Hitam Putih

April 5, 2008

Sekilas Tentang Hitam Putih

Apakah mempunyai musuh dan teman merupakan keniscayaan bagi setiap manusia?
Apakah ada manusia yang tidak memiliki musuh sama sekali?
Sebaliknya adakah manusia yang tidak memiliki teman seorang pun?

Jika kita membagi dunia ke dalam 2 warna: hitam dan putih, maka mungkin warna hitam adalah representasi dari sisi gelap manusia dan warna putih sebaliknya mencerminkan bagian terang benderang.

Namun dalam teori warna sendiri, hitam dan putih tidak digolongkan sebagai warna, melainkan value. Tentu saja value ini sendiri tidak hanya terbagi dalam satu hitam dan satu putih saja namun terdiri dari sekian banyak gradasi dari hitam ke putih. Inilah yang disebut sebagai abu-abu.

Dikaitkan kembali ke realita sosial, masih adakah hitam yang benar-benar hitam dan putih yang benar-benar putih? Ataukah kedua titik puncak value ini sudah tak ada sehingga di dunia ini hanya terdapat value abu-abu? Semakin abu-abu ini dekat dengan hitam, semakin banyaklah “isi” hitam dalam abu-abu ini, demikian pula sebaliknya. Namun kita harus mengetahui, abu-abu yang paling dekat dengan hitam pun di dalamnya masih ada putih sedangkan putih yang tercampur dengan hitam setetes kecil saja akan menjadi abu-abu.

Sungguh repot sekali orang-orang yang hanya membagi dunia menjadi dua hal: hitam-putih, jahat-baik, musuh-teman, benar-salah. Seandainya jika suatu saat mereka menyadari diri mereka bukan hitam tapi tidak putih, maka harus berada pada golongan yang mana?

Warna dan Identitas

Setiap manusia memiliki warna masing-masing sebagai identitas. Bilang saja seperti ini: si A itu merah, si B itu sangat coklat, namun si D adalah hijau dan ungu. Tak ada batasan berapa jumlah maksimal warna yang dapat digunakan sebagai identitas. Hanya saja semakin sedikit jumlah warna yang dijadikan seseorang sebagai identitas maka semakin ber”karakter”lah orang itu.  Sebaliknya orang yang punya terlalu banyak warna cenderung tak berkarakter.

Dengan warna-warna sebagai dasar identitas, pembentukan karakter ditentukan oleh bagaimana warna-warna itu diolah, dikomposisikan. Ada orang yang menggunakan pola monokromatik sebagai warna dirinya sementara ada orang lain yang mementingkan efek kontras yang tegas. Ada juga yang cenderung lebih nyaman dengan perpaduan warna yang harmonis.

Namun bagaimana pun formula warna identitas seseorang, tak akan bisa lepas dari pengaruh value. Valuelah yang membuat warna menjadi warna. Identitas diri yang gelap, suram, namun  terkesan ekslusif, mungkin didominasi oleh value hitam. Sebaliknya value putih memberi efek terang, lembut, pucat, dan sebagainya. Oleh karena itu mengenal seseorang, berteman dengan seseorang, berarti kita harus menerima semua warnanya beserta value yang menyertainya sebagaimana orang itu harus melakukan hal yang sama kepada kita. Mengenal warna diri sendiri serta mengetahui warna orang lain menjadi sesuatu yang prinsipil dalam hidup ini, yakni: pencarian jati diri.

Hitam Putih Sosialisasi

Proses sosialisasi dalam hidup ini adalah proses mewarnai dan terwarnakan. Pengaruh darri lingkungan mulai dari keluarga sampai masyarakat bisa mewarnai kita, dengan kata lain memberi identitas. Untuk kebalikannya, rasanya diperlukan usaha yang lebih ketika kita ingin memberi warna pada lingkungan, memberikan identitas kita pada lingkungan.

Pada akhirnya hitam atau putih lah yang menjadi puncak pencapaian jati diri. Keduanya merupakan sesuatu yang absolut. Mereka merupakan simbol kekosongan sekaligus isi. Hitam dan putih adalah kondisi ideal di mana semua warna menjadi satu atau semua warna kehilangan warnanya. Maka apakah tujuan kita? Mecapai putih yang absolut? Ataukah hitam murni yang menjadi akhir dari perjalan warna kehidupan kita?

—————————————————————————————————————————————-
terinspirasi oleh perkataan Reid Hershell dalam RPG PS 1 dalam “Tales of Destiny 2″

Kisah ini berawal dari kesalahan fatal saya dalam mengelola keuangan pribadi. Kira-kira seminggu yang lalu, uang di dompet saya belanjakan beberapa komik. Memang sisa beberapa ribu, namun saya tak menyadari saat itu jikalau ‘beberapa ribu’ tidaklah cukup untuk biaya hidup beberapa hari.

Hari Minggu kemarin, tepatnya sore hari, uang di dompet tersisa sekitar 5000-an. Stok kas di ATM udah habis, dan ibu saya baru bisa mengirim uang sekitar hari Selasa berikutnya. Bingunglah saya bagaimana bisa dengan uang segitu, bisa survive sampai hari Selasa. Karena sekarang saya tinggal di kosan yang nda ada perabot apa pun, tentunya tidak bisa happy-happy ngirit masak mie instant seperti ketika di asrama dulu. Terpaksalah saya membeli makanan termurah yang bisa saya dapat di sekitar kosan, dan pilihan pun pada akhirnya jatuh pada mie goreng seharga 2500. Saya beli double, satu dimakan malam hari dan satu lagi buat sahur. Yup, barangkali saya harus berpuasa sunnah….

