun banyak juga komik yang mengambil latar kehidupan sehari-hari. Komik olahraga misal, dari sepakbola, basket, baseball, voli, tenis, bahkan golf pun dapat diangkat menjadi sebuah serial komik. Komik profesi juga cukup terkenal seperti komik tentang pemadam kebakaran, komik kedokteran, komik tentang kementrian keuangan, dan lain-lain. Komik yang mengangkat tema kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, pun dapat kita jumpai dengan mudah. Komik-komik di Jepang bahkan biasanya digolongkan sesuai dengan sasaran pembacanya, ada komik untuk remaja laki-laki (shonen), remaja perempuan (shojo), bahkan ada komik khusus dewasa. Kesemua komik itu terbagi ke dalam banyak genre mulai dari action-adventure, drama, komedi, misteri, dan lain-lain. Salah satu hal unik yang dapat kita temui dalam komik Jepang adalah bahwa sering kali komikus menyisipkan kebudayaan-kebudayaan Jepang dalam komik mereka, seperti festival-festival perayaan, pekan kebudayaan sekolah, pakaian tradisi, dan berbagai hal lainnya. Hal ini tentu menguntungkan Jepang mengingat komik Jepang sudah tersebar ke berbagai pelosok dunia sehingga jika orang luar Jepang membaca komik Jepang, mereka mau tak mau akan mengenal ”kebudayaan” Jepang. Boleh dibilang dalam hal ini orang Jepang telah sedikit banyak memasukkan cerlang budaya mereka ke dalam komik.
Bagaimanakah dengan komik Indonesia? Beberapa komikus Indonesia dulu boleh dibilang sudah memasukkan kebudayaan-kebudayaan Indonesia ke dalam komik mereka. Komik persilatan bersetting Indonesia lampau setidaknya mengenalkan tentang salah satu kebudayaan Indonesia dari segi perkembangan ilmu kanuragan (bela diri) dan bahkan arsitektur dan fashion Indonesia zaman kerajaan dulu dapat terangkat. Bagaimana dengan komik Indonesia sekarang? Sayangnya akibat gempuran budaya asing, termasuk komik, generasi muda Indonesia masa kini cenderung melupakan budaya-budaya mereka. Hal ini juga berimbas pada komik yang mereka buat seperti komik petualangan yang justru bersetting dunia khayal. Jarang sekali komik Indonesia saat ini yang mengambil setting dunia sehari-hari, padahal dengan mengambil setting tersebut saja setidaknya komikus sudah mengangkat budaya Indonesia, paling tidak dari latar tempatnya. Bukannya menyalahkan komikus muda kita namun penulis mengakui bahwa komik yang mengangkat kehidupan sehari-hari memang komik yang sulit untuk dibuat. Dibutuhkan referensi yang sangat banyak untuk setting tempat dan semacamnya serta diperlukan teknik yang baik agar dapat memproduksinya ke dalam komik. Memang ada beberapa komik yang mengangkat tema kehidupan sehari-hari (seperti komik terbitan Dar! Mizan), sayangnya kecenderungan komikus untuk mengabaikan background membuat komik-komik ini tidak maksimal. Tentu saja untuk mengangkat kebudayaan Indonesia dalam komik saat ini, sebagaimana dilakukan komikus Jepang, sangat sulit jika para komikus tidak menguasai teknik untuk merealisasikan hal itu. Oleh karena itu penulis mengajak seluruh insan negeri yang berniat menghidupkan kembali komik Indonesia untuk tidak memperdebatkan permukaan (baca: gaya komik) melainkan mengasah kemampuan dulu agar apapun gaya dan tema yang diangkat, komik yang dibuat dapat maksimal.
Dengan jumlah budaya yang segitu banyaknya dan keragamaman yang segitu banyaknya pula, seharusnya komikus kita tidak kekurangan bahan untuk diangkat menjadi sebuah komik. Bukankah belum ada (setahu penulis) komik bulutangkis (yang merupakan olahraga andalan Indonesia)? Komik yang menceritakan petualangan penjelajah yang menyusuri pulau-pulau nusantara juga sepertinya seru, bukan? Atau mengapa kita tidak membuat komik tentang masakan Indonesia? Jika saja perspektif kita tentang komik sudah cukup luas, maka kita tak akan menganggap remeh lagi hal satu ini. Jika saja para komikus muda kita mau membuka mata dan melihat lebih dekat negeri ini, tentu mereka tak akan kehabisan ide cerita dan bisa menghasilkan komik yang mengangkat nama (serta budaya) Indonesia. Sayangnya biarpun ada beberapa komikus yang membuat komik seperti itu, kebanyakan mereka baru bisa sampai pada level indie yang pembacanya terlalu terbatas.
