“Kepuasan Terbesar Bagi Seorang Komikus…”

Sekilas terbayang saat-saat pertama saya membuat komik. SMA kelas 2, seorang teman sekelas saya mengenalkan saya tentang dunia komikus. Beliau adalah orang yang saya hormati sampai sekarang dan menginspirasi saya untuk menjadi seorang komikus juga. Melihatnya membuat komik, saya jadi tertarik untuk ikut-ikutan, “Sebenarnya bagaimana sih rasanya membuat komik…”

Sepertinya teman saya ini sudah terbiasa membuat komik, sejak SMP sudah berkarya. Maka tidak sulit baginya untuk membuat suatu tema untuk komik dan mengembangkan ceritanya. Sedangkan bagi saya yang masih amat pemula tentu saja bingung ingin membuat komik seperti apa. Karena saya senang membaca komik-komik petualangan fantasi dan senang pula memainkan game-game rpg, maka saya juga ingin membuat komik seperti itu. Namun cerita yang saya buat rasanya garing dan biasa. Oleh karena itu saya merasa harus mencari tema yang menarik.

Entah dari mana ilhamnya, akhirnya saya memutuskan untuk membuat komik cerita fantasi dengan tokoh-tokohnya adalah teman-teman sekelas sendiri. Kemudian dimulailah pembuatan komik sederhana dengan kualitas gambar yang seadanya (baca: jelek) dengan hanya memakai pensil saja di lembar-lembar A4. Inti cerita komik itu adalah pertarungan dengan genre humor dari tokoh-tokoh yang ajaib:

  • ada raja culun namun sangat kuat
  • ada penyihir super sakti yang jadi pemimpin pemberontak
  • ada agamawati yang sangat pintar da menguasai white magic
  • ada tukang pos super yang bisa terbang seperti superman
  • ada petani fungky yang irrasionably strong
  • ada manusia hewan yang menjaga hutan (ini tokoh saya^^)
  • ada pemusik yang menguasai ilmu-ilmu tendangan seperti Sanji
  • ada summoner yang menyegel bermacam monster langka dalam tube-nya
  • ada valkyrie utusan langit yang mengendarai kecoak raksasa yang selalu gagal menertibkan negeri semrawut itu
  • dan banyak lagi karakter-karekter lainnya yang lucu-lucu, unik dan menarik (total 48 karakter sesuai jumlah murid di kelas)

Di luar dugaan ternyata komik saya ini cukup laris di kelas dalam arti banyak yang membacanya. Setiap hari bahkan ada teman yang selalu menanyakan “Mana halaman barunya?” Akhirnya dalam dua semester di kelas 2, saya berhasil merampungkan 2 seri komik fantasi.

  • Final Fiesta

Fiesta terakhir… hehehe, nama kelas kami 2.3 adalah Fiesta dan merupakan kelas 2.3 terakhir sebelum berganti nama menjadi XI.3, jadinya cocok, deh^^

Komik ini menceritakan tentang pemberontakan di negeri Fiesta dan perang antara Rebellion Force melawan Raja yang (ceritanya) lalim.

  • Tales of Fiesternia

Kisah penduduk Fiesta… merupakan cerita petualangan rakyat Fiesta untuk menyelamatkan gadis-gadis cantik Fiesta yang diculik Ratu Iblis

 

Saat itu saya menyadari, ternyata melihat orang-orang tersenyum membaca komik saya terasa begitu membahagiakan bagi saya. Saya rasakan kesulitan dan kelelahan untuk membuat gambar kemudian menatanya dalam panel hilang dalam sekejab dan tergantikan dengan senyum dan tawa tulus dari orang-orang yang membaca komik saya. Bahkan teman saya yang juga komikus itu pun memuji komik saya meskipun gambarnya jauh lebih bagus daripada gambar saya.

Oleh karena itu sempat terlintas di pikiran saya saat itu kalau saya ingin menjadi seorang komikus saja. Namun karena gambar saya masih jelek dan masih bersekolah, saya punya kewajiban untuk menuntaskan sekolah dulu dengan serius (meskipun pada akhirnya saya menghabiskan hari-hari saya dengan membuat komik)

Saat ini saya merenungkan,

Kepuasan terbesar seorang komikus adalah ketika komiknya dapat membuat orang yang membacanya puas. Komikus bertugas menghibur hati orang. Masa-masa SMA dulu, tidak sulit untuk merasakan hal ini mengingat konsumen saya adalah teman-teman saya sendiri.