Hari Senin, GYAAAAAAA…..!!!!! Uang di dompet benar-benar habis, untungnya masih ada recehan seratus, dua ratus, yang bertebaran di sekitar kamar saya, di tas, dan di berbagai tempat. Setelah dikumpulkan, akhirnya cukup untuk membeli 2 roti 1000-an untuk mengganjal perut. Alhamdulillah, saya sempat minjam uang buat makan di kantin Gelap Nyawang*. Malamnya pun, saya beruntung ditraktir makan oleh teman satu studio saya, sebut saja Danuh 21 tahun.

Hari Selasa, hari yang dijanjikan, namun sampai sore uang belum juga ditransper lewat ATM. Saya menjalani perkuliahan hanya dengan berbekal sarapan  1 roti 1000-an, dibeli dengan uang terakhir saya. Menjelang siang, lapar pun kembali menyerang. Rasanya ingin ngutang lagi ke teman, tapi malu juga soalnya kalau hutang melulu. Lagipula saya cukup pendiam, sehingga hampir tak ada orang yang tahu permasalahan kanker kronis saya. Untungnya ketika Genardi, teman satu studio saya juga, mengajak saya ke kantin Arsitektur saya sempat menolak dengan beralasan tidak punya uang, beliau pun menjawab,”Gua yang bayarin, deh…” Mendengar kata-kata ‘ajaib’ itu, saya pun tak bisa menolak.

Hari mulai malam, energi dari nasi putih dan ayam goreng porsi mini yang saya makan siang hari sudah habis. Setelah acara mingguan KISR bersama TPB FSRD 2007, kami kembali ke studio. Kami cukup terkejut ketika gedung SR sudah gelap gulita tergembok dan hilang peradaban. Mungkin mahasiswa yang meramaikan gedung ini semuanya pergi ke Jakarta untuk menghadiri pameran seorang mahasiswa SR juga. Mungkin ini sebabnya, petugas menggembok gerbang SR lebih awal dari biasanya, toh di SR tak ada orang… kemudian kami pun pergi dulu ke tempat makan depan gerbang SR, ada Zul, Arif, saya, dan Danuh. Rencananya saya dan Danuh akan kembali ke studio setelah selesai makan, sebab biarpun gerbang SR dikunci ada kemungkinan pintu studio sendiri belum dikunci… meskipun kemungkinan ini kecil mengingat SR sudah gelap gulita. Entah kenapa saat itu saya memutuskan untuk tidak makan, padahal ada teman saya yang menawari untuk membayarkan. Hati kecil saya sebenarnya ingin sekali menerima tawaran itu, perut pun sudah sangat keroncongan, namun ego berargumen “Malu rasanya kalau dibayarin terus”. Acara makan selesai, dua teman saya pulang sedangkan saya dan Danuh kembali ke studio. Ternyata betul dugaan kami, studio pun sudah terkunci. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang juga, meskipun si Danuh cukup kesal mengingat tas dan sepatunya masih ada di dalam studio.

Perut tetap kelaparan, kami pun pulang ke arah Cisitu. Danuh yang bayar semua ongkos saya... duh, dibayarin terus… Karena Danuh tahu saya belum makan dari tadi, dia pun mengajak saya ke rumahnya. Kali ini saya pun tidak menolak dan akhirnya saya pun menikmati nasi putih dengan lauk baso, serta kerupuk emping yang lezat…

Memang, saat ini saya sudah tidak kelaparan lagi. Ibu saya mentransfer sejumlah uang, Rabu sore kemarin. Namun saya pun menyadari satu hal ketika teman-teman saya berkali-kali mentraktir saya: Betapa nikmatnya bisa makan ketika kita memang lapar! Selama ini memang saya kurang bersyukur, tak bisa mengelola uang dengan baik.

“Makanan yang paling nikmat sedunia bukanlah makanan yang paling mahal serta makanan yang dibeli di kafe atau Rumah Makan ternama. Makanan yang paling nikmat adalah makanan yang kita makan ketika kita benar-benar lapar…”

8 Hal Mengenai Saya…

March 14, 2008

You have got tagged
—————————————————————————————————————————————-

Berawal dari sini==> http://atarashiikaoru.multiply.com/journal/item/15/Youve_got_tagged
Sebenarnya saya nda begitu hobi tentang hal-hal seperti ini, tapi apa boleh buat…hehehe. Saya didaulat oleh ‘kera sakti’ (baca: kaka pertama) dari Shinpo Family untuk menuliskan, yah… bisa Anda lihat di judul posting saya. Namun saya pikir lagi tak ada salahnya juga toh hitung-hitung sebagai sarana untuk saling mengenal… ya..ya.. Oleh karena itu saya coba saja. Mari kita mulai. (^o^)