Tentu saja merupakan kebebasan setiap komikus untuk menentukan komik seperti apa yang mereka buat. Meskipun demikian marilah kita kembali ke sebuah dasar: apa yang ingin kita sampaikan? Setiap komikus tentu memiliki hal yang ingin disampaikan dalam komik mereka, bukan? Salah satu hal yang menurut penulis dapat membuat komik Indonesia menjadi ”lebih Indonesia” adalah dengan meniupkan sedikit ”nafas” ke-Indonesia-an ke dalam komik-komik tersebut. Hal yang dapat diangkat sangatlah banyak dan kita hanya tinggal memilih saja. Komik profesi, komik olahraga, komik anak sekolah, belum banyak segi kehidupan kita yang sudah ”tersentuh” komik. Individu-individu kreatif dan terampil penggemar komik rasanya ada di mana-mana. Permasalahannya hanyalah kematangan teknik, kebijakan wawasan, dan rasa cinta negeri yang masih kurang. Meskipun begitu, jika ada kemauan tentu semua itu merupakan rintangan yang tidak mustahil untuk dilalui. Komikus-komikus dari Jepang sudah berhasil melalui rintangan itu, kapankah giliran kita? Mari kita perjuangkan komik Indonesia!
Kimi Ga Ireba (halah, apa pula artinya itu)
September 14, 2008

(If You Are Here)
The rain is falling painfully in your back
Inoru omoite mite ita
I watched you with praying mind
Kono yo ni moshi mo kasa ga tatta hitotsu da to shite mo
Even if there is only one umbrella in the entire world
Sagashite kimi ni watasu yo
I will find it and bring it to you
Nani mo dekinai kedo
I can’t do everything
Kimi no kawari
Nureru kurai wake mo nai sa…
But instead, my clothes getting wet is nothing, really
Onegai sono nayami wo douka watashi ni uchiakete
Please, open your heart and tell me what your worries are
Jika kita nonton Detektif Conan (terlebih movienya), lagu ini selalu disetel ketika ceritanya udah mendekati klimaks…
yang itu lho
(untuk jelasnya lihat Youtube atau apalah ^^)
Dan sekali lagi, mengapa saya menulis ini ya…
mungkin sekedar iri dengan hubungan Ran dan Shinichi yang saling memahami, dan sebagainya dan sebagainya…
Hiks…
Kalau dilihat terjemahan lagunya pasti kerasa…
“Heru Setiawan”
June 10, 2008
Ya, benar!
Heru Setiawan adalah nama saya. Nama yang diberikan oleh orang tua saya.
Ketika saya search di GOOGLE dengan kata kunci “Heru Setiawan”, yang muncul paling pertama adalah ini :
herusetiawan.com – Heru Setiawan Site
herusetiawan.com/ – 7k – Tembolok – Halaman sejenis
WOW!! Ternyata ada orang bernama sama dengan saya, cuma yang ini sepertinya udah sukses…sampai punya domain sendiri di http://herusetiawan.com
Tampaknya dia adalah seorang web developer, orang Indonesia tapi tinggal di Seattle, Amerika.
Gimana bisa?? Namanya sama persis cuma nasibnya beda!
Kemudian ada juga Heru Setiawan-Heru Setiawan lainnya mulai dari blog, konsultan kesehatan, kepala perusahaan ini, manajer itu, dll.
Di halaman kedua barulah ada Heru Setiawan yang memang “saya”, yang menuju ke blog wordpress saya.
Fyuuh…syukurlah ada! Mungkin karena saya pakai google Indonesia.
Saya lalu membuka google images kemudian melakukan pencarian dengan kata kunci yang sama dan yang muncul pertama kali adalah yang begini:
Heru Setiawan
{0><}0{>475 x 600 – 161k<0} - jpg
biznik.com
WOOW!! Lumayan ganteng, hahaha…setidaknya berapa tingkat di atas saya. Mungkinkah dia adalah si Heru yang web developer itu?
Kesimpulan yang saya dapatkan adalah:
- Nama saya cukup “pasaran”, banyak yang pakai.
- Biarpun nama sama, orangnya bisa beda…beda nasip dan segalanya.
Nama bukanlah hanya sekedar deretan huruf, tulisan. Di balik satu nama ada satu manusia, satu individu dengan segala kepribadiannya.
Nama adalah hal yang misterius.
Saya jadi berpikir, seandainya saya punya anak kelak…enaknya diberi nama apa, ya?
Bagaimana dengan Anda??
Apa nama yang Anda pilih untuk anak Anda? Nama yang bagaimana?
Yang bermakna dalam? Yang keren? Yang mudah dipanggil? Yang tidak pasaran?
Hehehehe…
terserah Anda
Tapi kalau bisa jangan diberi nama “Heru Setiawan”, hehehe, khususnya setelah membaca postingan ini. Soalnya di buku telepon Bandung saja, nama ini sudah ada setidaknya memenuhi satu halaman.
—————————————————————————————————————————————-
Hitam Putih
April 5, 2008
Sekilas Tentang Hitam Putih
Apakah mempunyai musuh dan teman merupakan keniscayaan bagi setiap manusia?
Apakah ada manusia yang tidak memiliki musuh sama sekali?