Namun, ketika kelak nanti saya sudah menjadi seorang komikus profesonal yang karyanya diterbitkan dan memiliki pembaca di mana-mana. Akankah saya dapat meilhat wajah-wajah bahagia itu lagi dengan mudahnya? Ataukah saya akan tenggelam ke jurang ketamakan dan hanya memikirkan uang saja?

kata mutiara hari ini:

“Sepandai-pandainya tupai melompat kalau dia capek pasti akan jalan juga”

Terinspirasi oleh…

October 11, 2007

Bismilah0




Waktu kecil dulu…
jamannya belum populer
acara-acara lawak nda jelas seperti sekarang,
Ramadhan di TV masih terasa nuansa spiritualnya.

 Selain ada tayangan siaran langsung sholat tarawih dari Arab (yang bacaan tiap malem katanya 1jz), ada juga acara yang monoton tapi bagi saya mengasikkan, yaitu acara pembacaan Al-Qur’an oleh ustadz-ustadz dengan irama tartil…

Tampak di layar TV, mushaf Al-Qur’an yang ditunjuk dengan lidi ayat per ayat bersamaan dengan dibacakannya ayat-ayat tersebut dengan OK oleh para ustadz tadi. Ustadz satu membacakan beberapa halaman, kemudian ustadz lainnya membacakan lanjutannya, bergantian. Memang terkesan acara yang tidak terlalu menarik, tapi bagi saya yang saat itu lagi
hot-hotnya belajar Iqra’, beliau-beliau itu tampak ‘Luar Biasa’. Saat itu benak saya dipenuhi pemikiran,”Kapan saya bisa membaca Al-Qur’an sebagus itu, yah…?”

 

Hehehe… memang saat itu, pemikiran semacam itu hanyalah angan-angan sesaat.

Namun saat ini, saya merasa begitu dekat dengan impian itu…

 

ü  Saya sudah ikut tahsin…

ü  Saya tinggal  … dan memiliki banyak kenalan orang-orang hebat…

ü  Saya pun kadang-kadang kebagian giliran untuk jadi imam sholat di Masjid Salman…

ü  Saya punya banyak murattal dari syaikh-syaikh terkenal yng merdu-merdu…

 

Akankah saya mampu mengubah angan-angan masa lalu menjadi kenyataan masa kini?

 

Wallahu a’lamu bishshowab…

Hei..hei…

Ini bukan tulisan yang penting, kok.
Jadi, rugi deh Anda buang-buang waktu buat baca ini tulisan, OK?

Lho, kok masih diterusin???

Mendingan langsung kembali aja ke halaman sebelumnya daripada Anda capek sendiri… ya,ndak?

exit

Tapi kalau Anda memang kepingin baca, ya saya ndak bisa ngelarang…
Toh, itu hak asasi Anda.

Jadi, kembali ke topik utama yaitu kriteria istri yang saya cari.
Ada beberapa hal mendasar yang saya inginkan dari seseorang yang akan menjadi istri saya. Antara lain:

1. Perempuan
Ya iyalah…! Saya kan manusia normal. Saya tak mau sama sekali menikahi laki-laki biar secantik dan seluar biasa apapun dia.

2. Muslimah
Hmm.. yang ini standard lah. Semua muslim laki-laki (yang normal) pasti kepingin pendamping hidupnya muslim juga. Lagipula gawat kalau seandainya muslim laki-laki justru mencari istri non-muslim,  kasihan atuh muslimah-muslimah yang menanti di waiting list… Bukankah perbandingan laki-laki dan perempuan itu 1:3?? Singkatnya jika ada lelaki muslim yang menikah dengan perempuan non-muslim, kira-kira bakalan ada 3 muslimah yang ter-Dzolimi, ya nda?? Hehehe…

3. Sholihah
Kalau yang ini kriteria yang lumayan krusial. Gimana, nda? Bukankah perempuan merupakan tiang negara? Jadai kalau kepingin punya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, wa rabbun ghofur..ya mau nda mau harus punya ibu rumah tangga (baca: istri) yang memenuhi kriteria-kriteria perempuan sholih sepert… ya,Anda tahu sendiri lah kira-kira begimana…^^

4. Menyejukkan Pandangan
Yah, untuk kriteria ini sebenarnya demi kepentingan estetika. Coba bayangkan seandainya seseorang yang menjadi pendamping kehidupan kita justru tidak sedap dipandang?? Bisa-bisa setiap hari kita stress karena hidup dipenuhi energi-energi negatif dari pendamping kita sendiri…

5. Berakhlaqul Karimah
Yup, inilah yang bakal menjadi brand keluarga Anda nantinya. Istri yang berakhlaq mulia merepresentasikan keluarga yang mulia pula…hehehe

Begitulah kiranya… secara umum kriteria yang saya cari.
Namun seperti yang sering saya tulis sebelumnya, kembali berlaku “Prinsip Pertukaran Setara”. Yaitu: untuk mendapatkan sesuatu yang besar, diperlukan pengorbanan yang besar pula. Jadi jika ingin mendapatkan istri dengan kriteria idaman, terbayang pengorbanan yang dibutuhkan seperti apa, bukan…