  1. Orang yang melupakan tanggal lahirnya sendiri
  2. Menyukai 3 hal khusus
  3. Penggemar jaket
  4. Pengguna sandal sejati
  5. Pejalan kaki yang handal
  6. Senang kesendirian, namun lebih menyukai kebersamaan
  7. Pemikir yang nda jago mikir dan ceroboh
  8. Pengejar impian

Okeh, kalau Anda nda keberatan izinkan saya merinci hal-hal itu…

1. Orang yang melupakan tanggal lahirnya sendiri
Mungkin ini terdengar mengerikan, tapi saat ini saya memerankan diri orang lain yang lebih tua beberapa minggu dari saya. (JREENG!!). Hal lengkapnya mungkin bisa dilihat di posting saya beberapa waktu yang lalu…

2. Menyukai 3 hal khusus
Urutannya bisa berubah tergantung kondisi hati, tapi kira-kira tiga hal itu adalah: komik, RPG, dan murattal. Saya senang sekali membaca komik action-adventure dan senang pula membuatnya. Untuk menambah wawasan saya, bermain RPG di PS dan PS2 cukup bagus untuk referensi. Kemudian, saya lumayan senang juga mendengarkan murattal sembari bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari. Favorit saya adalah Misyaari Rasyid, lalu Mathrud, Al Kanderi, dll. Bagi yang belum familiar dengan istilah murattal, kira-kira murattal adalah pembacaan Quran secara tartil. Banyak dijual dalam bentuk mp3 dan cukup baik untuk mengisi hari-hari Anda yang monoton, hitung-hitung menambah hapalan Quran juga.

3. Penggemar jaket
Yak, koleksi jaket saya cukup banyak (meskipun yang sering dipakai cuma satu atau dua), mulai dari jaket almamater ITB tercinta, jaket Majelis Ta’lim, sampai jaket ILUSI. Tapi beberapa jaket saya rusak gara-gara terkena cat minyak…hiks

4. Pengguna sandal sejati
Yeah!! Hidup sandal!! Sebagai mahasiswa mungkin ini tak bisa dijadikan teladan, tapi toh saya mahasiswa Seni Rupa, jadi hal ini bisa ditoleransi. Satu-satunya alas kaki saya (ini serius) adalah sandal jepit swallow warna biru. Benda pusaka ini saya pakai setiap hari, baik itu untuk keperluan kuliah ataupun pergi ke berbagai tempat. Namun, ada beberapa dosen yang tak menghendaki mahasiswa mereka memakai sandal di kelas, oleh karena itu untuk menyiasatinya saya menyimpan sepatu saya (pinjam dari teman-red) di studio lukis di kampus. Jadi jika ada perkuliahan yang mengharuskan terfungsikannya sepatu, saya ke studio dulu untuk menganti alas kaki, setelah itu kembali sandal jepit berjaya…

5. Pejalan kaki yang handal
Entah bisa disebut handal atau tidak, namun saya cukup sering berjalan kaki. Mungkin karena malas naik angkot, atau memang jarang punya uang buat bayar angkot, tapi saya jamin deh banyak berjalan kaki lumayan menyehatkan, lho. Kalau sedang senggang, saya juga kadang-kadang berjalan kaki tanpa arah berkeliling kota Bandung… sembari melihat-lihat pemandangan kota yang asik.

6. Senang kesendirian, namun lebih menyukai kebersamaan
Pada dasarnya saya cukup pendiam dan cukup menikmati kesendirian saya dengan melamun, membaca buku, atau main RPG. Namun saya juga senang berkumpul dengan orang-orang yang saya anggap sebagai teman saya.

7. Pemikir yang nda jago mikir dan ceroboh
Yak, ini cukup aneh. Meskipun pada dasarnya saya tipe orang yang sistematis, tapi saya tak memanfaatkan hal itu dengan maksimal. Justru seringkali saya mengerjakan bermacam hal secara intuitif… Hal ini dapat dilihat dari tidak jelasnya hubungan antara posting saya satu dengan lainnya. Hmm… begitulah… Saya juga terkadang ceroboh, sering menaruh dompet dan HP sembarangan, pernah dua kali kehilangan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)

8. Pengejar impian
Untuk hal yang ini mah saya mohon doa restu aja dari teman-teman semua (^o^). Banyak hal yang menjadi impian saya, mulai dari keinginan untuk menjadi komikus, hasrat untuk memiliki studio komik sendiri, impian untuk menjadi penghapal Quran, cita-cita untuk menjadi orang yang besar, serta harapan untuk menikah kelak, hehehe…

Waduh… akhirnya beres juga. Hmm, jadi saya harus memilih 8 orang berikutnya untuk diberi tugas serupa? Saya orangnya nda tegaan, jadinya nda usah aja ya… hehehe

Well, what should I say? That’s the truth anyway. Even if I kinda like red colour but not this red.

Yah, kehidupan memang ibarat roda. Kadang ada di atas, kadang ada di bawah. Kadang bisa copot (!), sehingga kita harus mengganti “kehidupan” baru.

Begitulah, tampaknya semester kemarin merupakan semester terburuk dalam kehidupan saya bukan hanya dari sisi akademik saja, melainkan dari berbagai aspek kehidupan secara keseluruhan.