Sebaliknya adakah manusia yang tidak memiliki teman seorang pun?
Jika kita membagi dunia ke dalam 2 warna: hitam dan putih, maka mungkin warna hitam adalah representasi dari sisi gelap manusia dan warna putih sebaliknya mencerminkan bagian terang benderang.
Namun dalam teori warna sendiri, hitam dan putih tidak digolongkan sebagai warna, melainkan value. Tentu saja value ini sendiri tidak hanya terbagi dalam satu hitam dan satu putih saja namun terdiri dari sekian banyak gradasi dari hitam ke putih. Inilah yang disebut sebagai abu-abu.
Dikaitkan kembali ke realita sosial, masih adakah hitam yang benar-benar hitam dan putih yang benar-benar putih? Ataukah kedua titik puncak value ini sudah tak ada sehingga di dunia ini hanya terdapat value abu-abu? Semakin abu-abu ini dekat dengan hitam, semakin banyaklah “isi” hitam dalam abu-abu ini, demikian pula sebaliknya. Namun kita harus mengetahui, abu-abu yang paling dekat dengan hitam pun di dalamnya masih ada putih sedangkan putih yang tercampur dengan hitam setetes kecil saja akan menjadi abu-abu.
Sungguh repot sekali orang-orang yang hanya membagi dunia menjadi dua hal: hitam-putih, jahat-baik, musuh-teman, benar-salah. Seandainya jika suatu saat mereka menyadari diri mereka bukan hitam tapi tidak putih, maka harus berada pada golongan yang mana?
Warna dan Identitas
Setiap manusia memiliki warna masing-masing sebagai identitas. Bilang saja seperti ini: si A itu merah, si B itu sangat coklat, namun si D adalah hijau dan ungu. Tak ada batasan berapa jumlah maksimal warna yang dapat digunakan sebagai identitas. Hanya saja semakin sedikit jumlah warna yang dijadikan seseorang sebagai identitas maka semakin ber”karakter”lah orang itu. Sebaliknya orang yang punya terlalu banyak warna cenderung tak berkarakter.
Dengan warna-warna sebagai dasar identitas, pembentukan karakter ditentukan oleh bagaimana warna-warna itu diolah, dikomposisikan. Ada orang yang menggunakan pola monokromatik sebagai warna dirinya sementara ada orang lain yang mementingkan efek kontras yang tegas. Ada juga yang cenderung lebih nyaman dengan perpaduan warna yang harmonis.
Namun bagaimana pun formula warna identitas seseorang, tak akan bisa lepas dari pengaruh value. Valuelah yang membuat warna menjadi warna. Identitas diri yang gelap, suram, namun terkesan ekslusif, mungkin didominasi oleh value hitam. Sebaliknya value putih memberi efek terang, lembut, pucat, dan sebagainya. Oleh karena itu mengenal seseorang, berteman dengan seseorang, berarti kita harus menerima semua warnanya beserta value yang menyertainya sebagaimana orang itu harus melakukan hal yang sama kepada kita. Mengenal warna diri sendiri serta mengetahui warna orang lain menjadi sesuatu yang prinsipil dalam hidup ini, yakni: pencarian jati diri.
Hitam Putih Sosialisasi
Proses sosialisasi dalam hidup ini adalah proses mewarnai dan terwarnakan. Pengaruh darri lingkungan mulai dari keluarga sampai masyarakat bisa mewarnai kita, dengan kata lain memberi identitas. Untuk kebalikannya, rasanya diperlukan usaha yang lebih ketika kita ingin memberi warna pada lingkungan, memberikan identitas kita pada lingkungan.
Pada akhirnya hitam atau putih lah yang menjadi puncak pencapaian jati diri. Keduanya merupakan sesuatu yang absolut. Mereka merupakan simbol kekosongan sekaligus isi. Hitam dan putih adalah kondisi ideal di mana semua warna menjadi satu atau semua warna kehilangan warnanya. Maka apakah tujuan kita? Mecapai putih yang absolut? Ataukah hitam murni yang menjadi akhir dari perjalan warna kehidupan kita?
—————————————————————————————————————————————-
terinspirasi oleh perkataan Reid Hershell dalam RPG PS 1 dalam “Tales of Destiny 2″
Hubungan antara RPG dan kuliah…
December 20, 2007









Memori manusia cenderung mudah mengenang hal-hal yang menyenangkan. Sejumlah kenangan-kenangan bahagia yang tersimpan di memori bawah sadar akan langsung muncul ke permukaan hanya dengan trigger yang sedikit saja.
Ketika melihat gambar cover-cover DVD RPG PS2 ini, bagi penggemar RPG yang pernah memainkan gamenya mungkin akan langsung terbayang puluhan jam menyenangkan, seru, mengharukan, dll, yang dia habiskan sewaktu memainkan RPG… Bagi penggemar RPG yang belum sempat memainkan gamenya pun pasti akan merasa ingin memainkan dan juga akan terbayang puluhan jam yang nantinya akan dia habiskan untuk menyusuri cerita demi cerita, pertarungan demi pertarungan, dalam sebuah game bertajuk role-playing-game.
Karena itulah iseng-iseng berhadiah, dalam tugas studio 8 kanvas semester ini saya melukis cover-cover RPG PS 2 ini. Kurang kerjaan? Yak, begitulah… sedikit malas berpikir memang. Namun konsepnya biar sedikit tetap ada. Yaitu bermain dengan dilema high art-low art…
Memang karya saya akan lebih terlihat seperti poster, namun karena saya membuatnya di atas kanvas… bukankah itu jadi lukisan?? Hehehe, sampai saat definisi lukisan sendiri masih tetap sederhana, yaitu: cat di atas permukaan datar.
Saat ini memang tujuan saya bukan bermain konsep dan gagasan terlalu jauh, melainkan lebih ke pematangan teknik…
Bahaya bro kalau kita punya ide luar biasa namun tidak didukung oleh skill yang prima untuk merealisasikannya. Sangat mungkin ide kita diambil orang lain dan jika mereka punya skill yang jauh lebih baik dari kita, tamatlah (ide) kita!!
Namun senjata maut seniman ketika ditanyakan alasan mengapa begini-begitu oleh apresiator, dan ini biasanya dihindari oleh seniman konseptual dan intelektual, saya pakai saja:
“Karena saya memang suka! Jadi Anda mau apa?”
—————————————————————————————————————————————-
sayangnya argumen semacam ini tentu tidak bisa dilaksanakan di dunia akademis, hehehe
Sunsilk Hijau
November 12, 2007
Wait…wait… jangan salah sangka dulu! Saya bukan maniak atau semacamnya, saya hanya ingin me-review shampoo yang saya pakai.
Bermula dari obrolan dengan seorang teman, sebut saja Bhima 19 tahun. Sebagaimana umumnya mahasiswa seni rupa, Bhima memiliki rambut yang panjang. Bedanya rambut beliau rapi terawat. Begitu saya iseng-iseng bertanya,
“Wah, Bim… pakai shampoo apa?”
dengan bangganya beliau menjawab,
“Sunsilk Hijau, dong.”
Sejenak saya terhentak, bukankah Sunsilk hijau itu shampoo untuk wanita berjilbab? Tetapi langsung saja saya patahkan argumen itu, memangnya kita harus selalu menuruti apa kata iklan? Faktanya adalah dua hal:
teman saya memakai shampoo itu dan rambut teman saya rapi terawat…
Begini analisanya:
memang shampoo Sunsilk hijau ini diproduksi dengan sasaran perempuan berjilbab, namun esensinya adalah bagaimana sebuah shampoo dapat membuat rambut segar meskipun sehari-hari tertutup rapat oleh benda semacam jilbab. Oleh karena itu shampoo ini cocok bagi teman saya yang pengendara motor yang mengharuskannya untuk sering-sering memakai helm.
Mungkin sama halnya bagi penggemar topi. Memakai shampoo ini merupakan pemilihan yang tepat dimana rambut Anda akan tetap segar meskipun selalu mengenakan topi.
Karena waktu itu saya juga sedang hobi memakai topi, jadinya saya coba juga Sunsilk hijau itu. Memang saya rasakan rambut saya lebih enak dan nyaman ketika mengenakan topi maupun ketika melepaskannya… ada rasa-rasa segar gitu…
Akhirnya sampai sekarang saya masih menggunakan shampoo itu meskipun sudah jarang memakai topi lagi. Potongan rambut saya pun cenderung pendek. Namun yah, tak ada salahnya toh mencoba hal yang baik? Setidaknya teteh yang jadi model bungkus shampoonya lumayan cantik, jadi ada nilai plus yang lain yang bisa kita peroleh… hehehe
Iseng-Iseng Berhadiah…
November 11, 2007

Ng?
Apakah saat ini Anda sedang senggang?
Apakah saat ini Anda sedang butuh inspirasi??
Saya dapat trik mudah dari teman saya untuk mengisi waktu luang sekaligus mencari-cari inspirasi…
Pertama, kumpulkan kata-kata yang terkesan “inspiring”, kalau bisa yang bahasa Inggris (Indonesia juga tak masalah, sih) sebagai contoh:
-courage
-hope
-will
-adventure
-dll
Terus tinggal search deh di image search engine macam Google dan semacamnya.
Dan,
Anda akan (Insya Allah) mendapatkan gambar-gambar yang “inspiring”…
Silahkan coba
STALK!
November 5, 2007
STALK!
to STALK berarti to PURSUE STEALTHILY atau dalam bahasa Indonesia berarti menguntit, membuntuti; mengikuti secara diam-diam (sembunyi).
Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan kata di atas mengingat semakin maraknya kriminalitas di pelbagai pelosok dewasa ini. Barangkali kita pun pernah mengalami sendiri – baik sebagai pelaku maupun korban – perisistiwa yang lazim disebut sebagai penguntitan ini.