Mari kita jabarkan satu per satu apa saja itu, hmm…

Pertama adalah Akademik,
Tiga mata kuliah hancur, euy. Ada mata kuliah yang dapat D, yakni Estetika II. Duh, ini benar-benar memalukan. Soalnya mata kuliah ini sebenarnya mata kuliah tingkat 4, dengan kata lain saya mengambil ke atas, tapi… hehehe… begini nih gara-gara sok pintar. Dan alasan dapat D-nya pun benar-benar, hmm… gimana ya bilangnya? Begini, gara-gara keseringan begadang, eh waktu UAS saya malah ketiduran di asrama. Tidak ikut UAS gara-gara tertidur, hmm… ini hal paling memalukan bagi mahasiswa ITB.
Ada dua mata kuliah yang dapat E. Yang satunya kuliah Seni Monumental. Yang ini mah karena saya sering bolos dan tidak mengumpulkan tugas. Mata kuliah kedua yang juga dapat E, dan ini benar-benar menjatuhkan harga diri saya sebagai (calon) komikus adalah kuliah “Komik”. Alasannya sama, tidak mengumpulkan tugas. Dikasih”T” sama dosennya lalu jadi “E”.
Walah, walah… ada apa gerangan saya yang katanya suka membuat komik ini justru mendapat nilai parah pada kuliah komik sendiri? Padahal katanya pria bernama Heru ini punya riwayat akademik yang ngga jelek-jelek amat dan dikenal –gosipnya– lumayan pintar.

Kedua, Proyekan yang terbengkalai…
Ceritanya karena kekurangan uang untuk membeli cat minyak, rencananya sih pengin saya mencoba cat minyak dengan kualitas yang bagusan dari pada Marie’s yakni Winton, oleh karena itu saya menerima proyekan membantu teman dengan membuat ilustrasi untuk buku klub ilmiah sebanyaka lebih kurang 120 halaman seharga Rp 350 000,- Namun ternyata proyekan tak terselesaikan, kuliah pun berantakan.

Ketiga, keorganisasian yang juga tebengkalai…
Saya ikut unit PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) yang agenda rutinnya adalah mentoring setiap Ahad (hari minggu) dan lain-lain. Namun semester kemarin, saya hampir tak pernah ikut mentoring sama sekali. Ini benar-benar pengkhianatan terhadap amanah, hiks dosa saya. Alasannya pun karena keseringan begadang, saat hari Minggu pagi saya benar-benar mengantuk. Saya pun merasa sangat bersalah pada tim media PAS yang beranggotakan saya. Saya terlalu sering kabur dari tugas-tugas tim media, karena beribu alasan. Imbasnya semester ini saya tidak terdaftar sebagai anggota aktif, apakah dikeluarkan? Duh, sayang sekali jika dikeluarkan dari organisasi yang menarik dan menyenangkan ini. Tapi secara logis, mereka pastinya tidak membutuhkan anggota yang lemah komitmen seperti saya…

Keempat, Asrama Salman…
Yayaya, inilah akibat IP saya semester terakhir di bawah 2.76, saya (istilahnya) tereliminasi dari asrama. Yang sangat disesalkan adalah Asrama Salman adalah tempat yang kondusif untuk membenahi diri karena hidup bersama orang-orang yang dekat dengan Quran, pandai dan aktif dalam dakwah kampus. Posisi Asrama Salman punsangat strategis, selain terletak pada komplek Masjid, juga berada langsung di depan kampus ITB. Dengan kata lain dekat dan ekonomis, termasuk bermacam fasilitas yang gratis.
Saat ini saya pun terpaksa mencari kosan baru….dan kehilangan segala kelebihan yang bisa diperoleh dari tempat kondusif itu.

Kelima, kesialan…
Yah…ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Ketika saya sedang menghibur diri lantaran stress dengan bermain PS2 di rental…eh, dompet saya malah hilang. Raib bersama KTM, ATM, sejumlah uang saya dan uang orang lain, beberapa benda memori yang tersimpan rapi dalam dompet, serta beberapa kupon martabak….

Dari awal sebenarnya saya tahu permasalahan terbesar saya, yakni KEMALASAN. Yak, saya ingatkan bagi yang berbaik hati menyempatkan diri membaca posting keluhan ini. Kemalasan itu membalikkan peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”. Pada awalnya memang menyenangkan, tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban kita, tetapi ketika saatnya diminta pertanggung jawaban tiba, celakalah!! Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi saya dan bagi yang sempat membaca posting ini.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS 103:1-3)


Yeah, I’m game over now.
No..no..no, not that I give up right away, I mean the time to play arround is over. It’s the time to be serious.

HERU SETIAWAN
17005038
METODOLOGI PENELITIAN SENI

 

Kajian Action Manga

Analisa Teknik Penggambaran Adegan Action

BAB 1

Pendahuluan

1.1   Latar Belakang

Daya tarik dari Action Manga adalah ketegangan yang dihadirkan dengan adegan-adegan action yang seru. Meskipun hanya berupa kumpulan gambar diam, manga-manga tipe ini mampu memproduksi adegan-adegan action dengan kualitas komunikasi visual yang tidak kalah dibandingkan dengan kualitas komunikasi visual yang ditampilkan oleh action movies asal Hollywood maupun Hongkong.  Oleh karena itu, Action Manga yang baik harus mampu untuk setidaknya mencapai kualitas komunikasi visual yang sama/ lebih baik daripada movie itu sendiri. Untuk itulah, untuk membuat ketegangan terasa hidup diperlukan skill yang baik dari Mangaka-nya sendiri.