Yah, memang penguntitan IDENTIK dengan kriminalitas jika dilihat dari kacamata masyarakat umum. Menurut mereka, secara garis besar, penguntitan itu adalah perbuatan seorang maniak, menteror seseorang, membuntutinya sampai rumah, lalu melakukan hal seperti***, dan***, juga***.
Namun ada baiknya kita tinjau dari beberapa perspektif, sebagaimana tabel di bawah ini, mengenai contoh-contoh peristiwa penguntitan dan siapa saja yang terbiasa melakukannya.
|
PELAKU |
KORBAN |
TUJUAN |
|
· preman pasar |
· ibu-ibu kaya |
· mencari tahu rumah si korban agar bisa dirampok di kemudian hari · menunggu saat yang tepat untuk menjambret; atau memperk*sa; atau melakukan hal-hal lain yang dapat terpikirkan oleh si preman |
|
· polisi |
· buronan · bandit · dll |
· mengetahui markas besar para penjahat · mengumpulkan bukti kejahatan |
|
· maniak |
· siapa saja |
· menteror korban · memuaskan nafsu pribadi · melampiaskan dendam/ amarah · iseng-iseng berbahaya |
Yah, banyak profesi – entah itu legal, tak legal, baik, atau tak baik – yang menuntut seseorang untuk menguntit orang lainnya. Sebaliknya, banyak pula profesi yang mengharuskan seseorang untuk berkelit dari kuntitan orang lain. Agar Anda dapat sukses menguntit atau sukses tidak terkuntit, Anda harus memahami seluk-beluk penguntitan dan hal-hal yang terselubung di balik itu…
TRIK-TRIK MENGUNTIT
· Hilangkan hawa keberadaan (saya tidak begitu tahu gimana caranya, mungkin Anda bisa bertanya ke ahli tenaga dalam).
· Kenali korban, setiap orang memiliki naluri kewaspadaan yang berbeda-beda. Orang yang naluri kewaspadaannya kuat memiliki radius kewaspadaan yang luas.
· Berbaur dengan lingkungan, pahami teori kamuflase. Posisikan dirimu di luar jangkauan radius kewaspadaan korban. Optimalkan benda-benda sekitar untuk bersembunyi dan mengintai.
· Waspadai elemen sekeliling, kaca toko ataupun spion mobil dapat membongkar pengintaian Anda dalam sekejab.
· Selalu memposisikan diri pada sudut mati pandangan korban, jaga jarak secara konstan dan jangan terlalu jauh sehingga Anda dapat kehilangan jejak korban.
· Ubah persepsi tentang menguntit, menguntit tak selalu harus mengikuti dari belakang. Bisa saja kita mendahului korban, mengawasi dari depan, sehingga kemungkinan kehilangan jejak mengecil.
TRIK-TRIK AGAR TAK DIKUNTIT
· Tingkatkan kewaspadaan, asah naluri dan insting Anda agar dapat merasakan ‘nafas’ benda-benda sekeliling.
· Perluas sudut pandang, dengan sesekali menengok kanan-kiri sewaktu berjalan dan sesekali melirik ke belakang maka Anda sudah memperkecil sudut mati Anda.
· Latih fisik Anda! Ketika Anda yakin kalau ada seseorang yang sedang membuntuti Anda, maka cara terbaik mengatasi ini adalah dengan menghilangkan diri dari pandangan penguntit, bisa dengan berbaur ke keramaian, atau bergerak tiba-tiba (berlari) secepat mungkin menjauh dari jangkauan penguntit…
· Selanjutnya jangan ragu untuk melaporkan pada pihak yang berwenang^^
Setelah kita memahami seluk-beluk penguntitan, ada baiknya kita juga mengerti efek dari penguntitan. Yang paling menerima efek buruk tentu saja adalah korban (dalam kasus-kasus penguntitan umum). Selain memungkinkan korban untuk menderita trauma psikologis seperti rasa tak aman, susah tidur, sering mimpi buruk, dll, penguntitan juga bisa menyebabkan trauma fisik, khususnya bagi kasus penguntitan yang disertai kekerasan. Penguntitan juga bisanya terjadi secara kontinuitas, berulang-ulang. Oleh sebab itu bagi yang memang tidak memerlukan, JANGAN sekali-kali mencoba untuk menguntit orang, apalagi teman sendiri! Sebab, selian menguntit dapat menimbulkan adiksi, efek negatifnya jelas dapat merugikan orang yang dikuntit.
Kata mutiara hari ini:
“Semua orang mendambakan surga, tapi tak ada yang mau pergi ke sana saat ini juga.”
Terkadang Kita Perlu Menulis Nda Jelas Seperti Ini…
November 5, 2007
NDA JELAS IN Monday, October 29, 2007
AAAAAAAAAAAHH……
Bête itebe tepebe iteha be bête bête betetebe tepe tepe pokonya bête lah….