 

Ada dua jenis action Manga ditinjau dari setting komiknya, yaitu tipe fantasy dan tipe real-life. Pada tipe pertama, komik berlatarkan dunia khayal (karangan mangaka) dengan tokoh-tokoh yang mampu melakukan hal-hal yang luar biasa. Adapun tipe kedua sebaliknya, mengambil setting kehidupan nyata dengan tokoh yang entah itu bisa melakukan hal luar biasa atau tidak, namun tetap tampak luar biasa. Bersetting dunia ajaib ataupun kehidupan sehari-hari, tetap saja kemampuan mangaka untuk menjadi sutradara sekaligus kameraman, koreografer, penata adegan, dan semacamnya, sangat diperlukan. Oleh sebab itu rasanya tidak ada ruginya setiap mangaka memahami teori dan hal-hal yang mendukung itu. Tidak ada salahnya pula untuk meneliti teknik dan gaya penggambaran dari mangaka-mangaka lain sebagai referensi.

 

Penulis merasa hal ini layak untuk diangkat ke dalam suatu penelitian khusus mengingat saat ini di Indonesia sendiri sedang bermunculan satu demi satu komikus muda. Sebagian besar komikus-komikus muda ini, sesuai dengan semangat muda, pada umumnya mengangkat genre: action-adventure. Selanjutnya, menarik atau tidaknya komik-komik jenis ini, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, tentu saja tergantung se-canggih apa komikus itu bermain dalam menata dan menyusun ketegangan ke dalam panel-panel sekuensial. Oleh karena itu tepat jika penulis mengajak kita semua untuk menganalisa bagaimana sebenarnya mangaka-mangaka itu meramu ketegangan ke dalam adegan-adegan pertarungan yang seru di dalam sebuah Action Manga.

 

1.2   Rumusan Masalah

 

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah tentang  bagaimana mangaka-mangaka menggarap adegan-adegan action, fighting, battle, dalam suatu Action Manga sehingga menjadi suatu kualitas visual yang baik

1.3   Batasan Masalah

 Dalam penelitian ini penulis membatasi kajian komik-komik action melalui Action Manga asal Jepang. Alasannya adalah sebagai berikut, yaitu:

  • Di negara ini manga sudah menjadi industri sendiri dan dalam industri manga ini genre action menempati urutan teratas dalam konsumsi masyarakat Jepang
  • Manga cenderung lebih simple daripada komik-komik Amerika, Hongkong, Cina, serta yang lainnnya, sehingga memudahkan penulis untuk menganalisa unsure-unsur visualnya
  • Kekuatan visual manga terletak dari “cara”  bukan dari “objek” seperti umumnya komik Amerika.

Sedangkan manga yang akan dianalisa adalah beberapa action-adventure manga yang paling populer di Jepang selama 3 dasawarsa terakhir.

1.4   Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara mangaka-mangaka menggarap adegan-adegan action dalam Action Manga, baik itu berupa cara pengambilan sudut pandang, pengaturan adegan tiap panel, pemberian effect-background, dan lain-lain.

1.5   Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

  • Sebagai referensi untuk komikus-komikus agar tahu dan mengerti tentang bagaimana membuat komik-komik action­ yang seru.
  • Sebagai penambah wawasan tentang komik bagi para pembaca secara umum.
  • menjadi sebuah cambuk, stimulant bagi komikus-komikus Indonesia untuk dapat membuat komik-komik yang lebih baik daripada manga asal Jepang.
  • Sebagai jendela ilmu baru bagi para penggemar komik, agar ketika membaca komik tidak hanya sekedar melihat-lihat sekilas halaman demi halaman namun juga mampu untuk mengerti bagaimana komik itu dibuat.

1.6   Hipotesis

Action Comics memiliki kualitas komunikasi visual yang setara dengan Action Movies. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan (skill) yang baik dari komikusnya sendiri agar komik itu dapat seseru Action Movies. Kemudian untuk mencapai hal itu diperlukan pemahaman mengenai bagamana sebenarnya adegan-adegan action dalam action comics itu dibuat.

1.7   Metodologi Penelitian

Kajian teori yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah kajian interdisiplin dengan menggunakan beberapa teori seperti semiotika, bahasa rupa, psikologi seni, dan lain-lain. Sistem penelitian yang akan penulis lakukan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data berupa kajian dokumen/pustaka serta melakukan analisa langsung terhadap beberapa sampel Action Manga yang sudah penulis tentukan. Hasil dari analisa tiap-tiap manga kemudian akan dikomparasikan untuk mendapat hasil yang lebih universal.

1.8   Sistematika Penulisan

Penelitian ini akan dituliskan berdasarkan sistematika sebagai berikut:

BAB 1 Pendahuluan

Berisi latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, hipotesis, metodologi penelitian.

BAB 2 Definisi Action Manga

Berisi beberapa definisi tentang komik, manga, action-manga. Kemudian menjelaskan teori-teori yang akan digunakan untuk membahas action manga.