Baru nulis sebentar pake Word 2007 di computer asrama ini malah nge-hang. Mana itu auto correct-nya Word nyebelin banget, masa’ saya mau nulis komputer jadinya malah computer, saya maunya komputer, aseli bahasa Indonesia… kok jadinya malah computer?? Kan saya bukan orang Inggeris, mimpi ke sana aja belum pernah, dasar asal British, computer asrama sok Inggris banget, sih?? Iiiiiiiiih…bete bête I tebe tepebe bête tepehabe pokoknya bête lah, mana itu awal kalimatnya juga kena auto correct segala… padahal kan saya bukan mau belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar seperti pada umumnya guru-guru Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah berkata, berujar, bertutur, bercakap-cakap, bersilat lidah, silat bahasa, bermain kata, berkata main, main berkata, kata main ber…
AAAAAAAAAHHHH…..
Betetetetebebebebeb itebe bête tepebe masanya bête itebe bête tepe tepe betetepe merek pulpen
Duh sebel…. sambel… bebel… mana itu keyboardnya aneh. Masa’ nomor yang ada di bagian atas nda bisa dipake?? Kan lucu kalau saya mesti pake itu program yang namanya On-screen Key board… mau nulis tanda seru (!) aja sulit… SEBEEEL…
AAAAAAAAAAHHHH…..
Saya kan nda punya login AI3, jadinya nda bisa ngenet… padahal ada computer di depan mata, tapi nda bisa apa-apa selain nulis-nulis yang jelas nda jelasnya di computer Asrama yang tak memiliki speaker ini sehingga saya harus make earphone buat ngedengerin murattal mp3 Misyaari Rasyid di Windows Media Player bukan klasik mode…
Ng…?? Kok saya malah mengeluh gini? Padahal saya tidak mengeluarkan peluh, soalnya nda olahraga… ya ia lah!! Wong sedari tadi Cuma nulis-nulis nda jelas doing di computer berwarna hitam dengan tulisan Neo di pojok kanan monitor ini…. Eh, ngomong-ngomong saya pengin ngomong nih, ternyata saya baru tahu kalau Cuma itu ternyata nama hari, lho! Pantesan aja kalau nulis “Cuma” seperti ini pasti secara otomatis dibenerin (biarpun nda rusak) oleh auto correct Word yang nyebelin.
Karena tulisan terdahulu terpaksa hilang bersama ngehangnya computer ini, maka saya terpaksa kembali mengenalkan diri saya yang tidak terkenal ini, yang biarpun pengin terkenal tapi sebenarnya nda begitu suka orang-orang yang dikenal, dan tidak suka mengenal orang lain khususnya menghapalkan nama orang yang ditemui… pokoknya kenal nda kenal yang penting sekarang kenalan dulu, yak? Nama saya kata orang pasaran namun level pasarannya belum melampaui “Arif” atau “Ahmad”… Katanya sih nama saya itu asalnya nama orang jawa, sedangkan nama belakangnya dari sunda. Jadinya campuran deh gitu. Nama saya juga kalau disingkat jadi panggilan yang lucu, yang sebenarnya nda lucu juga namun terpaksa jadi lucu karena banyak orang yang suka manggil saya dengan nama itu. Saking jeleknya nama panggilan itu, makanya saat ini saya sedang mempropagandakan nama panggilan baru, nama yang didapat dari seorang teman, teman yang tidak memanggil saya dengan nama panggilan jelek itu, namun memberikan nama panggilan yang lain yang sama anehnya. Namun setidaknya, ditilik dari level kejelekan, nama panggilan ini cenderung lebih bermutu ketimbang nama panggilan yang berdasarkan penyingkatan nama aseli saya itu…
Yah… sudah panjang lebar begitu tapi akhirnya tidak sehuruf pun nama saya ketahuan. Jadi sebenarnya siapa saya??? Bagi yang mengetahui jawabannya tolong ketik dan kirim ke 5050 atau kirim ke alamat e-mail saya anepusing@yahoo.co.id. Adalah hal yang wajar jika terkadang kita tak mengenal siapa kita sebenarnya, mengapa? Yah, saya tak perlu menjawab pertanyaan ini karena memang tak perlu juga. Yee… ngapain capek-capek mikirin pertanyaan nda jelas begitu…??? Tak usah la ya.