BAB 3 Unsur-Unsur Visual yang Vital dalam Action Manga

Berisi pembahasan tentang setting-background, effect-background, pengambilan angle (perspektif), tata panel, dan lain-lain.

BAB 4 Analisa Adegan-Adegan Action dalam Beberapa Action Manga

Berisi pembahasan beberapa action manga, analisa adegan-adegan actionnya, komparasi beberapa manga yang berbeda, perumusan cara-cara membuat adegan-adegan action yang baik, dan lain-lain.

BAB 5 Kesimpulan dan Saran

Berisi kesimpulan dari analisa pada bab-bab terdahulu dan saran-saran


Memori manusia cenderung mudah mengenang hal-hal yang menyenangkan. Sejumlah kenangan-kenangan bahagia yang tersimpan di memori bawah sadar akan langsung muncul ke permukaan hanya dengan trigger yang sedikit saja.
Ketika melihat gambar cover-cover DVD RPG PS2 ini, bagi penggemar RPG yang pernah memainkan gamenya mungkin akan langsung terbayang puluhan jam menyenangkan, seru, mengharukan, dll, yang dia habiskan sewaktu memainkan RPG… Bagi penggemar RPG yang belum sempat memainkan gamenya pun pasti akan merasa ingin memainkan dan juga akan terbayang puluhan jam yang nantinya akan dia habiskan untuk menyusuri cerita demi cerita, pertarungan demi pertarungan, dalam sebuah game bertajuk role-playing-game.

Karena itulah iseng-iseng berhadiah, dalam tugas studio 8 kanvas semester ini saya melukis cover-cover RPG PS 2 ini. Kurang kerjaan? Yak, begitulah… sedikit malas berpikir memang. Namun konsepnya biar sedikit tetap ada. Yaitu bermain dengan dilema high art-low art…
Memang karya saya akan lebih terlihat seperti poster, namun karena saya membuatnya di atas kanvas… bukankah itu jadi lukisan?? Hehehe, sampai saat definisi lukisan sendiri masih tetap sederhana, yaitu: cat di atas permukaan datar.

Saat ini memang tujuan saya bukan bermain konsep dan gagasan terlalu jauh, melainkan lebih ke pematangan teknik…
Bahaya bro kalau kita punya ide luar biasa namun tidak didukung oleh skill yang prima untuk merealisasikannya. Sangat mungkin ide kita diambil orang lain dan jika mereka punya skill yang jauh lebih baik dari kita, tamatlah (ide) kita!!

Namun senjata maut seniman ketika ditanyakan alasan mengapa begini-begitu oleh apresiator, dan ini biasanya dihindari oleh seniman konseptual dan intelektual, saya pakai saja:
“Karena saya memang suka! Jadi Anda mau apa?”

—————————————————————————————————————————————-
sayangnya argumen semacam ini tentu tidak bisa dilaksanakan di dunia akademis, hehehe


“Kepuasan Terbesar Bagi Seorang Komikus…”

Sekilas terbayang saat-saat pertama saya membuat komik. SMA kelas 2, seorang teman sekelas saya mengenalkan saya tentang dunia komikus. Beliau adalah orang yang saya hormati sampai sekarang dan menginspirasi saya untuk menjadi seorang komikus juga. Melihatnya membuat komik, saya jadi tertarik untuk ikut-ikutan, “Sebenarnya bagaimana sih rasanya membuat komik…”

Sepertinya teman saya ini sudah terbiasa membuat komik, sejak SMP sudah berkarya. Maka tidak sulit baginya untuk membuat suatu tema untuk komik dan mengembangkan ceritanya. Sedangkan bagi saya yang masih amat pemula tentu saja bingung ingin membuat komik seperti apa. Karena saya senang membaca komik-komik petualangan fantasi dan senang pula memainkan game-game rpg, maka saya juga ingin membuat komik seperti itu. Namun cerita yang saya buat rasanya garing dan biasa. Oleh karena itu saya merasa harus mencari tema yang menarik.

Entah dari mana ilhamnya, akhirnya saya memutuskan untuk membuat komik cerita fantasi dengan tokoh-tokohnya adalah teman-teman sekelas sendiri. Kemudian dimulailah pembuatan komik sederhana dengan kualitas gambar yang seadanya (baca: jelek) dengan hanya memakai pensil saja di lembar-lembar A4. Inti cerita komik itu adalah pertarungan dengan genre humor dari tokoh-tokoh yang ajaib:

  • ada raja culun namun sangat kuat
  • ada penyihir super sakti yang jadi pemimpin pemberontak
  • ada agamawati yang sangat pintar da menguasai white magic
  • ada tukang pos super yang bisa terbang seperti superman
  • ada petani fungky yang irrasionably strong
  • ada manusia hewan yang menjaga hutan (ini tokoh saya^^)
  • ada pemusik yang menguasai ilmu-ilmu tendangan seperti Sanji
  • ada summoner yang menyegel bermacam monster langka dalam tube-nya
  • ada valkyrie utusan langit yang mengendarai kecoak raksasa yang selalu gagal menertibkan negeri semrawut itu
  • dan banyak lagi karakter-karekter lainnya yang lucu-lucu, unik dan menarik (total 48 karakter sesuai jumlah murid di kelas)

Di luar dugaan ternyata komik saya ini cukup laris di kelas dalam arti banyak yang membacanya. Setiap hari bahkan ada teman yang selalu menanyakan “Mana halaman barunya?” Akhirnya dalam dua semester di kelas 2, saya berhasil merampungkan 2 seri komik fantasi.

  • Final Fiesta

Fiesta terakhir… hehehe, nama kelas kami 2.3 adalah Fiesta dan merupakan kelas 2.3 terakhir sebelum berganti nama menjadi XI.3, jadinya cocok, deh^^

Komik ini menceritakan tentang pemberontakan di negeri Fiesta dan perang antara Rebellion Force melawan Raja yang (ceritanya) lalim.

  • Tales of Fiesternia

Kisah penduduk Fiesta… merupakan cerita petualangan rakyat Fiesta untuk menyelamatkan gadis-gadis cantik Fiesta yang diculik Ratu Iblis

 

Saat itu saya menyadari, ternyata melihat orang-orang tersenyum membaca komik saya terasa begitu membahagiakan bagi saya. Saya rasakan kesulitan dan kelelahan untuk membuat gambar kemudian menatanya dalam panel hilang dalam sekejab dan tergantikan dengan senyum dan tawa tulus dari orang-orang yang membaca komik saya. Bahkan teman saya yang juga komikus itu pun memuji komik saya meskipun gambarnya jauh lebih bagus daripada gambar saya.

Oleh karena itu sempat terlintas di pikiran saya saat itu kalau saya ingin menjadi seorang komikus saja. Namun karena gambar saya masih jelek dan masih bersekolah, saya punya kewajiban untuk menuntaskan sekolah dulu dengan serius (meskipun pada akhirnya saya menghabiskan hari-hari saya dengan membuat komik)

Saat ini saya merenungkan,

Kepuasan terbesar seorang komikus adalah ketika komiknya dapat membuat orang yang membacanya puas. Komikus bertugas menghibur hati orang. Masa-masa SMA dulu, tidak sulit untuk merasakan hal ini mengingat konsumen saya adalah teman-teman saya sendiri.

Namun, ketika kelak nanti saya sudah menjadi seorang komikus profesonal yang karyanya diterbitkan dan memiliki pembaca di mana-mana. Akankah saya dapat meilhat wajah-wajah bahagia itu lagi dengan mudahnya? Ataukah saya akan tenggelam ke jurang ketamakan dan hanya memikirkan uang saja?

kata mutiara hari ini:

“Sepandai-pandainya tupai melompat kalau dia capek pasti akan jalan juga”

Sunsilk Hijau

November 12, 2007

  Sunsilk Hijau

Wait…wait… jangan salah sangka dulu! Saya bukan maniak atau semacamnya, saya hanya ingin me-review shampoo yang saya pakai.

Bermula dari obrolan dengan seorang teman, sebut saja Bhima 19 tahun. Sebagaimana umumnya mahasiswa seni rupa, Bhima memiliki rambut yang panjang. Bedanya rambut beliau rapi terawat. Begitu saya iseng-iseng bertanya,
“Wah, Bim… pakai shampoo apa?”
dengan bangganya beliau menjawab,
“Sunsilk Hijau, dong.”
Sejenak saya terhentak, bukankah Sunsilk hijau itu shampoo untuk wanita berjilbab? Tetapi langsung saja saya patahkan argumen itu, memangnya kita harus selalu menuruti apa kata iklan? Faktanya adalah dua hal:
teman saya memakai shampoo itu dan rambut teman saya rapi terawat…

Begini analisanya:
memang shampoo Sunsilk hijau ini diproduksi dengan sasaran perempuan berjilbab, namun esensinya adalah bagaimana sebuah shampoo dapat membuat rambut segar meskipun sehari-hari tertutup rapat oleh benda semacam jilbab. Oleh karena itu shampoo ini cocok bagi teman saya yang pengendara motor yang mengharuskannya untuk sering-sering memakai helm.
Mungkin sama halnya bagi penggemar topi. Memakai shampoo ini merupakan pemilihan yang tepat dimana rambut Anda akan tetap segar meskipun selalu mengenakan topi.

Karena waktu itu saya juga sedang hobi memakai topi, jadinya saya coba juga Sunsilk hijau itu. Memang saya rasakan rambut saya lebih enak dan nyaman ketika mengenakan topi maupun ketika melepaskannya… ada rasa-rasa segar gitu…

Akhirnya sampai sekarang saya masih menggunakan shampoo itu meskipun sudah jarang memakai topi lagi. Potongan rambut saya pun cenderung pendek. Namun yah, tak ada salahnya toh mencoba hal yang baik? Setidaknya teteh yang jadi model bungkus shampoonya lumayan cantik, jadi ada nilai plus yang lain yang bisa kita peroleh… hehehe

Iseng-Iseng Berhadiah…

November 11, 2007


Ng?
Apakah saat ini Anda sedang senggang?
Apakah saat ini Anda sedang butuh inspirasi??

Saya dapat trik mudah dari teman saya untuk mengisi waktu luang sekaligus mencari-cari inspirasi…

Pertama, kumpulkan kata-kata yang terkesan “inspiring”, kalau bisa yang bahasa Inggris (Indonesia juga tak masalah, sih) sebagai contoh:
-courage
-hope
-will
-adventure
-dll

Terus tinggal search deh di image search engine macam Google dan semacamnya.