Ngomong-beromong, kok saya menyebut menulis di Word sebagai ngomong, ya? Padahal saya kan menulis, dibilang menulis juga lebih tepatnya mengetik… wong saya nda megang alat tulis apapun kok. Jadi, marilah kita ubah ngomong-mgomong menjadi ngetik-ngetik… oalah, makin nda jelas juntrungannya tulisan… eh, ketikan ini. JUSTRU di ditu kehebatannya!! Kalau orang nulis tersturuktur dan rapi serta gampang dimengerti serta menggunakan bahasa yang baik itu sudah terlalu sering, jadinya untuk apa saya merendahkan diri menjadi orang pada umumnya, wong saya bukan umum kok… nama saya kan He… eh, gawat hampir kelepasan deh, bisa-bisa ketahuan nama aseli saya kalau begini. Namun setidaknya saya bisa bernapas lega… wong yang punya nama depannya “He” kan ada miliaran. Lagipula jenis kelamin saya belum ketahuan dan orang pastinya nda mau susah-susah mikirin siapa nama saya sebenarnya. Kalau ada yang mau repot-repot menganalisa, paling yang bisa dianalisa hanya kalau saya adalah orang Indonesia, dilihat dari bahasa yang digunakan… lalu saya itu nilai bahasanya pasti jelek dan saya adalah orang yang kurang kerjaan lagi otaknya perlu diperiksa kok bisa-bisanya sempet ngetik-ngetik yang ga jelas sambil nungguin waktu kuliah yang baru beberapa jam lagi dimulai padahal mata sudah mengantuk berat gara-gara begadang semalaman dan belum tidur…
Duh gimana ya??? Bagi yang nda tahu “gimana” itu apa saya beri tahu, bukan beri tempe, kalau “gimana” itu adalah singkatan dari “bagaimana” dan lazimnya dipergunakan oleh orang-orang yang tak menghargai kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, seperti saya, dan juga Anda?
Hahahahahahahahahahahaha…
Kenapa saya nulis “Hahahahahahahahahahahaha”? Soalnya “Hahahahahahahahahahahaha” itu artinya saya tertawa, sebab menangis adalah “Hhuhuhuuuuu…” atau yang paling populer versi anak-anak gaul “Hiks, hiks…” Dan meskipun banyak orang bijak yang bilang lebih baik banyak menangis daripada banyak tertawa, tapi saat ini saya benar-benar ladi mood-nya untuk tertawa, toh setelah membaca ulang tulisan ini saya merasa belajar di SD, SMP, SMA selama total 12 tahun kok tak bisa membuat saya lebih waras, ya? Yang salah itu pasti system pendidikan negeri ini yang tida bisa menghasilkan lulusan-lulusan sekolah yang waras… Marilah kita tertawa, untuk diri masing-masing
Tapi, by the way, nulis-nulis nda jelas juntrungannya ternyata enak,lho… apa aja yang sedang terbesik di hati, dan kepala langsung ditulis tanpa harus mikir lama-lama, tanpa harus mikirin diksi yang baik, biar tulisan jadi enak dibaca… tanpa harus nyantumin daftar pustaka, wong kita Cuma ngomong ngasal, kok…
AKU INGIN JADI KOMIKUS YANG JAHAT…
November 5, 2007
AKU INGIN JADI KOMIKUS YANG JAHAT…
Jika Anda melewati gerbang depan ITB di Jalan Ganesha, kadang-kadang Anda akan menyaksikan ada beberapa stand yang bertempat di sana. Biasanya stand-stand ini berfungsi sebagai tempat informasi kegiatan-kegiatan kampus oleh mahasiswa. Namun kadang-kadang mahasiswa FSRD juga sering membuat stand di sana, lebih seringnya untuk men-danus. Yang paling populer, sesuai dengan bidangnya, adalah dengan melayani pembuatan karikatur… Standardnya adalah sekitar 30 ribu- 50 ribu per karikatur, A4 berwarna atau grayscale.
Jadi kepikiran, saya sendiri sering mendapat order membuat komik… mulai dari untuk mengisi buletin sampai untuk kampanye calon ketua Himpunan Mahasiswa tertentu. Biasanya yang meminta order itu adalah teman-teman saya sendiri dan inilah sumber permasalahannya.
Karena teman, biasanya saya nda tega menolak membuatkan komik. Permasalahannya yakni sering kali orderan ini bersifat : gratisan. Biarpun membuat komik boleh dibilang bidang saya, namun ingin saya sampaikan bahwa membuat komik (yang baik) itu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Proses membuat komik sampai finishing (penintaan) pada umunya kira-kira sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
Mencakup:
-pencarian ide dan bagaimana ide itu disampaikan dalam bentuk visual,
-penentuan penokohan, siapa tokoh-tokoh yang akan muncul serta bagaimana ‘karakter’nya
-pembuatan story board, tata panel, agar panjang komik dapat disesuaikan dengan jatah halaman di buletin
Tahap ini pada dasarnya sangat penting dan kebanyakan komikus akan mandek berkarya jika misalnya “Belum dapat ide, nih…” atau “Ah… dipikir-pikir ceritanya garing juga! Mending nda usah, deh…”
2. Tahap sketsa
Mencakup:
-pembuatan sketsa (dengan pensil) di kertas disesuaikan dengan story board, diberi tambahan di sana-sini jika dirasa perlu…
-pengaturan dialog, panel, agar mudah ketika penintaan
-pemberian background secara garis besar…
3. Tahap Finishing
Mencakup:
-penintaan seluruh bagian komik,
-penyelesaian background, baik itu setting tempat maupun effect-backgrounds seperti speed lines, mood effects, dll.