Dan,
Anda akan (Insya Allah) mendapatkan gambar-gambar yang “inspiring”…
Silahkan coba

STALK!

November 5, 2007

STALK!

to STALK berarti to PURSUE STEALTHILY atau dalam bahasa Indonesia berarti menguntit, membuntuti; mengikuti secara diam-diam (sembunyi).

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan kata di atas mengingat semakin maraknya kriminalitas di pelbagai pelosok dewasa ini. Barangkali kita pun pernah mengalami sendiri – baik sebagai pelaku maupun korban – perisistiwa yang lazim disebut sebagai penguntitan ini.

Yah, memang penguntitan IDENTIK dengan kriminalitas jika dilihat dari kacamata masyarakat umum. Menurut mereka, secara garis besar, penguntitan itu adalah perbuatan seorang maniak, menteror seseorang, membuntutinya sampai rumah, lalu melakukan hal seperti***, dan***, juga***.

Namun ada baiknya kita tinjau dari beberapa perspektif, sebagaimana tabel di bawah ini, mengenai contoh-contoh peristiwa penguntitan dan siapa saja yang terbiasa melakukannya.

PELAKU

KORBAN

TUJUAN

· preman pasar

· ibu-ibu kaya

· mencari tahu rumah si korban agar bisa dirampok di kemudian hari

· menunggu saat yang tepat untuk menjambret; atau memperk*sa; atau melakukan hal-hal lain yang dapat terpikirkan oleh si preman

· polisi

· buronan

· bandit

· dll

· mengetahui markas besar para penjahat

· mengumpulkan bukti kejahatan

· maniak

· siapa saja

· menteror korban

· memuaskan nafsu pribadi

· melampiaskan dendam/ amarah

· iseng-iseng berbahaya

Yah, banyak profesi – entah itu legal, tak legal, baik, atau tak baik – yang menuntut seseorang untuk menguntit orang lainnya. Sebaliknya, banyak pula profesi yang mengharuskan seseorang untuk berkelit dari kuntitan orang lain. Agar Anda dapat sukses menguntit atau sukses tidak terkuntit, Anda harus memahami seluk-beluk penguntitan dan hal-hal yang terselubung di balik itu…

TRIK-TRIK MENGUNTIT

· Hilangkan hawa keberadaan (saya tidak begitu tahu gimana caranya, mungkin Anda bisa bertanya ke ahli tenaga dalam).

· Kenali korban, setiap orang memiliki naluri kewaspadaan yang berbeda-beda. Orang yang naluri kewaspadaannya kuat memiliki radius kewaspadaan yang luas.

· Berbaur dengan lingkungan, pahami teori kamuflase. Posisikan dirimu di luar jangkauan radius kewaspadaan korban. Optimalkan benda-benda sekitar untuk bersembunyi dan mengintai.

· Waspadai elemen sekeliling, kaca toko ataupun spion mobil dapat membongkar pengintaian Anda dalam sekejab.

· Selalu memposisikan diri pada sudut mati pandangan korban, jaga jarak secara konstan dan jangan terlalu jauh sehingga Anda dapat kehilangan jejak korban.

· Ubah persepsi tentang menguntit, menguntit tak selalu harus mengikuti dari belakang. Bisa saja kita mendahului korban, mengawasi dari depan, sehingga kemungkinan kehilangan jejak mengecil.

TRIK-TRIK AGAR TAK DIKUNTIT

· Tingkatkan kewaspadaan, asah naluri dan insting Anda agar dapat merasakan ‘nafas’ benda-benda sekeliling.

· Perluas sudut pandang, dengan sesekali menengok kanan-kiri sewaktu berjalan dan sesekali melirik ke belakang maka Anda sudah memperkecil sudut mati Anda.

· Latih fisik Anda! Ketika Anda yakin kalau ada seseorang yang sedang membuntuti Anda, maka cara terbaik mengatasi ini adalah dengan menghilangkan diri dari pandangan penguntit, bisa dengan berbaur ke keramaian, atau bergerak tiba-tiba (berlari) secepat mungkin menjauh dari jangkauan penguntit…

· Selanjutnya jangan ragu untuk melaporkan pada pihak yang berwenang^^

Setelah kita memahami seluk-beluk penguntitan, ada baiknya kita juga mengerti efek dari penguntitan. Yang paling menerima efek buruk tentu saja adalah korban (dalam kasus-kasus penguntitan umum). Selain memungkinkan korban untuk menderita trauma psikologis seperti rasa tak aman, susah tidur, sering mimpi buruk, dll, penguntitan juga bisa menyebabkan trauma fisik, khususnya bagi kasus penguntitan yang disertai kekerasan. Penguntitan juga bisanya terjadi secara kontinuitas, berulang-ulang. Oleh sebab itu bagi yang memang tidak memerlukan, JANGAN sekali-kali mencoba untuk menguntit orang, apalagi teman sendiri! Sebab, selian menguntit dapat menimbulkan adiksi, efek negatifnya jelas dapat merugikan orang yang dikuntit.

 

Kata mutiara hari ini:
“Semua orang mendambakan surga, tapi tak ada yang mau pergi ke sana saat ini juga.”