-penghapusan sketsa jika menggunakan teknik langsung dan tidak menggunakan tracing.
4. Lain-lain
Jika menggunakan digital-editing, maka prosesnya bisa bertambah dan berkurang sesuai kebutuhan…
Namun terkadang teman-teman saya itu nda mengerti. Mereka pikir membuat komik itu ‘gampang’ dan tidak memerlukan waktu lama bagi seorang komikus… oleh karena itu terkadang mereka ‘tega’ memberikan deadline yang tidak manusiawi, hari ini diberi order dan besoknya harus selesai. Hmm… memang untuk membuat komik yang asal-asalan, beberapa menit juga cukup. Namun yang saya hadapi adalah teman saya sendiri dan tidak mungkin dong saya memberikan komik asal jadi kepada teman saya, selain tidak enak juga mencemarkan reputasi saya sendiri sebagai calon komikus. Oleh karena itu setiap ada order komik dari teman saya usahakan untuk membuatnya sebagus mungkin, setidaknya untuk standard kampus. Oleh karena itu saya paling benci kalau ada yang berkata, “Heru, tolong buat komik untuk bla-bla-bla, jelek juga nda apa-apa…”
Terkadang mereka (baca: klien) juga kelewatan dalam meminta komik. “Tolong buat komik 1 halaman agar orang jadi termotivasi membaca Al-Qur’an…” atau “Tolong buat komik 1 halaman agar orang mengerti tentang tarbiyah…” atau “Tolong buat komik untuk kampanye xxx, terserah berapa halaman, yang penting visi-misi dimengerti orang dan mereka jadi cenderung untuk mendukung…” Kemudian hal yang paling bikin saya sebel adalah jika sudah muncul statement “Karena bikin komik itu gampang buat kamu, jadinya besok pagi harus udah jadi ya? Soalnya buru-buru nih…”
Saya hanya mahasiswa biasa yang bisa membuat komik, mempunyai kesibukan-kesibukan kuliah dan organisasi serta agenda-agenda pribadi. Ketika saya memasukkan agenda lain (proyek komik, misal), tentu saja sebagai mahasiswa normal saya ingin agar hal ini tidak menggangu perkuliahan. Namun yang pernah terjadi adalah saya harus menunda pekerjaan kuliah demi pembuatan komik meskipun deadline-nya sama.
Memang, dari dulu pun komik disebut sebagai seni rendah, namun apa iya apresiasi (baca: fee) juga harus rendah?? Kalau gambar karikatur 1 halaman A4 yang bisa dikerjakan dalam 30 menit saja setidaknya bisa menghasilkan 50 ribu, maka komik 1 halaman A4 dengan lebih dari 9 panel yang harus dikerjakan semalaman untuk mendapat imbalan 10 ribu pun susah…
Memang saya belum profesional dan proyek saya baru proyek kecil-kecilan, tapi kenapa susah sekali bisa dapat sekedar ‘uang jajan’ dari hal ini. Saya sendiri memang tidak menetapkan tarif, apa memang ini salah ya? Walaupun komik cuma hiburan namun tak bisakah komik menjadi ‘penghibur’ bagi sang komikus sendiri.
Membuat komik dari hati pasti akan sampai ke hati, namun apakah kita mampu membuat orang ceria dengan komik sementara kita sendiri sedang sedih??
…
Karena itulah sering terbesik dalam pikiran, “Aku ingin jadi komikus jahat”
Jika ada yang ‘memesan’ komik maka saya langsung memberikan daftar:
Komik per halaman A4:
- pensil saja 10 ribu, tinta hitam-putih 20 ribu; berwana teknik manual 40 ribu; berwarna digital-editing 100 ribu;
- cerita biasa 20 ribu, cerita menarik 50 ribu; teknik berwarna tambah harga;
- gambar gaya simple-manga 20 ribu, gambar gaya super-realist 50 ribu, gambar asal-asalan 5 ribu; teknik warna tambah harga;
- harga bisa naik tergantung mood dan kesibukan komikus…
- DP setengah harga total, puas nda puas dengan hasil komik DP tidak kembali…
- hak cipta ada pada komikus, royalty bisa diatur, namun tanggung jawab isi komik ada pada klien…
- ada uang komik jalan, tidak ada uang … cari komikus lain sana!!
Namun hal ini hanya ada di kepala saya, tak pernah bisa saya realisasikan… nda tega juga rasanya.
Lagipula sebenarnya tidak ada istilah “komikus jahat”, hal-hal di atas hanya merepresentasikan komikus profesional. Namun bagi saya jika bersikap profesional dikit saja kok rasanya jadi seperti orang jahat, ya… Sekalipun ada komikus jahat, paling (menurut saya) komikus-komikus yang membuat komik yang merusak moral, layaknya film biru, dan semacamnya. Dan rasanya, saya tidak ingin jadi komikus seperti ini…
…bersambung?


